Review – Hereditary (2018)

4

Setting klasik dan bumbu mitologi, ditambah build-up intens cukup membuat Hereditary  komplit sebagai horor supernatural yang menjanjikan banyak hal. Termasuk adegan closing sinting yang akan selalu diingat.

Oke, kita harus sepakat bahwa Hereditary adalah serious contender untuk horor terbaik tahun ini -dan sebelum membicarakan tentang banyak hal mengenai mengapa demikian, satu faktor yang betul-betul kuat adalah nuansanya, nuansa yang diberikan dari detik paling awal hingga paling akhir -sorotan kamera yang bergerak begitu anteng terhadap objek-objek, begitu pelan, diantara miniatur-miniatur itu, atau rumah kayu yang terlihat dari luar jendela, dan tentu saja scoring dari Colin Stetson yang belum-belum sudah terasa mencekik dari awal. Itu adalah latar belakang suara yang menggaung semakin nyaring.

Ini menimbulkan perasaan yang tak nyaman dan belum-belum terkesan mengkhawatirkan bagi yang menontonnya, dan ini adalah adegan paling awal. Masih ingat latar belakang musik The Shining yang mengerikan justru dibunyikan ketika adegan awal credit dengan backdrop dataran tinggi penuh pohon dan gunung-gunung. Ya !, itu hampir sama.

Begitupun, Ari Laster sang sutradara menolak untuk mengatakan debut filmnya adalah horor. Aku cenderung setuju, mungkin horor adalah kesan kecil yang lain daripada film Hereditary, karena jika berbicara tentang kisahnya, film ini adalah Drama yang kuat, tentang keluarga yang bermasalah, atau yang tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam sebuah masalah yang mereka buat sendiri dan yang tak bisa mereka kendalikan, dan semakin memburuk dan memburuk lagi pada situasi yang tak akan pernah mereka sadari.

Mari kita preteli settingnya, yang minimalis itu. Bahwa keluarga Graham tinggal dalam sebuah rumah cukup besar ditengah hutan. Dan dunia mereka sungguh seperti sebuah isolasi, walaupun beberapa adegan menggambarkan bahwa mereka juga exist ditengah-tengah keramaian umum (misalkan pada adegan funeral atau adegan di sekolah), keluarga Graham seperti tak bisa lepas dari unsur cult yang mungkin telah mengikat mereka sejak lama.

Diawali dengan kematian sang nenek, Ellen, filmnya mulai menjuntai hubungan-hubungan yang aneh antara para karakternya yang harusnya merupakan sebuah keluarga ini. Kita mulai dari Annie (Toni Collete) sang Ibu, yang menyatakan bahwa ia telah tidak terlalu dekat dengan mendiang dan betapa terkejutnya dirinya dengan tamu-tamu funeral yang hampir seluruhnya tidak dia kenali sebagai teman-teman Ibunya. Ada Peter (Alex Wolff), anak laki-laki Annie, cucu Ellen, pendiam yang lugu kadang naif, ia tidak terlalu aware dan mungkin itu fatal. Peter memiliki hubungan yang rumit dengan Ibunya, ia tak terlalu dekat, karena suatu kejadian masa lampau yang membuat hubungan keduanya tak sama lagi. Then, kita memiiki Charlie (Milly Shapiro), karakter penting, adik Peter, dan tentu saja memiliki kepribadian yang juga aneh. Sejak kecil Charlie lebih dekat (atau terlalu dekat) dengan sang nenek, hingga-hingga ia khawatir sang Ibu tak semampu itu untuk menjaganya ketika sang nenek meninggal. Charlie memiliki kebiasaan yang tak lazim, dan semuanya mengarah pada inti misteri filmnya. Oke, jadi itulah keluarga Graham benar-benar sekretif, mereka kadang betul-betul tidak terbuka satu sama lain. Barangkali mereka adalah keluarga terburuk yang pernah ada, jika saja tak ada karakter Steve (Gabrial Byrne) sang ayah, suami dari Annie. Steve bagai kewarasan ditengah kegilaannya, dan penonton harus bersiap menaruh simpati pada karakter ini karena kesabarannya memang akan terlalu sering diuji ditengah kekacauan keluarganya.

Kematian Ellen, perlahan memukul Annie, tanpa ia sadari, ia mulai merasakan kehilangan, dan perasaan menyesal itu karena kau tak sempat dekat dengan orang tuamu. Dia frustrasi, menuju pada keadaan depresif. Hingga ia bertemu teman penenang baru yang ia temui di kelas ‘meditasi lewat berbagi’ (itu bagaimana aku menamakannya), Joan, Hereditary bergerak pada bagian penceritaan yang baru.

Here’s the thing, Hereditary adalah film tanpa maksud yang jelas diawal, ia hanya terlihat begitu mistis, dan baru ketahuan ditengah bahwa filmnya memang menyampaikan misteri yang tidak bisa kita ketahui tentang apa itu sejak awal. Annie tak paham bahwa ia dan keluarganya are into something !. Hereditary memiliki salah satu puncak adegannya di titik 1/4 filmnya, yang betul-betul merubah strukturnya. Benar, aku mengungkit tentang ‘kematian’ tak terduga itu. Mungkin adalah salah satu momen terkelam dan terbaik daripada filmnya.

Sebagai mana filmnya banyak didiskusikan, Hereditary menjelma sebagai film horor supranatural ala Rosemary Baby. Annie menjelaskan bahwa Ibunya adalah bagian dari sekte yang tak pernah ia pelajari. Sebuah film konspiratif dan penuh metafora, seperti jawara naskah terbaik tahun lalu, Get Out. Itulah alasan mengapa filmnya tampak absurd dan sulit diartikan. Beberapa adegannya hanya simbolis, kebanyakan menunjukkan kondisi yang tersirat. Paling utama adalah : miniatur yang dipahat sendiri oleh Annie sebagai profesinya, seluruhnya menunjukkan timeline kehidupannya, yang mungkin menjurus ke sebuah narasi, bahwa their life is set, being under control.

Hereditary menawarkan kengerian yang otentik, dan mereka cukup konsisten dan stabil dalam membawakan perasaan itu sejak awal. Itu adalah poinku dari awal dan kukira semuanya akan dengan mudah setuju dengan ini. The mystery starts unravei, dan semuanya menjadi jelas, ending provokatif tak terhindarkan, dan itu adalah ending yang sinting dan luar biasa dalam menyimpulkan semuanya. Namun sayangnya hal yang mengganjal memang sulit untuk diabaikan. Maksudku adalah tentang prosedur ‘pemindahan badan’ itu, yang tidak terlalu jelas. Aku akan membuka diskusi, mungkin untuk kau yang sudah melihat film ini, apakah kau juga menyadari bahwa filmnya tidak betul-betul menjelaskan mengapa sang antagonis tidak ‘melakukannya’ sejak awal, mengetahui bahwa ia cukup ‘powerful’. Kupikir memang aku yang tak terlalu teliti, namun setelah menonton filmnya dua kali, aku mantap, beberapa hal memang tak jelas, seperti banyak kejadian-kejadian di filmnya yang terjadi hanya untuk menambah kesan menggidik, namun tidak menyokong film dalam menjelaskan sesuatu tentang prosedur atau upacara. Bagi penonton yang mau berpikir secara sekuens tentang bagaimana filmnya berjalan, Hereditary kadang meninggalkan beberapa hal disana tak terjelaskan.

Intinya, mau melihat itu sebagai lubang yang besar atau kecil, Hereditary masih menanggung status horor terbaik tahun ini. Kau tidak akan pernah bisa mengabaikan keseluruhannya, sinematografi yang secara mengejutkan mampu menghipnotis lewat perubahan lambat (pada adegan pertama zoom in kamar miniatur yang beralih pada kamar asli dimana Peter tidur) hingga mendadak (pergantian langit siang ke malam pada salah satu adegan di luar rumah Graham). Dan tentu saja, dedikasi Toni Collete dalam memberikan akting worthy itu. Sempurna, ia ketakutan dan menganga, seperti yang bisa kau lihat dalam trailer filmnya. Seperti sebuah gambaran kengerian yang absolut. Apakah ia berhasil selamat ?.

 

Engineering student but movies way more than manufactures