Review – Zootopia (2016)

5

Satu-satunya yang mengecewakan perihal Zootopia adalah, jika kau tidak menontonnya di bioskop. Aku menyesal.

RE zootopia

Walt Disney kembali dengan premis awal yang cukup terdengar stereotip dan umum untuk anak-anak, Animatd feature : Zootopia mengenalkan tentang tokoh utama, Judy Hopps (suara oleh Ginnifer Goodwin) si kelinci desa yang memiliki mimpi menjadi seorang polisi yang terdengar sangat tidak mungkin bagi kelinci perempuan nan kecil seperti dirinya. Zootopia sendiri, atau mungkin merupakan maksud tersirat dari Zoo-Utopia merupakan satu tempat pada semesta dimana Hopps hidup, kota urban dimana seluruh elemennya memiliki tatanan sosial yang rapi, dan terstruktur. Ada walikota, polisi dan toko-toko, semuanya memiliki gadget, sangat human-like dan memegang teguh satu evolusi fundamental yang mungkin menyalahi hukum biologis alam, ini adalah dunia dimana predator dan prey hidup harmonis bersama.

Zootopia kurasa bekerja dengan sangat keras agar filmnya juga mengena lewat namanya, ini adalah film Walt Disney yang mungkin memiliki cakupan universe yang kompleks dan tereksplor dengan sangat baik untuk urusan film animasi tentang talking animal. Tidak seperti film-film Disney/Pixar lalu yang masih menunjukkan eksistensi manusia, Zootopia benar-benar tentang dan hanya tentang kehidupan mamalia (saja). Tapi aku tidak bisa protes, karena setiap unsur film ini dibentuk dengan kesiapan yang baik. Seluruh karakter hewan yang lengkap bak kebun binatang (kau bisa pegang ini), dan juga kemasukakalan detil tentang rasio ukuran badan antar karakter hewannya yang realistis, menawan.

Seluruh cerita tentang semua mamalia yang hidup damai telah diutarakan sejak awal lewat adegan awal Hopps kecil saat memainkan sebuah opera tentang ‘cita-cita’, yang dilanjutkan oleh orang tuanya yang agak ragu dan menganggap cita-citanya terlalu berlebihan. Karakterisasi mainstream membawa penonton untuk mengenal Hopps si kelinci yang tak putus asa, serta gigih untuk menggapai cita-citanya menjadi polisi. Lima belas tahun kemudian, ia masuk akademi kepolisian dan lulus sebagai polisi.

Lalu cerita tentang bagaimana ia sukses di akademi ternyata hanya diceritakan dalam beberapa menit di film ini !. Oke, naikkan ekspektasimu, Zootopia bukan sekedar film tentang karakter utama yang harus berjuang mati-matian serta membuktikan bahwa dirinya adalah seorang juara. Walt Disney sudah tahu formulasi cerita yang hanya mengutamakan nilai moral akan ‘gapai mimpimu’ dan ‘jangan putus asa’ sudah sangat kuno.

Hopps pamit mudik dari desa ke metropolitan tengah kota Zootopia, dimana markas besar polisi berada. Bukan sambutan yang ramah, Hopps tak jadi bahan acuhan rekan-rekan polisinya yang seluruhnya merupakan hewan ganas berbadan besar, bahkan kepala opsir yang merupakan seekor Bison bernama Chief Bogo (Idris Elba) juga tak peduli, dan menugaskannya sebagai petugas tilang parkir. Si kelinci tak bisa menolak, satu hari menjadi meter maid mempertemukannya dengan rubah penipu bernama Nick Wilde (Jason Bateman) sebagai kenalan pertamanya, tapi Hopps tak bisa meringkusnya karena seluruh aksi si rubah tidak menyalahi hukum. Permasalahan baru terjadi di markas besar ketika seekor berang-berang betina datang ke kantor polisi melaporkan bahwa suaminya hilang, namun Chief Bogo tak menggubrisnya dan mengklaim bahwa seluruh detektif kepolisian sedang sibuk. Hopps yang mengetahui hal itu merasa kasihan dan memutuskan untuk membantunya, Chief Bogo tak setuju, namun karena pihak atas sudah mengetahui bahwa kasusnya sudah disetujui untuk ditangani, Chief Bogo tak bisa berbuat apapun selain menyerahkan Hopps untuk mengambil kasus ini, dengan persetujuan ia harus menyelesaikan kasus dalam 48 jam, jika gagal, maka pemecatan. Mencoba terjun langsung ke kasus, Hopps secara tidak sengaja mengetahui bahwa si rubah licik tempo hari mungkin bisa membantunya. Dengan ancaman, Nick si rubah dengan terpaksa membantu Hopps si kelinci untuk menginvestigasi kasus ini.

Sekarang kau tahu duo sutradara Byron Howard dan Rich Moore mengubah tema film menjadi ala detektif yang disemprot perisa buddy cop oleh unlikely partnership antara rubah dan kelinci. Dan Zootopia sangat niat dalam memoles kedua karakter ini, Hopps sebagai karakter utama terdefinisi sebagai gadis cerdik, banyak tingkah, banyak akal dan tak punya takut. Lalu Nick, wow Nick adalah karakter animasi favoritku sekarang.

Ini adalah ide yang luar biasa untuk Zootopia dalam membentuk karakter Nick yang tak pernah kau temui sebelumnya, untuk ukuran tokoh yang memihak protagonis, Nick adalah rubah licik namun terkesan tidak banyak berpikir, kata-kata dan lelucon dry nya. Karakter yang punya prinsip namun jarang ambil pusing, pakaiannya mungkin lusuh namun tak disangka kalau Nick ternyata ulet dan bisa diandalkan. Jarang serius namun tak bisa dikesampingkan. Personalitas Nick Wilde the fox patut jadi perhatian di film ini.

Perjalanan Hopps dan Nick tidak mudah, satu peristiwa memberikan petunjuk untuk dan membawa keduanya pergi ke tempat yang berbeda. Setiap momennya terasa menantang dan menarik, Howard/Moore tak lupa menambahkan atmosfir komedi lewat keberadaan Nick. Setiap proses mengantar film untuk menunjukkan tempat-tempat baru dan karakter-karakter baru yang tidak kalah nyeleneh. Seperti karakter kembaran Vito Corleone dari The Godfather bernama Mr.Big yang merupakan seekor tikus tua berjas mafia dengan logat itali.

Sayangnya, cerita Zootopia mungkin tidak cocok untuk anak-anak, plot dan konfliknya berkembang darker dan serius. Pesan-pesannya juga cukup ekstrim untuk film Walt Disney, con-artist, konspirasi politik, penculikan, hingga disfungsi psikologis. Namun aku tak masalah dengan itu, aku cinta semua adegan film ini yang menurutku tak gagal untuk membuatku terhibur. Mungkin karena itu juga aku menganggap Cars 2 terlalu underrated.

Dan Zootopia mungkin adalah film animasi dengan garapan grafis terbaik yang pernah ada.

Desain tiap hewan yang kreatif, rambut-rambut telinga para hewan yang luar biasa mendetil, ditambah efek air dan perubahan ekspresi setiap raut muka karakternya yang luar biasa hidup. Sebenarnya kau bisa mengagumi Zootopia hanya dengan memperhatikan dan melakukan observasi-observasi terhadap hal-hal kecil seperti kreasi tata kota, serta adegan numpang lewat yang sebenarnya terkesan pintar seperti ketika kawanan kambing yang menghindari landak ketika menyebrang jalan, Nick yang menjual stik eskrim pada kawanan tikus sebagai bahan bangunan, atau saat Hopps mengejar pencuri yang masuk ke Little Rodentia, miniatur kota kecil khusus hamster dan tikus. Semua ini luar biasa. A majestic eye pleasure.

Jika kau mau mmperhatikan lagi, Zootopia juga menawarkan puns kecil jika saja kau melihat playlist Hopps saat ia mendengarkan musik di Kereta, Fur Fighters dan Hyena Gomez, seriously ?, atau ketika ada berang-berang yang menjual kaset film berjudul Pig Hero 6 dan Wreck-it Rhino ?, atau ada pula ketika Chief Bogo membuka speech dengan kata ‘Ladies and Gentlemammals’ !. Dan siapa sangka Finnick si rubah kecil teman Nick memiliki suara yang besar dan garang. Wow, it’s smartly terrific guys.

Dari produser yang pernah membawamu merasakan, Frozen, Wreck-it Ralph, hingga Inside Out, Zootopia adalah favoritku dari semuanya. Baru kali ini kau tidak dibiarkan beristirahat karena setiap momen di Zootopia selalu menarik dan worth-looking. Ditambah juga duo Nick dan Hopps yang menurutku merefleksikan partnership yang sempurna dan tidak dilebih-lebihkan. They’re like perfect combination. Tentu saja ini lima bintang.