Review – Yowis Ben (2018)

1

Marketing bahasa diatas konten cerita. Yowis Ben sama sekali tidak menginspirasi dan makin lama makin kau benci.

Logika film Yowis Ben semrawut tak keruan. Rapi-rapi dibawakan dengan nuansa komedi di awal, semakin ke belakang, filmnya hancur lebur oleh cerita drama yang coba diangkatnya sendiri. Aku jarang sekali mengikuti perkembangan aspek cerita film-film Indonesia, namun jika mayoritasnya seperti ini, maka jelas sekali bahwa kualitas dan masa depan film Indonesia tidak akan pergi kemana-mana.

Lebih mengherankannya, film ini meledak. Gara-gara bahasa Jawa mungkin, dan katanya. Kalau memang demikian alasannya maka kubilang Bayu Skak adalah oportunis yang setengah setengah, dan seluruhnya yang mengagumi cerita ini sukses ia jebak dengan “Bahasa Jawa”.

Sebagai orang Jawa-pun, I clearly can’t relate this. Plot cerita film ini sungguh berantakan. Segmentasi pasar penonton adalah strategi yang bagus, namun menurutku semuanya terkesan licik. Para pembuat film ini seperti menelantarkan hal penting lain: Ya, Cerita !

Language over story; dan ini entah mengapa berhasil. Sesungguhnya, aku mengecewakan itu terjadi.

Aku tak mau repot menuliskan sinopsisnya secara rinci, kau bisa langsung menebaknya. Semua klise, semuanya cheesy. Tanpa ada apapun yang dikembangkan. Kerangka ceritanya tak lebih baik dari film-film remaja Thailand yang sudah ada sejak mungkin hampir satu dekade yang lalu, atau mungkin levelnya berada disana untuk mengimbangi kualitas FTV.

Komplotan anak SMA, merumuskan band untuk memikat gadis tercantik di sekolahan. Itu adalah karakter Bayu (Bayu Skak), yang hidupnya di-support betul oleh sang Ibu dengan diam diam memasukkan uang satu juta yang jelas-jelas tak sedikit untuk anaknya bisa membeli kamera yang nantinya sama sekali tak diceritakan. Ini adalah kisahnya yang mendadak viral dan mendadak gagal tanpa proses yang jelas.

Filmnya terlalu pusing dengan romansa tak rasional antara dirinya dan Susan (Cut Meyriska); hubungan mereka putus-nyammbung secara tak wajar. Karakter Susan satu ini luar biasa posesif dan berhati iblis. “Kamu pilih band-mu atau aku ?”. Seriously, after this long of the movie ?. Dan naifnya, hingga akhir film, Bayu tak merasa sama sekali bahwa Susan, mungkin adalah salah satu karakter psikopatik dalam sejarah perfilman yang pernah kusaksikan.

Film yang terkesan bangga ketika karakternya melontarkan kata “Jancok” ini mungkin memiliki komedi dan musikal yang tidak buruk, tapi aku kuatir hal-hal itupun tak sanggup untuk menutupi lemahnya film ini.

Sekarangpun aku agak terkejut, mengetahui bahwa beberapa waktu setelah filmnya melejit, netizen mengomentari ketidak-universalan bahasa yang digunakan dimana pada waktu yang sama, plot ceritanya adalah sasaran empuk untuk diserang.

Bayu Skak membanggakan karya-nya satu ini; narasinya yang sudah-sudah seperti menunjukkan bahwa filmnya adalah filmnya orang jawa. Terobosan baru, kehidupan remaja yang penuh liku tidak harus selalu berlatar belakang kota besar Jakarta. Oke, itu boleh. Tapi jika ia bilang ini patut dibanggakan, aku memilih untuk jauh dan harus berkata belum dari kata sepakat.

Film ini digarap oleh content creator yang lumayan eksentrik dan terkenal. Mengetahui filmnya berjalan seperti demikian rasanya benar-benar kecewa. Aku terus terang sangat membenci bagaimana ia mengantarkan film ini. Semuanya harusnya bisa lebih baik.