Review – Yellow Submarine (1968)

Untukmu, mungkin Yellow Submarine hanya sebatas movie-feature band The Beatles untuk alasan komersial, tapi nyatanya lompatan yang dihasilkan film ini berkalilipat jauhnya.

The Beatles akan selalu dikenang, tak terhitung bagaimana musiknya telah mempengaruhi hidup banyak orang, lagunya selalu berkelas dengan caranya sendiri. The Beatles menjadi idola semua umur namun tentu saja ada beberapa telinga yang tidak cocok dengan lagu-lagu mereka, namun bagaimana jika mereka membuat suatu film feature fiksi tentang diri mereka sendiri, apakah masih ada mata yang tidak cocok dengan film mereka, untuk kasus ini aku meragukannya.

Terus terang, aku adalah Beatlemania atau fan The Beatles, tapi ulasan baik tentang film ini tidak lahir dari hal tersebut, tidak sekonyol itu, sebaliknya Yellow Submarine adalah alasan mengapa aku jatuh cinta pada band Liverpool ini.

Beatles merampungkan ketiga film-featurenya pada tahun 60-an, A Hard Day’s Night (1964), Help ! (1965) dan Yellow Submarine (1968), ketiganya menggandengi setiap album dari diskografi Beatles dan mengkutip lagu-lagunya dalam film, ketiganya memang jatuh sebagai film musikal (tentu saja) akan tetapi apa yang dibawa ketiga film tersebut sama sekali berbeda bahkan secara teknis pembuatan, aku akan bahas ketiganya kapan-kapan. Dan Yellow Submarine datang terakhir dengan perbedaan signifikan, ia adalah animated movie, presentasi bagi Beatlemania, bahkan sangat enjoyable bagi semua umur, tapi sisi seni film inilah yang sebenarnya jadi alasan mengapa Yellow Submarine merupakan kenangan penting bagi dunia film.

Dibuka dengan narasi pendahuluan yang begitu catchy dan kalem, kita dibawa ke Pepperland, dimana kehidupan begitu sejahtera sampai kawanan Blue Meanies melumpuhkan seantero Pepperland, pahlawan kita disini adalah Old Fred, ia tahu Blue Meanies tidak tahan terhadap musik dan dia adalah satu-satunya yang masih bertahan oleh amukan Blue Meanies, dengan kapal selam kuning ia terbang kearah bantuan. Dari sini saja, kau bisa tahu bahwa film ini akan membawamu ke kegilaan yang menyenangkan.

Dilanjutkan dengan opening credit dengan lagu utama “Yellow Submarine”, kau akan ditenggelamkan George Dunning sang sutradara ke dunia fantasy yang tidak akan kau temukan di film animasi lain, sejenak seperti mengupas arti lirik lagu tersebut lewat visual yang diberikan, ‘lived a man who sailed the sea’ ataupun kata-kata seperti ‘sea of green’ yang akan terdengar nonsense jika menyetel lagunya dengan tidak dibarengi dengan menonton film ini.

Kemudian kau dibawa ke tempat berbeda, namun mungkin lebih aneh, begitu senyap hingga kau sadar bahwa Yellow Submarine mencoba memberikan kesan surreal, lagu selanjutnya “Eleanor Rigby” mengantarmu lebih dekat dan masuk kedalam latar film, rasanya seperti kau ditarik, apakah itu Inggris ?, mungkin tidak, mungkin iya, tapi yang  jelas disini Old Fred akan bertemu bantuannya, keempat lakon utama, Lennon, McCartney, Harrison dan Ringgo, dengan versi kartun mereka mengentalkan aura komedi Dry Brittish lewat line-line yang akan membuatmu, setidaknya meringis, pretty effective, tidak ada film komedi yang begitu powerful tanpa aksi-aksi jenaka, namun Yellow Submarine mampu menjawabnya, hanya dengan line-line yang begitu polos dan kadang-kadang terasa surprisingly smart and make sense, tidak ada kata-kata kasar, tidak mencoba sensitif apalagi emosional.

Yellow Submarine bagai menyanyikan naratif yang begitu tidak masuk akal, tapi sangat sehat. Aneh namun menarik, Dan lewat 12 lagu yang terpasang, Ringgo cs menenggelamkanmu lebih dalam lagi. Setiap lagu mempunyai corak berbeda dan justru membuat lebih jatuh cinta. Eits, tapi sebelum lebih jauh, aku peringatkan padamu ini bukanlah film yang menawarkan kewarasan, atau halusnya jangan berikan ini untuk anakmu yang membutuhkan referensi belajar menggambar. Dunia aneh yang diselami Ringgo cs dipenuhi karya seni abstrak, mulai dari background tempat, ada sea of time, sea of holes, land of heads, seperti ditelantarkan ke mosaik yang tak terbatas hingga creatures-creatures yang ada didalamnya, monster dengan tubuh yang sama sekali tidak mempunyai bentuk wajar, anatomi yang tidak waras, sepintas mengingatkanku akan gambar-gambar taman kanak-kanak.

Tapi itu bukan hal yang buruk, itu adalah kekuatan utama film ini, visual Yellow Submarines tidak pernah melelahkan mata, kartunnya sangat khas, begitu colorful dan nyeleneh, setiap frame-nya gila dan tidak terkomparasi, weird dan terasa magical, aku sudah menuliskannya tadi, tapi sekali lagi, Yellow Submarine adalah dunia fantasy tergila yang tidak akan pernah kau temui dimanapun.

Selesai sudah, mungkin saatnya kita berbicara tentang sisi musikalnya, Yellow Submarine adalah, yah boleh kau bilang ia juga diciptakan dalam rangka promosi album Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band yang mungkin cover albumnya bisa membuatmu membayangkan versi live-action film ini, dilengkapi dengan lagu-lagu nikmat dan satir, Yellow Submarine menggandengmu, mendengarkan beberapa lagu diantaranya dengan klip suguhan yang begitu exciting dan seperti membantu membuatmu mencintai lagunya. “All Together Now” dan “Nowhere Man” menunjukkan bahwa Beatles bisa menghibur lewat lagu-lagu bersajak, “When I’m Sixty-Four” akan mengajarimu berhitung. Dan beberapa sisanya adalah lagu-lagu psychedelic yang akan menyekapmu kedalam dunia alam kesadaran yang begitu hallucinating dan mendamaikan, namun aku lebih setuju terhadap definisi kedua. Jika kau seorang penggemar Beatles kau akan tahu bahwa banyak daripada lagu mereka adalah lagu psychedelic, “Strawberry Fields Forever” contohnya, kau bisa menikmati “Only A Northern Song” dan “It’s All To Much” disini, tapi “Lucy In The Sky With DIamonds”-lah yang akan mencurimu, menceburkan ke nuansa psychedelic dengan bumbu visual a la lukisan water-paint, begitu indah dan menenangkan, mungkin bagiku, scene terbaik dan meditasi mind-escapism yang mahal.

Terlalu banyak, jika kau menginginkan verdict yang singkat, Yellow Submarine adalah one of the best animated, musical, comedy, fantasy movie yang penuh dengan kebahagiaan dan ketenangan, satu-satunya, mungkin, ketidakmasukakalan yang akan selalu dikenang dan dicintai. Film ini mengajakmu melihat bagaimana jika isi pikiran yang penuh akan imajinasi tergila, tertuang dalam sebuah moving pictures.

5

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick