Review – Wonder Woman (2017)

2.5

Memang  Gal Gadot begitu memukau, namun apakah filmnya -secara keseluruhan, juga demikian ?

re wonder

Hal yang paling aneh dari film Wonder Woman adalah saat dimana sang Wonder Woman dengan gigih berani keluar dari persembunyian bunker perang Amerika, ia melepas jubahnya dan berlari berteriak kearah sekawanan Nazi, sendirian dan penuh semangat. Menggelikan, dari semuanya tak ada yang lebih sok heroik daripada adegan ini, kubilang aneh karena scene itu pula menjadi scene yang paling disukai orang-orang. Well kontradiksi aneh, tapi aku tetap pada poinku. Untukku Gal Gadot bagaikan supermodel yang sedang melakukan fashion show ditengah gersang dan hitamnya medan perang pada saat itu. Bahkan dirinya tak pernah kelihatan kotor sekalipun, sedikitpun.

Semenjak era Nolan berakhir 5 tahun lalu, DC Comics mulai produktif dalam menghidupkan karakter-karakter miliknya dalam sesembahan live action, tapi sepertinya hanya Wonder Woman yang akhirnya bisa mendapatkan kritikan positif. Untukku, ini adalah Man of Steel 2.0, jika dibilang Man of Steel film yang buruk, maka sama halnya film ini. Jika film ini dibilang bagus, maka sebagus itu pula Man of Steel. Dariku satu hal, Wonder Woman singkatnya, sama saja halnya film superhero klasik rata-rata. Komplet dengan bumbu falling-and-rising yang kentara.

Cerita origin tentang dua universe dengan porsi suguhan masing-masing, yang seimbang, dan pada terpadukan di tengah walaupun kedua universe-nya sama sekali divergen. Seperti yang kubilang, kau sudah mendapatkannya di Man of Steel. Kecuali, jika Clark Kent berasal dari planet lain yang singgah ke Bumi, Wonder Woman menarasikan suatu proses magis dimana sebuah portal tercipta dan menghubungkan dunia di Bumi pada tahun 1918 dengan island of Themyscira dimana ras Amazon tinggal. Kebetulan tak dijelaskan sama sekali bagaimana bisa demikian pula. Duh.

Lalu bagaimana Wonder Woman bisa menggeser pamor film sejenisnya, well jika storyline-nya tak terlalu wah, maka alasannya (dimana sepertinya semua juga beranggapan sama) adalah Gal Gadot yang memberikan aksi dan pembawaan karakter Diana-nya yang luar biasa solid dan memukau. Gadot menjalankan fungsinya sebagai gadis yang mengalami (katakanlah) cultural shock ala manusia prasejarah, gagap teknologi, tidak tahu cara berpakaian ala wanita, dan tidak menahu soal manner ketika seorang laki-laki bernama Steve Trevor (Chris Pine) membawanya untuk bermigrasi ke dunia Bumi untuk membantu meredakan perang dunia 1 yang terus menerus dikatakan Diana sebagai ‘perbuatan Ares’, sang dewa kejahatan, begitulah (Diana membawa iman terhadap dewa-dewa dalam pembicaraannya dengan orang-orang Amerika, ini juga bagian yang lucu). Setidaknya humornya efektif, seperti gadis desa saja, Gadot memoles filmnya untuk tidak terlalu kaku-kaku amat seperti dua film terakhir DC, Man of Steel dan Dawn of Justice.

Sutradara perempuan Patty Jenkins memang memegang kuat supremasi terhadap kaum wanita dalam film yang ia nahkodai, setelah meledakkan nama Charlize Theron dalam award-winning movie Monster (2003), Gadot dibimbingnya dengan teramat disiplin, menaikkan namanya sebagai rookie di dalam jajaran para aktris. Diana / Wonder Woman tampil sangat feminim, dewasa, sempat linglung, tetapi memiliki tekad yang sungguh kuat dan kukuh. Semua itu disamping hal yang mungkin hanya satu-satunya yang diingat penonton (khususnya laki-laki), yakni pesona parasnya.

Jujur, aku mulai khawatir bahwa sebenarnya sutradara-sutradara yang menangani film live action DC Comics merasa kesulitan dalam menghidupkan garis cerita tokoh-tokoh yang mereka angkat. Selalu Demi-God dan Superhuman, memaksa harus ada perang kekuatan yang dahsyat, kekuatan supranatural yang chaotic. Ditengah-tengah kondisi perang yang dibuat serealistis mungkin, tiba-tiba Wonder Woman bertarung dengan seorang Dewa, mengadu kekuatan super yang terlalu fantasi dan animatif. Kesannya kontras dan malah norak. Aku khawatir bahwa DC Comics sebenarnya, memaksakan karakter komiknya untuk dikisahkan secara non-animasi.

Ah lagipula hal itu sepertinya sudah jadi sangat wajar sejak Dawn of Justice atau Suicide Squad, bahkan kelihatannya Wonder Woman masih mampu menahan diri untuk tidak terlalu memamerkan porsi fantasinya. Patty Jenkins memiliki konsentrasi khusus daripada showoff CGI, ia menyiapkan bagaimana Diana lebih hidup sebagai karakter utama, sebagai seorang humanis yang memiliki hati dan sangat empatetik. Namun, sayang sekali, Jenkins kelewat overdramatic dalam mempromosikan jiwa sosial Diana yang terlalu sering dan seolah-olah dunia begitu bobrok dan dia adalah orang paling waras untuk urusan nurani. Diana yang mengamuk melihat kepengecutan seorang pimpinan militer, hingga adegan dia miris melihat prajurit-prajurit terluka parah, tentu saja dengan efek slow-motion agar kau juga ikut trenyuh. Akibatnya, bagi penonton sepertiku yang sudi meneliti, semuanya bagai ironi. Diana tak ingin ada yang terluka dan mati sia-sia, tak sadar bahwa pada saat yang bersamaan ia juga ikut meledakkan bunker-bunker Nazi di medan perang. Ingat ketika para kritikus menyerang film Man of Steel karena Kal-El justu membumi-hanguskan Metropolis ketika ia bertarung melawan General Zod. Wonder Woman melakukan hal yang sama, hanya skalanya lebih kecil. Oke, membangun citra main character dengan rasa kepedulian adalah perlu, tapi bukan untuk fokusan utama yang terlalu.

Dengan durasi 2 jam 21 menit, kupastikan bahwa Wonder Woman menyuguhkan tontonan yang hanya bisa membuatmu mengenal dan mempelajari siapakah dirinya, alih-alih cerita berkonflik kuat dan resolusi yang memuaskan. Ah, bahkan sepertinya filmnya sendiri kurang penting kecuali adegan pertama dan paling terakhirnya yang hanya membuatmu kegirangan menyambut Justice League akhir tahun ini. Pada akhirnya ini hanyalah kisah ambisius tentang seorang very strong and anti-aging woman yang mana filmnya ditutup dengan konklusi klasik seperti yang sudah kusampaikan, duel megah antara Wonder Woman dengan Dewa Ares yang muncul lewat character-twist yang bikin illfeel layaknya ketika kau tahu bahwa Adam Driver adalah Kylo Ren di The Force Awakens.

re 2.5

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick