Review – Wind River (2017)

4.5

Wind River menceritakan sebuah tempat dengan nama yang sama. Dan lewat kisah fiksi a la Taylor Sheridan, ia membuka mata dengan mengantarkan pesan tentang ketidakadilan tak terungkap.

” Well, you know, luck don’t live out here. Luck lives in the city. Don’t live out here.
Luck is winning or losing. Out here, you survive or you surrender. Period.
That’s determined by your strength and by your spirit.
Wolves don’t kill unlucky deer.They kill the weak ones.”

Itulah yang dikatakan oleh Cory Lambert (Jeremy Renner) mengenai tempat tinggalnya, tanah yang ia cintai bersama keluarga-keluarga Native American yang bertahan di Wind River Indian Reservation di Wyoming, teritori yang tertutup salju pekat dan tempat dimana badai bisa tiba-tiba datang untuk pergi pula dengan sekonyong-konyong.

Taylor Sheridan kembali lagi dengan pengkisahan yang kian mendeskripsikan khas daripadanya, smart-writting akan intriguing crime. Begitu menyerupai naskahnya di Sicario (disutradarai Denis Villanueve) dan Hell or High Water (David Mackenzie), namun kali ini, filmnya ditangani sendiri. Masih bercerita tentang kehidupan yang konservatif berbau kebaratan, Wind River adalah Neo-Western, menggambarkan kisah di tanah yang tak padat penduduk yang tak luput dari kriminalitas, tanah dimana kadang hidup tak adil bagi sebagian. Cory akan mendengar bahwa mau tinggal dan bertahan di sudut Wyoming sana patut dipertanyakan, namun baginya salju-salju yang dingin dan kesunyian-kesunyian itu, adalah warisan yang tetap bertahan, belum terenggut.

Tentang Cory, ia adalah bekerja untuk Wildlife Service, mengkokang senapannya dan menembak predator-predator yang menjadi momok bagi hewan-hewan ternak milik orang-orang lingkungannya. Pada siang yang dingin, ia mendapati seorang gadis meninggal membeku ditengah salju ketika ia dalam perjalanan beberapa kilo untuk menghabisi sebuah macan yang sebelumnya telah memangsa salah satu sapi milik ayah mantan istrinya (walaupun sudah bercerai, ia tetap memiliki hubungan layaknya keluarga dengan orang tua istrinya). Setelah dilaporkan, federal mengirim seorang agen FBI, wanita bernama Jane Banner (Elizabeth Olson) yang memiliki tekad dalam sebuah kasus yang ia yakini sebagai pembunuhan. Mengetahui bahwa Cory mungkin akan membantu banyak, ia meminta bantuan pria paruh baya itu untuk melakukan investigasi terhadap kematian Natalie, sang korban. Mereka berusaha keras, mencari tahu tentang jejak-jejak kaki yang tersisa di sekitar TKP yang menegaskan bahwa Natalie sempat berlari sebelum takluk oleh dinginnya alam, namun ia berada 6 kilometer dari pemukiman terdekat. Pertanyaannya, bagaimana bisa ?.

Kematian Natalie adalah konflik yang memicu nuansa misteri Wind River, akan tetapi filmnya tidak dikemudikan menjadi mystery-thriller a la detektif secara total, proses investigasi korban dan pelacakan pelaku dilakukan lewat Cory dan Jane dengan mengunjungi kerabat keluarga dan berjalan begitu emosional dan depresif. Wind River adalah drama memilukan dan cenderung melakukan pendekatan terhadap refleksi nilai-nilai humanis daripada penegasan akan negativitas kriminalitas. Saat mencari petunjuk berjalan begitu alot, Taylor Sheridan melakukan pendalaman dalam pengkisahan sudut pandang keluarga korban, betapa duka sangat memukul, dan apa yang harus kau lakukan dengan batinmu ketika mengetahui putrimu meninggal. Sheridan perlahan menguraikan bahwa sang protagonis utama, juga memiliki kenangan kelam yang hampir mirip, bahwa ia juga pernah mengalami situasi yang sama, kehilangan putrinya. Eksplorasi hubungan Cory dan Martin (ayah Natailie, diperankan oleh Gil Birmingham) adalah satu hal, ia berjalan bagaikan meditasi, tentang bagaimana mereka melamun satu sama lain dan membicarakan tentang kepiluan mereka, menyalahkan kecerobohan masing-masing dan bagaimana berdamai dengan itu.

 Karakterisasi singular dipertunjukkan oleh Jeremy Renner sebagai main man yang ideal, Cory bagaikan orang yang bisa mengatasi situasi buruk dan kita dapat mengandalkannya. Ia bagaikan Lee Chandler di Manchester By The Sea dengan kepribadian yang jauh lebih stabil dan jauh bijaksana. Jane juga mendapatkan spotlight disini, profesi membuatnya naif, orang-orang meragukan kredibilitasnya, namun Cory membantunya. Lewat kasus ini, ia belajar bahwa ia mendapati bahwa permasalahan yang ada bukan hanya tentang kejahatan yang terjadi, tetapi ada konflik emosi yang memaksanya menggunakan perasaannya dan berempati pada banyak hal. Kasus ini membuat dia belajar banyak, semua hal tentang kawasan Wind River dan tentang korban. Ini yang membuat naskah Sheridan spesial, filmnya banyak menceritakan tentang sang korban, bagaimana dia semasa masih hidup dan cerita-cerita tentang kenangannya yang dijelaskan lewat mulut-mulut karakter yang ada. Natalie adalah gadis dengan semangat juang yang besar, hati yang jernih dan mandiri. Tanpa sadar, Sheridan telah membuat kita semua sebagai penonton juga merasa betul-betul kehilangan.

Secara struktural, Wind River bagaikan words of wisdom dengan latar belakang kisah yang brutal nan keji serta penuh pilu, tapi Sheridan mencoba mengarahkannya kemanusiaan yang tersisa. Slow but timeless, dibangun dengan tense apik dan memuncak pada adegan-adegan partikular. It is masterpiece once again, Wind River berhasil mencengkeramku dengan kuat. Sembari sekali lagi naskahnya kental dengan unsur penebusan yang mahal tentang nyawa, filmnya juga berhasil mengantarkan pesan krusialnya tentang kritik sosial akan ketidakadilan yang masih dirasakan oleh orang-orang Indian Amerika.