Review – Where The Wild Things Are (2009)

2.5

Kisah permisalan a la Spike Jonze yang menawarkan perjalanan fantasi antah berantah ini memiliki komposisi karakter yang tematik eksentrik, namun tak ada yang istimewa dari emosinya.

Spike Jonze berbicara tentang cerita kanak-kanak tahun 1963 dengan judul yang sama dan ia adaptasi, mengenai dunia fantasi dan analogi permisalan kehidupan seorang anak kecil. Walaupun oleh sebagian orang Jonze disebut sangat teliti dalam menggambarkan insight dan sisi sentimentil bocah laki-laki dua-belas-tahun yang begitu labil dan egois dengan begitu akurat, aku tetap merasa emosi yang ditawarkan film ini tidak spesial.

Kita akan mengikuti kisah Max (Max Records) yang menangis karena sang kakak membiarkannya begitu saja ketika teman-temannya mengerjainya, dan ia kesal dengan sang Ibu yang tidak mau sepanjang waktu memperhatikan keinginannya. Kesimpulannya jelas, Max merasa kehidupan orang dewasa memekikkannya, tak ada yang mawas dengan keinginannya. Max lari, mengarungi samudra, ke pulau antah berantah, disana ia akan memulai hidup dengan suasana dan urusan-urusan yang ia inginkan.

Jadi apakah Max benar-benar membawa perahu kecil sambil menengahi badai itu sendirian ?. Well, filmnya tak terlalu menjelaskan, tapi gerak-gerik Jonze menunjukkan bahwa ia membawakan itu semua sebagai penggambaran angan-angan kanak kecil semata. Max bertemu makhluk-makhluk besar, beberapa dari mereka adalah kaka tua dan domba, satu yang paling ia favoritkan adalah kreatur tak jelas, Carol namanya. Max mulai mengatakan bahwa dia adalah raja dari masa lampau, dan seluruh aktivitas mulai sekarang harus seperti kehendaknya. Berlonjak-lonjak, melolong dan saling melemparkan diri dengan gaya yang lumayan merobohkan. Sesekali Max diajak ke bagian yang lain daripada pulau itu yang merupakan padang pasir.

Entah bagaimana caranya, Max seperti hidup secara nyata di dunia yang seperti mimpi bagi siapapun.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, peristiwa yang ada di film ini adalah suatu permisalan. Dari sana Max belajar, tidak terlalu banyak tentang bertindak, namun bagaimana mengambil sikap. Kreatur-kreatur itu adalah anak-anak kecil Max sebagaimana Max anak kecil bagi ibunya. Walaupun tidak secara langsung terlihat, namun pesan itu mulai mengena ketika filmnya berakhir. Tinggal sebagai keluarga dimana kau dicintai beberapa anggota namun dibenci oleh yang lain, walaupun dirimu sendiri juga tak keberatan sebenarnya, tapi apakah itu cukup ?.

Where The Wild Things Are adalah film yang tak mencoba membuatmu iba atau tampil overdramatis, dialog-dialognya kadang-kadang benar-benar nyelekit dengan humor diantara makhluk-makhluk itu yang seringkali berselisih terhadap hal yang betul-betul sepele, namun selalu mendambakan keharmonisan.

Satu lagi, effort produksi yang luar biasa omong-omong dengan membuat Carol dan kawan-kawan benar-benar hidup secara visual  tanpa dieksekusi oleh CGI dan menggugah untuk menikmati.