Review – Watchmen (2009)

4

Watchmen memikat dengan tematik yang tidak biasa dibandingkan film sejenis. Disamping kental politik, juga menarik dalam menunjukkan kompleksitas moral para superheronya.

Pernah diragukan bahwa 12 seri komiknya cukup mustahil digarap dalam live action film, Zack Snyder menunjukkan bahwa dia mampu. Hasilnya adalah tiga-setengah-jam sajian kisah multi-karakter superhero yang gelap, kejam, dilematis adaptasi komik grafis Alan Moore dan Dave Gibbons, sebuah neo-noir dengan tajuk Watchmen.

Bercerita di tahun 1985, eks-pahlawan bertopeng yang menolak untuk pensiun, si kejam-untuk-keadilan Rorscach (Walter Kovacs tanpa topeng, peran oleh Jackie Earle Haley) menyelidiki kematian rekannya, The Comedian yang ia rasa merupakan pembunuhan dengan motif yang perlu diusut. Rorshach merasa membutuhkan bantuan, ia menghubungi para mantan rekan yang dulu tergabung dalam regu pahlawan bertopeng dengan nama Watchmen, yang kebetulan sudah bubaran 8 tahun lalu akibat pemerintah telah melarang vigilantes, alias pahlawan bertopeng dan menggantikan mereka dengan eksistensi polisi reguler yang masal.

Rorshach menemui Daniel Dreiberg (atau Nite Owl II dalam jubah, peran oleh Patrick Wilson) dan Dr. Manhattan (peran oleh, Billy Crudup), namun tak berakhir mulus. Daniel merasa Rorscach terlalu paranoid dengan penjelasannya bahwa pembunuhan Comedian adalah awal dari perburuan eks-vigilante oleh oknum, sedangkan Dr.Manhattan sama sekali tak tertarik dan ingin fokus dengan projek yang ia kerjakan. Projek yang kebetulan mengantarkan kita pada pencetusnya, ialah Adrian Veidt (atau Ozymandias dalam jubah, peran oleh Matthew Goode), yang mengklaim bahwa apa yang ia siapkan akan mencegah perang nuklir perang dingin Amerika dan Rusia yang pada saat itu, sudah diambang tak terhindarkan bakal terjadi.

Ozymandias dulu juga merupakan bagian dari Watchmen, pun Laurie Jupiter (Silk Spectre II dalam topeng, peran oleh Malin Akerman) yang sosoknya juga disorot dan didalami secara personal di film ini.

See, Watchmen bukanlah tipikal film superhero yang banyak diekspektasikan orang. Tidak ada narasi harapan disini. Tidak ada yang sepakat dengan Rorscach dengan ide menjemput keadilan di jalanan dan memakai topeng lagi. Pesimis sekali bukan?.

Dan benar, Rorscach tampak tampil sebagai tokoh utama disini (walaupun porsi karakter lain juga cukup vokal), dan ia tampak paling berniat mencari keadilan dan berkehendak tidak akan berkompromi mengenai itu bagaimanapun. Namun apakah itu membuat penontonnya berada dipihaknya?, well tidak juga, dan eksplorasi terhadap kelemahan yang ada di tiap-tiap karakternya menjadi alasan.

Di Watchmen, termasuk Rorscach, semuanya memiliki sisi yang akan membuat penonton kecewa bagi yang berpikir mereka cukup keren sebagai role model. Mereka rentan dalam beberapa aspek nurani. Rorscach mencari keadilan dengan kebengisan, bilangnya tak berkompromi tapi subjektif, Nite Owl masih dibayangi ketakutan dan ketidakpercayaan diri, Ozymandias cukup cerdas namun mengarahkan itu pada keegoisan yang celaka dan konspirasi, dan Dr. Manhattan, sebagai satu-satunya pahlawan dengan kekuatan menyerupai Tuhan, memilih meninggalkan Bumi ketika Amerika membutuhkannya untuk berbuat lebih.

Watchmen meletakkan ambiguitas branding para karakternya, apakah hero, vilain, anti-hero, atau anti-vilain. Jika dianalisa, menurutku pencerminan ego mereka tak akan cukup untuk mewakili salah satunya. Watchmen seperti menawarkan, silahkan pilih standar moralitasmu, dan kau harus menerima bahwa ia juga memiliki kebusukan.

Pantas atau tidak film ini disebut sebagai film superhero-pun, aku selalu menganggap eksistensi karakter-karakter dan universe ini menarik. Mereka tidak seperti film pahlawan dengan alur konvensional dimana pada akhirnya sang pahlawan mampu bangkit dan mengalahkan kelemahan/ketakutannya untuk menang. Di film ini, mereka tidak mengalahkannya, hingga akhir-pun mereka akan hidup dengan itu, membawa egonya dalam kekalahan atau kemenangan.

Cukup berbicara mengenai kompleksitas moral, Watchmen juga menarik dikaji dalam setting-nya. Dicerita milik Moore dan Gibbons ini menggambarkan alternate reality dimana atas bantuan Dr. Manhattan, Amerika berhasil memenangkan perang di Vietnam dan Richard Nixon terpilih menjadi Presiden hingga beberapa kali. Comedian telah lama menjadi agen kotor pemerintah dan berhasil membuat kasus Watergate (kasus dimana di kenyataan membuat Nixon lengser) tidak pernah terungkap. Di setting ini, pahlawan bertopeng dulunya berjaya, bahkan sebelum Watchmen yang naik daun di 60-an, ada kelompok pahlawan pertama bernama Minutemen di tahun 40-an yang beberapa potongannya muncul di film ini.

Moore dan Gibbons berkreasi dan berimajinasi, ini adalah bentuk dekonstruksi sejarah politik. Mereka mencoba membayangkan jika kekuatan besar disalahgunakan dalam dunia realistis. Puncaknya adalah munculnya doomsday clock, kiasan yang digunakan untuk menggambarkan kondisi di tahun 85 ini, yang sebelumnya telah kujelaskan, bahwa dunia sedang menghadapi detik-detik perang dunia ketiga Amerika-Rusia.

Membawa alkisah ini dalam film sudah cukup mewakili sebuah tantangan, so decent efforts oleh Zack Snyder. Walaupun yah, sepertinya filmnya terasa tekstual banget dari komiknya bahkan untuk dialog-dialog yang sepele. Snyder belum cukup kreatif untuk menarasikan dan mengemas cerita tak linier Watchmen sehingga penonton awam tak cukup kesulitan untuk memproses filmnya. Yah memang, Watchmen punya background semesta yang njelimet dan kaya sejarah.

Baik peristiwa pembuka di komik dan filmnya sama, menceritakan kematian Comedian lewat voice-over seorang bertopeng dengan tinta bergerak bernama Rorscach yang kita belum tahu siapa juga dia. Watchmen akan susah dinikmati jika kau tidak coba baca-baca tentang latar belakang serialnya di Wikipedia atau apapun itu. Filmnya tidak punya struktur plot ala-ala superhero, tidak ada origin story, hanya flashback peristiwa di masa lalu yang seringkali muncul hanya untuk membantu memberikan penjelasan sedikit. Zack Snyder tampak kesulitan dan tak terlalu berdaya dengan warisan ini.

Out of topic Watchmen sebagai film, secara pribadi Watchmen adalah seri based-on comic dengan semesta fiksi paling favorit dan mengagumkan menurutku. Fondasi lini masa-nya mengagumkan, pembauran antara fiksi dan kenyataan dalam medium politiknya betul-betul menggugah. Penggambaran karakter yang tak sempurna dimana-mana. Watchmen adalah gambaran cerita komik yang tahu betul esensi film bisa disebut dark, tagline yang dewasa ini gencar dikejar film-film superhero baru, dan tak terlalu berhasil.