Review – Uncut Gems (2019)

4.5

Karakter sinting Adam Sandler tidak tahu kapan harus berhenti bermain api dalam situasi menang-kalah yang berubah bergantian begitu cepat di Uncut Gems

Josh Safdie dan Benny Safdie adalah satu lagi kolaborasi sutradara kakak-adik dengan gayanya sendiri. Setelah gubahan Good Times mereka tahun 2017 lalu, Safdie’s kembali dengan Uncut Gems, yang sama-sama kurang lebih adalah film dengan nuansa panic attack. Seperti energi yang pernah ditunjukkan The Coen Brothers dahulu kala ketika masih muda dengan film The Big Lebowski, The Safdie Brothers juga unjuk gigi dalam mempresentasikan cerita tentang seseorang yang apes dan runtutan fucked-up situation yang harus dialaminya.

Pertama-tama Uncut Gems menceritakan seorang pemilik toko yang menjual perhiasan-perhiasan bernama Howard Ratner (Adam Sandler) yang baru saja mendapat kiriman yang sudah ia tunggu belasan bulan, paket berupa opal multiwarna dari Ethiopia, 4 hingga 5 ribu karat, berusia kurang lebih 100 juta tahun. Sialnya, Kevin Garnett (ya ini Garnett asli pemain NBA itu, dia memerankan dirinya sendiri) yang sedang mampir untuk mencari barang di tokonya waktu itu, langsung terpikat dengan opal milik Howard, ia memaksa meminjamnya dan menyerahkan cincin NBA’s Championship sebagai jaminan untuk Howard, Garnett berjanji hanya memerlukannya untuk satu pekan, ia butuh jimat untuk pertandingan.

Howard tak berkutik, padahal opal itu mau dia lelangkan awal minggu depan dengan ekspektasi uang ganti di angka satu juta dolar. Dan kini rentenir sudah gedor-gedor pintu tokonya, betul dia juga sedang banyak pinjaman di tempat lain, salah satunya adalah Arno (Eric Bogosian) yang merupakan sepupunya sendiri yang harus menggunakan otat tambahan untuk menagih uangnya ke Howard. Bukan karena ia takut kepada Howard, tapi ia tahu jika tidak ada ancaman kekerasan, perkara hutang ini tidak akan terselesaikan. Howard tidak ada pilihan lagi selain menggadaikan cincin Kevin Garnett yang secara sangat mengejutkan, bukan ia lakukan agar bisa segera memegang cash untuk segera membayar Arno, tapi ia lakukan untuk bisa pasang taruhan.

Belum-belum Uncut Gems sudah dengan jelas menunjukkan bahwa situasi buruk kelak akan terjadi. Bagaimana lagi, Howard memang orang sinting. Tapi alih-alih melihatnya sebagai seorang sembrono dan gila dengan semua keputusannya, menurutku justru Safdie Brothers telah menciptakan satu karakter yang benar-benar kuat yang jarang ada dalam film. Adam Sandler lewat Howard tidak hanya mempresentasikan akting yang patut diingat, namun karakternya sejak dari awal menunjukkan seorang dengan prinsip. Prinsip sintingnya sendiri. Dan dia betul-betul kuat disitu.

Perjudian yang dilakukan Howard selalu terdengar diluar nalar, tapi dirinya tahu apa yang dia lakukan. Semua konsekuensi yang mengejarnya hingga sekarang bukanlah akibat yang harus dia tanggung akibat keputusan yang keliru, karena mungkin dia sudah mempersiapkan ini semua terjadi dan bagaimana menanggapinya. Howard beradaptasi dengan kehidupan berbahaya, yang ia kadang tahu itu akan mengancam dirinya, tokonya, atau keluarganya. Tapi ia selalu kembali. Hidup seperti ini adalah pilihannya sebagaimana apa katanya: This is how I win.

Ritme dan tempo Uncut Gems jadi alasan utama filmnya digemari. Berpenetrasi cepat hingga 2 jam seakan tidak terasa. Filmnya menghadapkan kita pada konsekuensi paling ekstrim yang kemudian bergerak ke konsekuensi dalam bentuk lainnya. Masalah-masalah tertumpuk dengan berantakan dan meledak seperti komplikasi. Uncut Gems berdetak kencang dan berpacu dalam waktu. Ya, waktu adalah elemen yang penting di film ini, digabungkan dengan hal nyentrik lain seperti perhiasan-perhiasan mahal, jam tangan palsu, NBA, dan The Weeknd. This movie is DOPE!

Adam Sandler dalam puncak keaktorannya disini, seperti yang rottentomatoes bilang bahwa dia adalah seorang brilian jika diberi materi yang cocok. Safdie’s tidak salah jika mereka bilang sudah menyiapkan slot ini untuknya sejak 10 tahun silam. Sandler memang lahir untuk ini, untuk Howard dan gigi pasangannya, si apes yang walaupun ia sangat kacau, selingkuhannya (dimainkan oleh Julia Fox sebagai Julia) tetap setia disana siap melakukan apapun deminya, demi rencana super besar bagian akhir filmnya yang ditutup oleh klimaks epik.

Otak kapitalis Howard tidak mengenal rem ketika dia melihat peluang yang lebih besar, dan si keparat ini akhirnya belajar bahwa utang-piutang dan segala perjudian yang dia lakukan tidak hanya beresiko dalam mengombang-ambingkan keadaan ekonomi, namun juga keadaan emosi orang lain.