Review – Trumbo (2015)

Jika biasanya suatu film bisa membuatmu mengagumi seseorang, maka Trumbo membuatku mengagumi dua sekaligus : Bryan Cranston dan Dalton Trumbo

Untuk film sang sineas Jay Roach pertama tanpa embel-embel komedi, Trumbo cukup serius dan sensitif, sebut saja film ini berhasil. Trumbo mengenang kehidupan Dalton Trumbo dengan konflik paham politik yang harus ia tanggung dan mengekang hampir seumur hidupnya. Oke, Dalton Trumbo adalah seorang komunis minoritas, dia dan teman-teman komunisnya banyak merupakan seorang screenwritter ulung. Namun karena saat itu isu perang dingin masih panas, komunisme adalah ilegal dan dipenjarakan, setidaknya. Semua orang demokratis di Amerika harus membenci para komunis. Dan Jay Roach seperti menegaskan bahwa kelakuan ini adalah tabiat buruk, dan dengan mengandalkan biografi Dalton Trumbo dan perawakan humanisnya, Roach menunjukkan bahwa prioritas kemanusiaan adalah hal paling penting, bahkan diatas ideologi negara.

Trumbo adalah film tentang radikalisme, dan kita didudukkan pada sudut pandang para radikal ini. Tawaran akan emosi sudah pasti karena hampir semua orang difilm ini melihat karakter utama, adalah seorang yang melenceng. Dari konsep dan kerangka plotnya, film ini bukan yang pertama kali. Aku teringat film The Normal Heart tentang tokoh gay Mark Rufallo, dimana ia berjuang mempertahankan eksistensi kaum homoseksual. Dan Trumbo memperjuangkan eksistensi paham komunisme, atau setidaknya bertahan sebagai seorang komunis ditengah masyarakat demokrat.

Komposisi cerita Trumbo kuakui begitu memikat pula, ia berbicara tentang sejarah dan nilai kehidupan. Kita belajar cukup banyak tentang dunia film screenwritting, sulitnya menyusun naskah dan bagaimana reaksi produser-produser ketika membacanya, Dalton Trumbo adalah seorang yang begitu expert dalam hal ini, menulis segebok screenplay seperti hal yang mudah dan itu adalah mata pencahariannya. Tapi jangan salah, kita juga akan menilik sejarah jarang terungkap film-flm legendaris seperti Roman Holiday (1953), The Brave One (1956) hingga Exodus (1960). Tidak lupa potrayal para tokoh-tokoh industri film kawakan yang ditunjukkan lengkap di film ini seperti Gregory Peck, Ian McLellan Hunter juga sang sutradara Exodus, Otto Preminger pun Kirk Douglas yang mengajak Trumbo menggarap Spartacus (1960), sayangnya Stanley Kubrick tidak ditunjukkan secara fisik di film ini.

Lalu tentang nilai kehidupan, itu lahir dari interaksi antar pemainnya. Komunisme tidak aman di Amerika, dan eksistensinya di film ini terancam oleh potrait tokoh antagonis Hedda Hopper (Helen Miller) yang selalu ingin memboikot Trumbo dan perkumpulannya dan menendang bokong mereka jika terbukti ikut andil dalam dunia perfilman Hollywood. Lalu cerita akan drama lainnya muncul : Loyalitas, Penghianatan, keputusasaan dan kehilangan. Semuanya dirangkum dalam perjalanan Dalton Trumbo dan kawan-kawan komunis yang juga seorang penulis dan bahkan momen di penjara. Salah satu pemeran pembantu, Louis C.K memberikan performansi begitu baik sebagai Arlen Hird, ia sekarat dan realistis, menyentuh pula.

Baiklah, fungsi Trumbo sebagai sebuah film ekspreksionis cukup tersampaikan, satir dan sebuah persembahan baik untuk mengenang mendiang Dalton Trumbo atas segala perjalanan hidupnya yang sulit dan manis pada akhirnya. Bryan Cranston cukup beralasan untuk dicalonkan menggandeng Oscar karena ini, ia memberikan peranan yang solid dengan menggandeng perwatakan Trumbo yang keras kepala dan kadang lepas kendali. Tapi menurutku alasan mengapa Cranston dinominasikan Oscar bukan karena semacam akting emosional luar batas, namun karena ia mampu menjiwai karisma Dalton Trumbo yang mampu terlihat selalu tenang pada masa-masa sulit hidupnya, Cranston nailed it !. Oke ini memanglah filmnya,  walaupun bantuan pemeran lain seperti Diane Lane, Elle Fanning juga Michael Stuhlbarg sangat begitu membantu film ini lebih hidup.

Engineering student but movies way more than manufactures

4