Review – Trance (2013)

3

Danny Boyle  adalah sutradara  ‘serba bisa’ , 127 Hours, Slumdog Millionaire  hingga 28 Days Later  jadi bukti. Dan Trance  menegaskan bahwa Boyle memang pantas untuk dijuluki demikian.

Tanpa kita sadari, film-film midnblown ternyata tidak selalu dikenal atau boleh kukatakan, tidak selalu menjuarai box office, bahkan beberapanya bahkan tidak menyentuh. Bulan lalu, film berjudul Who Am I, film lokal Jerman yang baru-baru ini mampu menembus beberapa negara di dunia, memiliki genre yang bisa kukatakan total mindblown, dan film ini keren, namun tidak terlalu bisa membuatnya famous karena memang ia diproduksi sebagai suatu arthouse. Masih ingat Predestination yang mempunyai kompleksitas intelejensi yang begitu membuat kita melongo di akhir ?, kitapun berpikir tentang berapa lama si penulis naskah memeras otak untuk menulis screenplay macam itu. Namun apakah itu membuat Predestination melejit dan menjanjikannya bahwa itu adalah film yang bagus, tidak, dan Predestination, walaupun ia adalah sesuatu yang membuat otak meledak, akan segera terlupakan.

Sama halnya dengan Trance, kurang lebih. Film British karya Danny Boyle yang terkenal akan Trainspotting ini terkesan terlalu complicated, yang pada saat yang sama ia hanya berkutat pada hal itu itu saja. James McAvoy, Rosario Dawson dan  Vincent Cassel adalah lakon utamanya, dan mungkin akan membosankan karena sepanjang kurang lebih 100 menit film ini hanya mempelajari tentang karakter mereka, more longer and more deeper, more boring.

Sial, tidak tahu kenapa film ini adalah sesuatu yang good dan bad pada saat yang sama.

Oke, Trance merupakan adaptasi dari Serial TV arahan Joe Ahearne, dan mungkin itu adalah alasan mengapa film ini terlalu memusingkan karena Boyle harus memampatkan something like ratusan konflik dan plot twist dalam satu film. Tidak ada karakter yang benar-benar seorang antagonis ataupun protagonis, hampir setiap momen di film ini terutarakan bagai revealing the truth, persepsi akan suatu karakter berubah-ubah. Ini adalah Inception dalam skala kecil, tapi ini tidak menggunakan mimpi.

Trance boleh dibilang terlalu njelimet, tapi apa yang dibawa Boyle tentang cerita pengkhianatan, cinta segitiga dan hipnotis adalah sesuatu yang terbilang cerdas untuk di merge dalam satu film. Simon (McAvoy) seorang tukang lelang yang bekerja sama dengan pencuri professional diketuai oleh Franck (Vincent Cassel), sedang melakukan operasi untuk mencuri sebuah lukisan tak ternilai bernama Witches In The Air milik Francisco Goya, namun permasalahan terjadi ketika Simon mengalami hilang pikiran ,sesaat setelah ia baru saja menyembunyikan lukisan itu. Tidak ada pilihan lain, Franck membawanya ke terapis hipnotis terkenal bernama Elizabeth (Rosario Dawson) untuk mengambalikan ingatannya, tapi pada akhirnya Franck menyadari bahwa masalah yang ia hadapi lebih rumit dari yang ia duga.

Walaupun Trance menggiurkan secara sinematografi dan begitu stylish-themed, harus diakui bahwa film ini begitu unnecessary untuk diceritakan, terlalu personal dan menurutku tambah buruk ketika film ini menunjukkan ke-eksplisitannya dalam segi nudity. Positifnya adalah film ini begitu kuat dalam menjaga agar bagaimana ceritanya mampu berkembang dalam satu kotak, walaupun kadang pula hal ini terasa seperti ‘mengekang’. Contohnya jelas, dengan beberapa sentuhan cerita film ini mampu berkembang menjadi sebuah drama cinta, ingat ini film tentang persindikatan.

Overall film ini cukup gila, walaupun berlebihan dalam memberikan plot berlapis, ke-mindblowing-an Trance masih begitu pintar untuk dikatakan film ini adalah film yang bad. Konklusinya, ini adalah good movie.

3