Review – Tomorrowland (2015)

Apakah Brad Bird  pikir dengan membawa George Clooney  ke Tomorrowland  akan memberikan dampak akan perspektif penontonnya ?, kupikir iya, awalnya.

George Clooney sebagaimana kita tahu, adalah seorang aktor yang mampu memegang kendali suatu film drama yang berhubungan dengan human relationship. Yang paling terkenal adalah The Descendants dimana ia harus menanggung beban sang istri yang ketahuan selingkuh justru saat sang istri sendiri dalam keadaan sekarat. Di Gravity ia membuktikan bahwa film Alfonso Cuaron satu itu tidak hanya tentang survival. Bahkan dalam Up In The Air ia bekerja sebagai seorang yang bertugas untuk memecat karyawan suatu perusahaan, secara tatap muka.

Oke, Tomorrowland, bagiku agak aneh dan entah aku tak yakin apakah itu menyenangkan untuk mendapatkan film ini sebagai sesuatu yang thought-provoking. Tomorrowland sukses dengan perjalanan fantasy-nya yang mengagumkan, hilarious jetpack, futuristic design of tomorrowland yang begitu mengingatkanku akan The Hunger Games ketika George Clooney dan Britt Robertson sedang naik kereta menyusuri sudut-sudut kota masa depan. Tomorrowland dibuka dengan monolog Frank Walker tua (Clooney) yang bercerita bagaimana ia bisa nyasar ke Tomorrowland dimana pada akhirnya menuntunmu pada penceritaan non-linier tentang flashback masa kanak-kanak Frank sendiri. Tidak cukup disana, lakon kedua kita, Casey Newton (Britt Robertson) juga ikut-ikutan bercerita asal usul bagaiman semua ini terjadi.

Apakah ini menyenangkan ?, tidak !. Ini membuang waktu dan maksud Brad Bird untuk membangun semua itu demi menguatkan karakterisasi tokohnya tidak terlalu efektif, kukira. Jika saja cerita tentang flashback dipotong, mungkin hanya ada 1 jam Tomorrowland yang langsung mengarah ke konflik utama.

Konflik !. Yep, konfliknya sendiri adalah satu hal yang tidak bisa dihindarkan, apa yang ditetapkan film ini sebagai suatu permasalahan utama begitu vital dalam menciptakan kesan umum para penontonnya. Dan aku begitu, agak kecewa, atau setidaknya demikian, ketika Tomorrowland adalah tentang menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan dan kepunahan, ini terlalu berat untuk Disney. Dan itu mepengaruhi semuanya, Tomorrowland berubah menjadi cerita yang mengingatkanku akan film remaja seperti Ender Game, The Maze Runner, Divergent, yang seolah menunjukkan bahwa karakter sentral mereka merupakan the chosen one, ditunjuk spesial untuk menyelamatkan umat manusia. Tomorrowland bertransformasi persis dengan demikian, kecuali ada George Clooney disana.

Brad Bird sudah membawa kita pada banyak animated movies yang dicintai dan begitu inspiratif. The Incredibles, The Iron Giant dan Ratatouille memberikan pelajaran akan berbagai emosi. Tomorrowland-pun terlihat kuat pada bagian ini, ada humor dan rasa bahagia, cinta dan kekecewaan, dan umumnya adalah tentang kecemasan dan harapan. Itu mengukuhkan film ini mempunyai aspek strong on character. Yap, untuk sebagian, ini adalah poin positif.

Lalu ada aspek fiktif, yang kurasa kekentalannya menunjukkan bahwa ini adalah milik Disney, anak-anak akan terhibur dan akan menikmati perjalanan visual tak masuk akalnya. Bagi orang dewasa, ini terlalu nyentrik dan berlebihan, ada robot CGI dan mesin waktu, membawa para karakter untuk terjun dan berteriak, tersesat ke suatu antah berantah yang tidak masalah untuk tersasar disana karena toh itu asik juga. Sungguh aneh ketika film ini membawam ke Eiffel untuk membelahnya menjadi dua, lalu ?, ia pergi. Brad Bird seperti berkata “ayo ikut aku menyusuri setumpuk random places, tak usah kuatir, ini keren dan memiliki pemandangan visual yang gila.”, dan ini sukses semuanya terhibur.

Tapi hiburan tidak cukup untuk sesuatu yang ditunggu lama. Tomorrowland bahkan belum sanggup memberikan narasi yang memuaskan, ambisinya tidak mampu membandingi apa yang telah ia berikan lewat teknik storytelling-nya, terlalu berputar, bahkan premisnya sulit diketahui di awal, dan konklusi film 130 menit ini tidak terlalu menggugah, bahkan kadang justru terlihat mengecewakan. Aku bersyukur lebih memilih menonton Mad Max : Fury Road ketika dua-duanya berbarengan mengudara dibioskop

2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick

2