Review – Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)

Ini mungkin adalah film “paling marah” sepanjang tahun. Amuk dibalas amuk. Keindahannya ?, tentu saja amarah teragregasi yang menyulap filmnya menjadi sajian black comedy sosiopolitik, yang menghibur-mengagumkan.

“Anger begets more anger”

Berbicara kemarahan, semua dalam film ini mempunyai itu, dan dalam takaran yang tinggi pula. Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (akan kusebut Three Billboards saja selanjutnya) seperti sebuah rage-showoff dimana setiap kali hal gila terjadi, filmnya seperti “oh itu masih belum apa-apa, mari kuantarkan pada kemurkaan yang lebih besar lagi.”.

Ia bercerita tentang seorang wanita paruh baya, Mildred Hayes (Frances McDormand) yang menagih suatu keadilan tentang anaknya kepada pihak yang berwenang, but in a provocative instead of proper way : Tiga papan reklame disewanya untuk mengungkapkan kegelisahannya lewat pertanyaan yang vulgar ditujukan pada polisi lokal. Bagai suatu tantangan, para polisi-polisi ini tidak seluruhnya memiliki kepala yang dingin dalam menanggapinya, dan nyatanya bahwa terpasangnya papan reklame telah membuat pihak-pihak “lain” juga merasa trigerred. Apa akibatnya ?, ancaman yang hakiki, pertaruhan nama baik dan proses yang sama sekali tidak diplomatis. Alih-alih berbicara tentang siapa yang seharusnya bertindak bagaimana, Three Billboads lebih terlihat sebagaimana para lakon-lakon sandiwara didalamnya pamer menunjukkan siapa yang lebih sinting dalam melancarkan aksi pembalasan.

Di pihak polisi,ada duo Sam Rockwell dan Woody Harrelson yang efektif dalam melahirkan kemistri atasan dan anak emas yang saling memperdulikan secara tidak langsung. Mengetahui bahwa nama baik Sheriff Bill Willoughby (Harrelson) sedang diujung tanduk akibat ulah wanita yang kontroversial, sang officer rasis Dixon (Rockwell) tidak terima dan ingin menangani ini dengan cara kasar. Tentu saja sang atasan tak membiarkannya, bagaikan katalis, Bill dan Dixon adalah perumpamaan seorang guru bijak dengan murid yang masih labil. Walaupun semua orang menganggap Dixon adalah petugas yang semena-mena, Bill tahu bahwa masih ada kebaikan didalam dirinya. Namun, apakah filmnya bisa membuktikan itu ?, well aku meragukannya.

Three Billboards sebagai nominator film terbaik Academy Awards tahun ini, bagaikan perpaduan antara Hell or High Water dengan menampilkan tokoh utama yang melawan-polisi dan juga Manchester by the Sea dengan sentilan singkat adegan flashback yang emosional. Namun Three Billboards lebih dari itu, ini adalah total black comedy yang kasar dan begitu tega, dialog-dialog yang terasa gelap tapi kau tak akan bisa menahan untuk tidak tertawa. It’s so darkly funny. And it’s so much savage, yang terlontar secara mengejutkan dalam kata-kata karakternya. Untuk menonton film ini dalam ekspektasi yang ekstrim, Three Billboards justru bisa saja adalah pilihan yang menghibur. Siapkan dirimu untuk suatu perang pikiran dan vandalisme hebat.

McDormand sudah lama tak tampil dalam layar lebar, dan Three Billboards adalah comeback yang tepat. Ia adalah Mildred Hayes, wanita yang merdeka dan tidak lembut, ia tetap pada prinsipnya, wanita yang bercerai dengan mantan suami yang meninggalkannya demi wanita yang jauh lebih muda. Ia kadang tak menjaga mulutnya, dan kadang keputusannya juga diluar jalur, Tapi ia masih mengerti siapa lawan dan siapa musuh. Kini hanya bersama anak laki-lakinya (bernama Robbie, diperankan oleh Lucas Hedges), yang selalu mengingatkan bahwa kenekadan aksinya tidak memperbaiki masalah, tapi Hayes bersikeras, ia mungkin tahu, tapi dirinya harus melakukan itu semua.

So, ini adalah sejenis drama yang berimbang, kau mendapatkan tawanya dan kau dapatkan sedihnya. Ditambah kerangka cerita yang dilematis yang menempatkan Bill Willougbhy sebagai polisi yang sekarat oleh kanker. Three Billboards adalah permisalan yang paling menggambarkan sebuah istilah bahwa aksi yang kau kira merupakan sebuah solusi, pasti akan melahirkan permasalahan yang baru. Kau tidak bisa membersihkan sesuatu tanpa membuat yang lainnya kotor. Sebagaimana Three Billboards dinarasikan, filmnya mendemonstrasikan bagaimana keputusan yang sembrono benar-benar harus ditebus. Ini adalah tale tentang aksi dan reaksi yang brilian.

Namun dalam tanda kutip, jika memang harus jujur, kadang suguhan Three Billboards terasa uneven dan tentang betapa konservatifnya lines para karakternya dalam menggugah guyonan. Bagiku ini bekerja sangat efektif, namun mungkin bagi beberapa minoritas akan menganggapnya maksa. Bagaimanapun juga, writer-director Martin McDonagh dengan ini, juga telah comeback dengan lebih berhasil sejak Seven Psychopath 6 tahun lalu. Berbekal premis yang simpel, namun ia cermat dalam menangguhkan konflik yang complicated dan penuh amarah.

Terima kasihnya kepada McDonagh lagi, karena telah menulis karakternya khusus untuk Frances McDormand dan Sam Rockwell. Damn that it was beautifully-and-perfectly suited them. Mereka sempurna, karakter mereka adalah dua kepala yang sama-sama berselisih dan padu, sekali lagi penceritaan multi-layered McDonagh membuat keduanya memiliki kesempatan untuk terkembang dengan baik. Menjelang akhir kita mendapatkan sebuah pemahaman, bahwa memang pihak-pihak yang ada di Three Billboards seluruhnya tidak bisa disebut sebagai orang yang baik, mereka memang brutal dan menggusarkan, namun persamaannya adalah : standar moralitas yang mereka imani sama. Membuat karakter di Three Billboards mendadak tidak se-egois itu, dan kita menyadari bahwa bagi orang-orang ini, menjadi marah adalah cara mereka untuk membebaskan rasa duka.

Ini bukanlah ending yang menyelesaikan masalah utama, tapi McDonagh tahu bagaimana cara menyimpulkan apa yang harus digarisbawahi dalam melihat bagaimana para tokohnya terkoneksi. Three Billboards memiliki pesan dan hikmah krusial berbicara tentang manajemen emosi.

Setelah Sam Rockwell dan Frances McDormand berhasil menyabet aktor pendukung terbaik dan aktris utama terbaik respectively. Aku mendukung dan memiliki firasat keduanya juga akan mendapatkan hasil yang sama di Academy Awards

————–

Mengakhiri ini, aku akan mengutip salah satu dialog Mildred Hayes dan Chief Bill Willoughby yang menunjukkan bahwa humor hitam Three Billboards Outside Ebbing, Missouri adalah satu hal yang pretensius

“There’s something else, Mildred. I got cancer. I’m dying”
“I know it. Most everybody in town knows it.”
“Then you still putting up those billboard ?”
“Well, they wouldn’t be as effective after you croak, right ?”

Engineering student but movies way more than manufactures

4