Review – The Witch (2016)

4.5

Diproduksi sebagai karya seni distingtif dan mengemban penceritaan yang membakar pelan. Barangkali tak ada adaptasi cerita rakyat yang seindah dan seseram ini. The Witch is an instant classic.

Tidak terlalu sering bagiku ketika menonton suatu film, keseluruhan entitasnya memberi kesan lebih kearah sebuah bentuk karya seni yang indah ketimbang hanya sebuah produksi dari industri hiburan. The Art of Filmmaking dari The Witch berada pada level lain, lebih tinggi daripada film horrormu, dan ini memaksaku harus menghargai banyak tentang unsur-unsur filmnya.

Memberikan cap dirinya sendiri dalam poster komersial filmnya sebagai A New-England Folktale, The Witch adalah produk dengan nuansa literatur yang kental. Di akhir, filmnya sendiri menyebutkan bahwa plotnya dibangun berdasarkan fairytale dan folktale yang senada dengan banyak struktur dialognya yang diekstrak bersumber dari tulisan-tulisan lama. It’s not your usual english, Pronouns seperti thee, thou, thy menunjukkan bahwa tata bahasa Early Modern English digunakan disini.

Mungkin awal-awal akan sedikit sulit untuk memahami tiap dialognya, namun tidak bisa diabaikan bahwa kadang-kadang, atau bahkan hampir setiap waktu, grammar yang tercuat dari seluruh mulut karakter-karakternya terdengar sangat enak didengar. Sebuah pengalaman yang lain.

Berlatar cerita pada periode 1630 an di New England, keluarga William diusir dari pemukiman yang sering disebut sebagai ‘Plantation’ karena telah menentang Gereja, menyatakan bahwa ajaran Kristen yang diajarkan selama ini sesat. Bersama kelima anak mereka, William (Ralph Ineson) dan istrinya, Katherine (Kate Dickie), bermukim di ujung hutan menjauhi peradaban. Menghidupi keluarganya adalah dengan berburu disekitar, menggembala, mengumpulkan kayu dan mengharapkan hasil tani jagung yang tampaknya sia-sia.

Konflik terjadi ketika secara misterius, Samuel, anak bayi dari mereka, menghilang secara tiba-tiba ketika sang putri sulung, Thomasin sedang menjaganya. Awal pikiran mereka mengatakan bahwa ini semua adalah ulang hewan buas, atau bisa jadi serigala. Namun semakin lama, mereka menyadari, bahwa ada sesuatu yang lain dari dalam hutan, mempertanyakan apakah legenda-legenda tentang makhluk mistis itu benar-benar ada. Dalam satu kesempatan diawal-awal, Robert Eggers memberikan tayangan mengenai gelapnya hutan, dan tiba-tiba sepercik api menerangi remang. Sosok terlihat, menghidupi mitos yang mendongeng, itu adalah penyihir dan bentuknya tak keruan, ia benar-benar ada.

Seperti ketika The Exorcist membawakan isu tentang semitic sebagai simbol perlawanan terhadap kekuatan iblis, The Witch bisa dikatakan pada jalur yang sama. Keluarga William adalah keluarga religius yang taat, ia mengajari anaknya untuk senantiasa mengenang doa-doa, dan ketika Samuel sang adik terkecil hilang, secara kepercayaan filmnya juga mengembangkan dialog-dialog tentang pertanyaan : Apakah Sam akan berada di surga ?.

Tetapi tampaknya Eggers tak terlalu tertarik dengan bagaimana iman bisa bekerja secara gaib. The Witch, terkesan mempromosikan kisah tentang anti-God, atau dimana doa hanya ucapan, bukan senjata untuk mengusir setan dari dalam jiwamu. Jadi tak perlu mengharapkan adegan-adegan sengit a la eksorsisme, karena tak ada satupun seperti itu disini.

Tidak ada jump-scare, bahkan film ini pun tidak terlalu sering menambahkan latar belakang suara. Bagaimanapun, tinggal di pinggir hutan bukanlah hal yang memberikan rasa aman dan nyaman. Tidak ada lampu, dan kadang-kadang keberadaan lilin juga masih belum cukup. Rona warna filmnya yang pucat, dan juga misteri yang selalu menghidupkan atmosfir filmnya, sudah lebih dari cukup untuk memberikan ketakutan bagi penonton.

Evil takes many forms, tagline yang sejatinya memberikan clue ; The Witch pada akhirnya merampungkan kisahnya dalam kemelut, it’s Hereditary before it was cool. Itu semacam epilog yang penting dan seperti menyatakan suatu hal. Itu baru ending yang luar biasa.

Tak terlalu diketahui publik, The Witch adalah art-house dengan unsur cult yang ekslusif. Eggers baru dalam dunia film dan bagiku ini mahakarya. Horornya adalah adaptasi klasik yang menawan, dan drama psikologinya betul-betul menggeramkan. Ketika satu persatu kejadian yang menyulitkan keluarga William terjadi, mereka menyalahkan satu sama lain. Narasi provokatif ini mungkin adalah yang sedang dibutuhkan oleh kebanyakan film horror saat ini ; dan jajaran tokohnya mengeksekusinya dengan baik sampai-sampai pemeran anak-anak di film ini juga berhasil membawakan karakter mereka yang menyebalkan.

Selagi filmnya berkutat dengan polemik keluarga yang tampaknya mustahil menemui sisi terang, di sisi yang lain, kekuatan jahat dikuatirkan semakin mendekat, atau mungkin ia sudah berada disana ; Kambing hitam milik William, tanpa pernah mereka sadari, barangkali adalah reinkarnasi fantasme dari suatu fantasme yang telah mengawasi.

Engineering student but movies way more than manufactures