Review – The Two Popes (2019)

4

Di The Two Popes, perbincangan dua kakek pemuka agama tentang urgensitas khutbah ditengah dinamika masyarakat kontemporer bisa terasa amat spesial.

The Two Popes adalah tentang dua paus: Paus Benedict XVI dan Paus Francis, yang difilm ini akan lebih sering tersebutkan nama kardinal/nama asli mereka. Menyoroti detik-detik perpindahan otoritas antar keduanya sebagai orang tertinggi di Vatikan, tahun 2013 silam. Tapi sebelumnya, sang sutradara Fernando Meirelles mencoba memberikan gambaran besar dahulu mengenai semua situasi yang terbentuk, terutama tentang keuskupan agung sendiri.

Dibawa mundur ke 2005, kematian Paus John Paul II mengharuskan seluruh uskup agung seluruh dunia untuk berkumpul di Vatican City, untuk melakukan eleksi lewat voting mencari sang pengganti. Singkat kata, kemenangan didapatkan oleh Kardinal Joseph Ratzinger (Anthony Hopkins), seorang Jerman yang terkenal dengan sosok konservatifnya, mengungguli satu kardinal yang sebenarnya memang tak tertarik menjadi penerus, Kardinal Jorge Bergoglio (Jonathan Pryce) dari Argentina.

Tujuh tahun kemudian, kondisi Gereja Katolik sedang tidak bagus. Skandal-skandal bocor keabsahannya lewat dokumen, salah satunya tentang pendeta-pendeta pedofil yang selama ini dilindungi institusi. Tentu nama gereja ternodai, pengikut berkurang, bahkan nama-nama dekat dan terpercaya Kardinal Ratzinger yang kini bertitel Pope Benedict XVI juga ikut terseret dalam berbagai kasus. Ditengah kondisi internal yang penuh kontroversi, di sisi lain di Argentina sana, Kardinal Bergoglio menulis sebuah surat yang ia tujukan ke Vatikan, ia ingin mengundurkan diri dari keuskupan agung. Sekian lama suratnya tak terjawab, Bergoglio memilih untuk terbang langsung saja, menyerahkan suratnya langsung, maksudnya. Namun tidak lama setelah memesan tiket pesawat, tiba-tiba dia mendapat undangan, dari Paus Ratzinger yang ternyata juga ingin dia datang ke Vatikan.

Dapat diketahui bahwa Kardinal Bergoglio adalah seorang progresif yang terbuka, yang dikenal kritis pada isu-isu sosial dan lingkungan. Dia adalah polar yang berlawanan dari Paus Ratzinger yang selalu berpikiran bahwa budaya dan tradisi harus sepenuhnya dijaga dari apa yang telah diwariskan. Mungkin itulah yang membuat Ratzinger, yang dalam diamnya, ternyata tidak terlalu menyukai sosok Bergoglio. Pertemuan mereka dimulai oleh percakapan yang barangkali baru pertama ini terjadi antar mereka. Selagi maksud dan tujuan utama Ratzinger memanggil Bergoglio masih belum ternyatakan, ia mengawali jamuannya dengan mengajak nongkrong di taman besar di residen privatnya di Roma yang kemudian mengantarkan pada adegan krusial bagi filmnya: diskusi kakek-kakek yang epik.

Anthony McCarten, sebagai screenwriter memberikan dialog yang walaupun spekulatif, bisa menyajikan momen percakapan yang cocok dalam konten, dan pas dalam penggambaran suasana. The Two Popes dengan akurat mendemostrasikan bagaimana jadinya jika dua orang tua yang terbatas dalam fisik dan gerakan, sedang ­marah-marahan.

Selain itu, The Two Popes juga adalah gambaran mengenai bagaimana jika dua orang yang tak sepakat satu sama lain dan tak pernah membahasnya, pada akhirnya memiliki kesempatan untuk berdebat. Ratzinger lebih tua, dan berkedudukan lebih tinggi. Ia interogatif terhadap kesetiaan Bergoglio dalam urusan praktik agama, dan mengecam permintaan mundurnya yang jelas akan diinterpretasikan publik sebagai bentuk kritikan. Bergoglio yang sadar posisinya, selalu mencoba dengan kalem menepis dan menjawab prasangka yang ada. Kesantunan Bergoglio pada Ratzinger jujur sangat menentramkan walaupun perbincangan mereka menggelegar.

Akting hebat dari Pryce dan Hopkins yang seringkali memberikan pengaruh, meyentuh dan membius. Cara mereka menghidupi karakter masing-masing membuat kita lupa bahwa dua orang ini dulunya aktor populer disaat muda. Maksudku, alih-alih menyebut keduanya adalah orang tua yang sukses dalam memainkan peran ini, lebih pantas jika menyebut keduanya sukses dalam memainkan peran orang-orang tua ini.

Keduanya terlihat effortless walaupun kita tahu menjadi seorang Paus bukan roleplay yang mudah. Mereka harus bisa tampak meyakinkan sebagai publik figur yang religius. Mereka harus menekuni apa yang menjadi kebiasaan Paus, dalam berpakaian dan sebagainya. Dibantu naskah McCarten, mereka harus berargumen dan harus tetap bijaksana dalam waktu yang sama. Dibantu suntingan Meirelles, lewat tembakan close-up yang sering, mereka harus bisa menunjukkan bagaimana wajah berbicara. Dalam suatu interview, Meirelles bilang bahwa Hopkins telah berlatih lines nya sebelum syuting dimulai dan Pryce giat mempelajari karakter-karakter dan kebiasaan gestur tubuh Paus Francis. Pada akhirnya, tantangan-tantangan peran itu mereka berdua bayar dengan sempurna.

Itu juga termasuk ketika keduanya harus menekuni beberapa bahasa. Baik Pryce dan Hopkins berbicara Jerman, Spanyol, Italia dan Latin dalam kebutuhan-kebutuhan tertentu, menambah kesan universal filmnya. Sekali lagi keduanya menghidupi apa yang memang melekat pada sosok asli yang mereka mainkan. Disamping pemuka agama, juga intelektual.

The Two Popes tidak terjebak dalam pembawaan yang membosankan. Bahasan filmnya selalu menarik, dari yang serius hingga yang santai. Kedua Paus kita, pada siang hari akan mebicarakan tentang nilai-nilai Katolik, mengutip Alkitab, dan mencoba menunjukkan bahwa lawan bicaranya keliru dengan mengeksplorasi area abu-abu dari ajaran Katolik itu sendiri. Dan di malam hari mereka tertawa, mendiskusikan piano, serial televisi, lelucon tentang rokok hingga sepak bola.

Skrip McCarten jelas lebih medingan daripada Bohemian Rhapsody, projek paling sebelumnya dari dia. Namun McCarten tetaplah dirinya dilihat dari ambisinya untuk mencoba menceritakan hal secara komprehensif dan komplet, namun ringkih dalam keseimbangan. Yakni pada paruh kedua, ketika filmnya mendadak menjadi sentimental dalam aspek personal, kita diberikan sebuah kisah flashback Bergoglio mengenai kekelaman politik dan rezim Argentina yang berdampak baginya hingga saat ini.

Flashback yang lumayan panjang itu membuat kita cukup terlepas, terpisah dari suasana awal. Momentumnya sejenak hilang dan seperti mulai dari awal kembali setelah itu. Toh, pun secara konteks, substansi kilas balik Bergoglio ayalnya juga menceritakan kisah lain yang berbeda, walaupun ini bagus dalam memperdalam tokoh Bergoglio yang tidak banyak kita ketahui sebelumnya, yang ternyata adalah tokoh yang divisif.

Darisana kita tahu maksud para pembuat film ini, mereka ingin film ini bisa memberikan informasi seraya menenggelamkan penontonnya dalam emosi psikologis yang ada padanya. The Two Popes mempromosikan rasanya menjadi Kardinal, Yesuit, Uskup atau Paus. Bahwa itu merupakan tugas rohani yang berat bagi mereka yang juga manusia biasa. Bahwa untuk menjadi mereka, artinya mengorbankan dunia dan orang-orang tersayang barangkali, dan menerima untuk secara mayoritas waktu, hanya sendiri.

Terinspirasi dari true story, filmnya terbilang tepat mengenai titik mana yang harus didramatisasi. Kedua Paus kita menari Tango dan menonton Piala Dunia bersama, jelas mungkin itu tidak terjadi di kenyataan, tapi kita senang hal itu terjadi disini. Menegaskan keasyikan. Ah, lagipula film yang kalau dipikir-pikir memiliki tema yang sangat khusus ini memang keseluruhannya asyik. The Two Popes adalah film tentang Katolik, yang walaupun kadang menyampaikan pesan religius, tapi atheis-pun juga tetap dapat menikmatinya. Topik teologi yang ada difilmnya mengedukasi, adalah mempelajari Katolik, pengertian dan aturan dasar, prosedur dan tatanan organisasinya. Melihat semua prosesi pemilihan Paus ditambah gaya suntingan Meirelles ala dokumenter yang menguatkan kesan, ternyata asik juga.

Setelah satu atau dua hari bertemu dan tidak berhenti berinteraksi, Bergoglio dan Ratzinger duduk sembari bersandar di Kapel Sistine. Mereka sepakat untuk tidak sepakat, menemui kebuntuan untuk mewujudkan tujuan masing-masing, tapi mereka terus berusaha. Bagaimana meduanya menjelaskan apa motif dan maksud tampak sangat jelas disini. Yang berangsur membangun keterbukaan dan rasa percaya. Berlanjut pada hal-hal yang sangat sensitif dan rahasia bagi masing-masing. Dan demi kemaslahatan satu miliar lebih jemaatnya, sebuah keputusan harus diambil. Setelah semua kemelut, mereka kini adalah dua orang dengan kondisi hubungan yang berbeda daripada saat awal berjumpa ditaman kemarin. Yang jelas, pada akhirnya mereka berubah, bukan berkompromi.

 

nb: Nominasi Oscars 2020 baru saja selesai diumumkan, dan aku senang mengetahui bahwa Jonathan Pryce dan Anthony Hopkins masuk nominasi