Review – The Revenant (2015)

The Revenant, ketika Leonardo diCaprio akhirnya memenangkan piala Oscar untuk mengeram kesakitan. 

re-revenant

Apa yang didapatkan dari The Revenant mungkin lebih membekas pada apresiasi layar belakang produksinya, dan menurutku, produksi yang begitu agung itu tidak hanya memberi kesan The Revenant sebagai sebuah film, kapabilitasnya telah yang mengemudikan esensi film pada suatu medium baru, gambar-gambar yang mungkin akan tinggal pada memori penontonnya dalam waktu yang lama. The Revenant menuturkan suatu kisah art of survival yang paling riuh, menegangkan. Mungkin kita tak akan menghadapi suatu pengalaman serupa, namun mendengar bahwa ia terinspirasi dari even nyata, bergidik sudah pasti.

Dari menit awal saja bawaan intense sudah sangat kuat, salah satu scene paling penting, sekitar sepuluh menit pertama The Revenant adalah satu yang membuat sulit bernapas, baku antar kelompok kulit putih dan suku Arikawa (semacam Indian), yang di tembak langsung oleh Emmanuel Lubezki dengan teknik single-shot tanpa celah. Kukira Alejandro González Iñárritu ingin mereka ulang Birdman dengan tema yang sama sekali berbeda, awalnya.

Ditarik kembali ke masa 1820-an, The Revenant mendemonstariskan satu fundamental kehidupan, insting bertahan agar tidak mati, hidup berburu, dan konfrontasi dengan alam dan semuanya yang bisa membunuhmu. Sangat pra-sejarah mungkin dan filmnya juga kaya terhadap keragaman suku-suku (Ree, Pawnee, Sioux, seperti itu), namun presentasi cerita Iñárritu yang mensemati semua karakternya dengan rasa empati yang minim terhadap stranger, suku lain, atau bahkan dengan sesamanya, mendasari semuanya. Ini cerita tentang brutalisme alih-alih perdamaian. The Revenant sulit untuk ditonton tanpa istirahat sebenarnya.

Leonardo DiCaprio memerankan Hugh Glass, si kulit putih yang memandu kelompok Andrew Henry (Domhnall Gleeson) untuk menyusuri teritori asing demi alasan penjelajahan atau semacamnya. Glass memiliki anak bernama Hawk, memiliki setengah darah suku Ree. Ketika diserang kawanan Arikawa, kelompok Henry kocar kacir, Glass memandu mereka semua untuk lari ke Fort Iowa, namun ternyata perjalanan untuk benar-benar lari dari kejaran musuh tidak semudah itu.

The Revenant seperti menggadeng sesuatu yang besar, durasinya yang panjang diakali dengan objective film yang tak tertebak, ini karena kita sendiri tak terlalu mendapat clue terhadap adegan macam apa yang akan diberikan Iñárritu sebagai klimaks diakhir. The Revenant tak sekedar konflik-resolusi, Iñárritu lewat The Revenant, menyampaikan banyak hal.

Kembali pada Emanuel Lubezki sang sinematografer, mungkin ini menjadi salah satu work-nya yang notable. The Revenant terstatus bagaikan proyek yang begitu besar daripada satu potongan film. Suntingan lanskap yang lebar dan jauh, luas dan bermacam-macam, pergerakan-pergerakan yang sulit ketika datang adegan ketika pace film meningkat, teknik underwater dan juga frame solitude yang menggambarkan api di tengah malam, atau aurora diatas gunung-gunung, juga ketika ia menyunting penampakan mimik hewan-hewan dari jarak dekat. Lubezki, dengan sangat-sangat berhasil, menegaskan bahwa entitas The Revenant jauh lebih besar dari yang kita kira.

Omong-omong tentang Leonardo DiCaprio, tentu saja dia patut dipuji, bukan tentang panjang naskah yang harus ia hafal, tapi ketahanan tubuhnya untuk berguling-guling di set : kotor, panas dan dingin. DiCaprio harus mengeram kesakitan, ditempeli make up luka-luka berat akibat adegan legendaris the famous battle DiCaprio vs The Bear, yang menurutku pula sangat majestis. Seperti yang sudah kusinggung, The Revenant dengan DiCaprio sebagai SPG-nya, memotret seni bertahan hidup kelas tinggi, bersembunyi di dalam perut kuda yang sudah mati untuk lari dari kedinginan, ada kalanya air datang untuk menyelamatkannya, ada kalanya air justru bisa membunuhnya, ketika penonton juga bisa merasakan betapa laparnya DiCaprio sebagai Glass dan saat ia makan daging-daging mentah. Jangan lupa juga ia sedang diburu. Seluruhnya dibawakan dengan suatu timeline yang kompleks. Ini dedikasi yang jarang, dan sepertinya begitu mendasari kenapa DiCaprio terlihat sebagai sosok yang kritis tentang lingkungan baru-baru ini. The movie suits him.

Jangan salah, lawan main DiCaprio, Tom Hardy, juga satu yang bersinar. Karakterisasinya kian mendukung sosok Hardy yang sulit mendapat job protagonis. Fitzgerald, adalah karakternya yang dingin, tangguh namun sulit diatur. Berkatnya, The Revenant kian diperkaya dengan permainan emosi.

Seru dan selalu intriguing, The Revenant memiliki kemiripan dengan film tahun lalu, Bone Tomahawk, tempo yang pelan, dan dihiasi adegan violence yang prestisius. Suasana Western dan dimana ada saat ketika dalam perjalanan, satu harus ditinggal yang lain. Yang ingin kusampaikan, kuharap film seperti ini tidak pudar. Film tentang eksplorasi set, perjalanan tapak kaki, dan studi uji ketahanan tubuh manusia melawan alam. Iñárritu telah mengantarkan Birdman sebagai film terbaik Oscar dua tahun lalu dengan kapasitas dialog yang meluap pada para karakternya, tapi The Revenant, dengan porsi karakter yang minim menunjukkan definisi bahwa picture speaks louder than words

Backup_of_re2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick

4.5