Review – The Last Black Man In San Francisco (2019)

4

Ini adalah sebuah film yang entah kenapa akupun membanggakannya. Jika saja aku orang San Francisco, aku akan terus-terusan membicarakan ini pada orang-orang.

Sedang musim mungkin, film-film yang mengemban cerita terinspirasi dari perjalanan hidup si pembuatnya sendiri. Bisa bermacam-macam dalam ragam, bisa bermacam-macam dalam meninggalkan kesan. Salah satunya adalah dengan membawa penontonnya untuk merasakan ‘dibawa pulang’ oleh sang sutradara ke kampung halaman mereka. Misal Mike Mills yang membawa kita ke nuansa dua paruh abad Southern California di 20th Century Women, Alfonso Cuaron yang mengajak kita menjenguk rona hidup lalunya di Mexico City dua tahun lalu, atau ketika Greta Gerwig bercerita tentang gadis akhir SMA di Sacramento, yang kebetulan juga tempat tinggalnya di Lady Bird. Membawa kesan yang sama, baru-baru ini, di akhir 2019 lalu, seorang sutradara debutan bernama Joe Talbot dari San Francisco juga melakukannya, menggarap sebuah film bertajuk The Last Black Man in San Francisco.

Dan edisinya lebih spesial karena film satu ini bukan sebuah feature reuni, atau membawa kesan semacam itu. Joe Talbot seumur hidup, dan hingga kini, adalah seorang yang masih tinggal di San Fransisco. Ia drop out sekolah, dan hanya sekali meninggalkan kota dan itupun untuk urusan editing film ini. Disini Joe menceritakan kotanya, bukan untuk mengenang masa lalu yang sudah lewat, tapi mengkuatirkan bahwa semua ini pada akhirnya akan tertinggal sebagai cerita.

Pada suatu hari Talbot mendengarkan cerita teman karibnya, bernama Jimmie Fails. Joe tertarik dengan cerita itu dan mengajak Fails menulis dan menggarap film. Bahkan keduanya sepakat mengangkat nama karakter sesuai nama asli Fails.

Benar saja, sesuatu yang personal adalah sesuatu yang kreatif. Lahirlah sebuah cerita bernada kontemplasi dua orang sahabat tentang interpretasi mereka terhadap apa-apa mengenai kampung halaman, khususnya dari kacamata mereka sendiri sebagai orang kulit hitam. Mereka mencintai kota ini, mereka mencintai daerah pinggiran yang berbatasan dengan sungai yang lebih kotor dari mulut setan itu.

Jimmie Fails dan rekannya, Montgomery Allen (Jonathan Majors) berkelana setiap waktu mereka longgar. Memutari sudut-sudut kota yang sudah mereka hafali. Jika tidak ada bis, maka keduanya berboncengan diatas skateboard milik Jimmie, namun kadang juga berlari-lari. Setiap waktu Jimmie akan berhenti di depan sebuah rumah yang sangat penting bagi dia, sebuah rumah yang dulunya milik keluarganya namun tidak lagi. Ketika pemilik rumah yang anyar itu pergi, Jimmie akan masuk ke halamannya dan mengecat kolom-kolom jendelanya, karena menurutnya, pemilik baru itu tidak becus dalam mengurusi rumah itu. Sedangkan Montgomery menjaga dari kejauhan sambil menggambar, menunaikan hobinya sendiri.

The Last Black Man In San Francisco menyempitkan arti cintanya pada sebuah kota menjadi pada sebuah rumah. Yang tadinya home dispesifikkan mejadi house. Bagi film ini, mengapa kita mencintai kota kita adalah karena rumah kita ada disana. Rumah adalah suatu hal yang mewakili kita, suatu hal yang merupakan bagian dari kita. Cara Joe Talbot melakukan personifikasi terhadap rumah yang begitu disayangi Jimmie dan disebut dibangun oleh kakeknya di tahun 1946 ini kubilang luar biasa. Dengan caranya, kita jadi bisa mengerti kenapa hal-hal yang sifatnya tak hidup kadang bisa berarti khusus bagi orang-orang tertentu.

Ulasan ini masih belum termasuk aspek teknikal yang juga mengindahkan filmnya. The Last Black Man In San Francisco adalah memoir dalam bentuk fotografi-fotografi yang lengkap dalam menangkap semuanya, close-up dan landscape, karakternya dan bangunan yang berdiri dibelakang mereka. Joe Talbot berhasil memeras teknik-teknik sinematografi yang sederhana dan mengaplikasikannya sehingga ia tampak memperkuat pengalaman menonton bagi audiens. Zoom out dan zoom in yang pelan, sampai slow-motion yang tepat sasaran. Dibalut beberapa elemen yang surealis dan jangan lupakan scoring filmnya yang betul-betul mewah dan terampil sekali dalam menyetel tona filmnya. The Last Black Man In San Francisco adalah film indie yang efektif.

Maksud dari ‘orang kulit hitam terakhir’ daripada judul filmnya pun sangat personal, tentang transisi, dan tentang waktu yang telah tiba. Sebagian dari kita telah hidup dalam kebahagiaan yang kita pupuk dalam kebohongan yang kita buat, dan Jimmie mencoba berdamai dengan itu. Ia melihat kotanya telah berubah hingga titik dimana ia harus mulai menanggapi itu.

Endingnya puitis dan beberapa orang akan menganggapnya relevan. Ini adalah sebuah film yang entah kenapa akupun membanggakannya. Jika saja aku orang San Francisco, aku akan terus-terusan membicarakannya pada orang-orang.