Review – The Jungle Book (2016)

4.5

Full-hearted, The Jungle Book mewarisi status precious kisah klasiknya sembari menggarisbawahi hal yang patut kita antisipasi. Bahwa sejatinya, nature is scary.

re jungle bok

Walaupun digemari, tapi bukan hal yang mudah untuk mengadaptasi sebuah karya berbasis chapter milik Rudyard Kipling paling populer sejagat, The Jungle Book. Kisahnya jadi materi paling diperebutkan di industri film. Dekade ini, akan ada dua studio yang akan mewujudkan motion picture-nya : Satu adalah Disney (tahun ini) dengan Jon Favreau di kursi sutradara dan Warner Bros dengan Andy Serkis yang akan tayang pada 2017. Keduanya disajikan lebih realistik dengan topangan advanced technology pada produksinya. Kita akan membahas versi-yang-lebih-dulu-datang, the Favreau’s one.

Highlight impression : The Jungle Book berhasil. Memuaskan baik bagi yang baru dengan kisahnya, dan juga para fans yang bahkan sudah tahu bagaimana film akan berakhir. Adalah karena gaya storytelling Favreau yang klasik, dan mengikat orisinalitasnya. Memangkas keutuhan semesta kisah versi Kipling, namun masih menjaga hal-hal yang penting. Tapi bagi awam sepertiku, setiap komponen film ini sudah sangat komplit dan terasa mengejutkan ketika semakin lama, sosok karakter satwa baru muncul dan tidak hanya numpang lewat. The Jungle Book, sempurna sebagai bahan tawaran keluarga untuk tontonan fable-flavoured yang heartwarming, tapi tetap harus mengantisipasi tone film yang selalu berubah, kadang fun, namun edisi Favreau ini juga kental dengan komponen cerita dan suasana dark dan suspense.

Tak terlalu mengejutkan ketika CGI lebih banyak bercerita, bahkan penggunaan vfx menjadi tepat sasaran ketika potrayal karakter hewan dituntut harus mengena dan terlihat vivid. Kru grafis Favreau harus berusaha keras untuk tugas besar ini, pasalnya, mereka harus menghidupi film yang membutuhkan berbagai lanskap kompleks nan rumit tentang seluk beluk hutan, karena perjalanan Mowgli yang mengendalikan genre film yang walaupun set-nya tidak seluas itu, tetap harus terasa adventurous. Rain forest, hingga reruntuhan candi bercorak India. Dan semua ini terbayar oleh pengalaman visual stunning yang kudapat.

Ini adalah tentang anak manusia (di film disebut sebagai man-cub) bernama Mowgli (Neel Sethi) yang sejak balita telah dibesarkan oleh kawanan serigala. Seekor serigala betina bernama Marsha, kita kenal sebagai ibunya. Menjurus ke backstory, Mowgli dulunya ditemukan abandoned di tengah rimba oleh seekor Panther melanis bernama Bagheera, yang sepanjang film imejnya terkesan bagaikan godfather atau paman bagi Mowgli. Bagheera memasrahkan keselamatannya pada kawanan serigala, dipimpin oleh leader Akela, Mowgli tumbuh dalam keseharian serigala berdarah manusia. Namun ternyata seekor macan bengal ternama bernama Shere Khan tak menyukai eksistensinya dan ingin mengancam keselamatan Mowgli. Para serigala dengan berat harus melepaskan Mowgli untuk pulang ke Man-village dan hidup sesuai kodratnya. Ditengah perjalanan, Mowgli menemui banyak ancaman dan teman baru. Seperti ketika ia bertemu Baloo the Bear yang menyelamatkannya dari bahaya besar, yang akhirnya keduanya terhubung sebagai very best friend.

The Jungle Book jauh lebih tegas pula dalam pesannya, dengan Favreau, film ini mengantarkan banyak esensi yang membuat penontonnya melekat dengan background filmnya, kehidupan hutan dengan perspektif para hewan dalam bernaluri, awas terhadap hal seperti survival, tapi tidak lupa disuntik dengan unsur humanity yang kian memperhangat. Intisarinya melanturkan berbagai hal tentang hukum alami, segala potensi manusia yang dimiliki Mowgli untuk memudahkan aktivitasnya yang lebih dikenal sebagai tricks, adalah hal terlarang bagi Marsha. Mowgli harus hidup layaknya serigala, minum langsung ke sumber air tanpa wadah dan sebagainya. Menarik juga melihat bagaimana The Jungle Book mengurai bahwa hewan hutan menganggap manusia sebagai kreatur penuh ancaman karena kemampuan mereka dalam menciptakan bunga merah (api) yang hanya terdefinisi sebagai sumber bahaya bagi seluruh hewan hutan. Tak lupa ketika Bagheera menyuruh Mowgli untuk menundukkan kepala ketika kawanan gajah lewat sebagai gestur meghormati, so majestic. Sepertinya Favreau melakukan riset tentang animal behaviour yang teliti sebelumnya.

Penampilan yang enerjik oleh muda-pendatang baru, Neel Sethi sebagai satu-satunya komponen hidup, on dan off-screen. Peran fisikal yang melelahkan mungkin, karena ia sering terlihat memanjat pohon, berlari-lari ditengah savana, berenang dan tidak lupa ketika ia harus pura-pura kewalahan, penuh lumpur karena terjebak diantara lembu-lembu yang berlarian. Well, ia hidup dihutan, dan Sethi memberikan semuanya agar Mowgli terhidupi sebagai anak rimba. Performansinya menjiwai, aku bahkan lupa bahwa dia adalah ‘manusia’, Sethi dengan apik mewujudkan jati diri Mowgli yang lebi nyaman hidup dengan para binatang-binatang. Tapi credit harus dilayangkan pula pada karakter digital-nya, akan kusebutkan satu persatu : Lupita Nyong’o (suara Marsha), Ben Kingsley (suara Bagheera), Bill Murray (suara Baloo), Giancarlo Esposito (suara Akela), Idris Elba (suara Shere Khan), Christopher Walken (suara Louie si orangutan) dan Scarlett Johannson (suara Kaa si anakonda). Karakter yang simple-but-very strong adalah kesan bagi hewan-hewan ini. Mereka bukan serta merta karakter yang dikenal oleh suara orang dibelakangnya. Sound mixing yang mencampur suara alamiah diantara dialog, ketika Shere Khan berbicara sambil mengaum, hingga Kaa berbicara sambil berdesis, hal kecil namun sebenarnya penting.

Sisi produksi adalah hal yang patut dibicarakan, dan walaupun eksekusinya tidak terjun ke hutan langsung, tetap saja adalah PR tersendiri bagi Favreau. Dan selain kerja ekstra para animator, Favreau juga memaksimalkan seni pengambilan gambarnya, camera works yang menurutku ajaib, efek shaking ketika menyunting Mowgli saat lari dari bahaya, hingga quick moving camera melewati batang-batang pohon ketika Mowgli menyisir satu pohon ke pohon lain. Sempat juga ada effort yang tak luput dari atensi ketika mewujudkan efek cipratan air dan lumpur pada kamera.

Pada akhirnya, The Jungle Book, bagiku adalah masterpiece. Pilihan kata yang luar biasa dalam setiap konversasi antar tokohnya yang menciptakan Jungle Book yang sangat bijaksana. Menonton cuplikan behind the scenes film ini menambah admirasi, kadang aku tak habis pikir, bagaimana caranya film yang dikerjakan di green/blue screen oleh satu orang bisa se-emosional ini. Seperti Life of Pi yang dengan cara yang sama, membuat Richard Parker (sang macan) hidup. Jungle Book bahkan membuat semua hewannya hidup.

 Backup_of_re2