Review – The Intern (2015)

2.5

Gaya ceritanya yang episodik namun asyik diikuti dan juga garapan tokoh Meyers yang terasa ordinary. Lebih cocok berjudul ‘Robert De Niro : Daily Life’ , versi fiksi.

re the intern

Dramanya ringan, The Intern, tidak cukup sulit untuk menembus permukaan para penikmat film umum. Tapi sebelum membahas filmnya yang so so seasoned, aku ingin mengatakan bahwa mungkin ini salah satu film easiest bagi Robert De Niro. You know, he plays the good guy. Dan The Intern justru ingin membuatnya terasa lebih mudah lagi, tidak ada peragaan yang sulit. Ben Whittaker (karakter De Niro) adalah orang paling humanis sejagat, dan De Niro hanya butuh menjadi orang tua, selayaknya orang yang berumur 72 tahun seperti dirinya sendiri. Cukup adil, sangat senang untuk melihat De Niro menjadi karakter sentral yang lovable, dan impresinya ketika mengulang-ulang kata ‘hai’ didepan cermin yang secara khusus mungkin akan memuaskan para fan mengingat ia memiliki adegan similiar yang ikonik di Taxi Driver ( adegan You talkin’ to me !?).

Tentang Ben Whittaker sendiri, ia adalah seorang 70 tahun, dari awal kita sudah ditunjukkan lewat monolognya sendiri, ini adalah tentang dirinya. Duda sehat dan bugar, rajin mengikuti yoga, ramah dan bersemangat, selalu mencoba hal baru, tidak masalah mempelajari hal yang sulit pada usia tua, berjalan kaki dan tersenyum. Sudah kusebut, dia adalah orang paling humanis sejagat. Tapi Ben adalah pensiunan, ada perasaan yang hilang, harus ada yang dikerjakan, tanpa berpikir dua kali, ia apply sebagai Intern (pemagang) di perusahan startup online-fashion (yang sebenarnya sudah cukup maju dan sukses) di dekat tempat tinggalnya di Brooklyn. Setelah mengirim video wawancara dan wawancara langsung, Ben diterima sebagai pemagang senior di AboutTheFit (ATF), mengerucut, Ben ditugaskan (sepertinya secara random) sebagai asisten CEO ATF, karakter penting kedua yang diperankan Anne Hathaway sebagai wanita karir bernama Jules Ostin, muda yang serba sibuk dan agak sulit untuk dekat dengan orang lain, tidak mudah berkomunikasi atau menaruh kepercayaan pada orang baru (tapi ini bukan berarti ia tidak bisa ramah).

Sekarang mulai ketahuan polanya, chemistry yang ingin dikembangkan Nancy Meyers (sutradara) lewat perwatakan dua karakternya. Jules sama sekali mengacuhkan Ben diawal dan bahkan menawarinya untuk ditugaskan untuk job desc lain karena ia takut sifatnya akan diterima Ben sebagai disrespek yang berujung pada sakit hati, tapi karena itu adalah Ben, dia hanya seperti “That’s fine, bukan masalah“. Hingga suatu hari Ben mampu menarik hati Jules dengan membereskan salah satu meja paling berantakan di kantor yang tanpai ia perintahkan, dan siangnya, bersedia menggantikan supir Jules yang kurang enak badan untuk mengantarnya ke suatu tempat. Jules mulai mengenal Ben. Karena Ben sudah dicintai penonton sejak awal, rasanya selalu menyenangkan jika Ben juga senang atau disenangi karakter-karakter lainnya. Kurasa ini adalah salah satu kekuatan filmnya.

Begitu berekspresi dengan banyak cara, film ini terstruktur dengan cerita-cerita kecil yang sebenarnya terkesan episodik, isu-isu baru yang tak bertahan lama, kadang sedih kadang senang, bagus untuk mengembangkan karakter, tapi konsekuensinya adalah durasi, terlalu lama, dua jam tidaklah terlalu lazim untuk drama regular seperti The Intern.

Bagaimanapun, film hasil naskah Meyers sendiri ini punya banyak alasan untuk dicintai, aura positif selalu ada disetiap karakternya, beberapa momennya pasaran namun efektif untuk mengesankan film yang sweet dan heartwarming, kelucuan juga bisa ditengarai pada beberapa titik. Sosok De Niro yang tua bisa menyatu dengan aktor-aktor muda lainnya, berbaur. Kisah unlikely friendship antara Ben dan Jules adalah sorotan utama, tapi kisah kecil lain juga disajikan tidak kalah menarik, dengan mengoptimalkan tagline film : Experience never gets old, karakter De Niro mengisi kehidupan magangnya dengan berbagi pada anak-anak muda disana tentang life advice, mengatasi masalah relationship, bagaimana harus selalu bijaksana dan banyak lagi. Melihat Ben diterima ditengah-tengah orang-orang muda dengan cara seperti itu ditambah kisah kecil tentang love interest Ben, sekali lagi, ini semuanya menyenangkan untuk diikuti.

Tapi ada satu hal, yang sebenarnya tidak boleh kuprotes tapi memang terkesan let down, Meyers seketika kebingungan mau diapakan lagi karakter Ben pada sekitar pertengahan paruh kedua, dan disini, kita diarahkan pada sosok Jules sebagai sentralnya. Dan karena khawatir mungkin, Meyers memaksakan bumbu konflik cheesy untuk ditempelkan pada karakter Jules. Akhirnya lebih sentimentil tapi tidak se-mengena bagian-bagian awal film. Kalau saja film ini absolut tentang Ben saja, aku mungkin akan lebih menyukainya, karena mau tidak mau pasti juga akan terasa lebih jujur.

Ini bukan berarti Anne Hathaway memainkan perannya dengan bagus, kurasa deskripsi pribadi Jules luar biasa, dan Anne mendapatkan jiwanya. Dengan De Niro, karakter mereka menjalin kemistri yang apik, kadang terlihat seperti bos-karyawan, ayah-anak juga sahabat karib. The Intern adalah film lovable untuk sebagian, untukku, it’s an ‘okay’ movie.

re 2.5