Review – The Gentlemen (2019)

2.5

Narasi yang tidak efisien dan konklusi-konklusi kelewat praktis menjegal penampilan berkelas para kriminal di The Gentlemen.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa menonton film semacam ini selalu asik. Filmnya punya satu set tokoh-tokoh dengan pesona, dimainkan oleh aktor-aktor yang terkenal. Bersama mereka adalah narasi saling tipu-menipu yang menggelitik dibungkus oleh kriminalitas yang cukup dalam kadar. Inilah Guy Ritchie, sutradara yang paling suka dengan komedi-aksi.

Di periode akhir 90-an dan awal 2000-an, Guy Ritchie ulung menggarap film-film dengan nada serupa. Beberapanya benar-benar unggul dalam daftar film kesukaanku, seperti Snatch. (2000) Dan Lock, Stock, and Two Smoking Barrels (1998). Dan sepertinya Ritchie-pun menyukai film lawasnya itu juga sampai-sampai dia kesulitan move-on. Beberapa kali sudah mencicipi hal yang berbeda seperti menyunting Sherlock Holmes (2009), King Arthur (2017) dan Aladdin (2019), ujung-ujungnya dia masih betah dengan cerita komedi-aksi dengan membawakan The Gentlemen, pada akhir tahun kemarin.

Yang pernah menonton Snatch. Pasti ingat betapa filmnya bejubel karakter. Nah, di The Gentlemen sama halnya (bahkan konsep posternya juga sama). Menceritakan sebuah pebisnis kaya raya Amerika bernama Michael ‘Mickey’ Pearson (Matthew McConaughey) yang hendak menjual ladang mariyuana skala besarnya di Inggris yang mengantarkannya pada calon pembeli, milyuner bernama Matthew Berger (Jeremy Strong). Disisi lain, seorang gangster China yang kaya juga, Lord George lewat anak buahnya, si bengis Dry Eye (Henry Golding) mencoba menawar aset Pearson pula, namun berakhir ditolak.

Ditengah negosiasi dengan Matthew yang sedang berjalan, ada kasus bahwa salah satu lokasi perkebunan mariyuana Pearson terekspos orang luar yang mencuri beberapa pot dan menjadi viral. Tentu Pearson kaget karena semua 12 titik ladangnya beralamat rahasia.

Dalam situasi pembicaraan bisnis yang masih tertunda-tunda itu, sekonyong-konyong seorang detektif swasta bernama Fletcher (Hugh Grant) bertamu kerumah Raymond Smith (Charlie Hunnam) yang tidak lain adalah tangan-kanan Peason. Fletcher mengaku telah menyelidiki kasus yang menimpa bos Raymond yang ternyata penuh konspirasi dan telah mengindikasikan potensi pemerasan alias blackmail.

Fletcher bersedia menceritakan semuanya dan memberikan bukti-bukti riil penyelidikannya asalkan dia diganjar 20 juta poundsterling, karena akunya cerita yang dia himpun cukup memojokkan Pearson. Jika tidak mau, Fletcher mengancam mengoper cerita itu semua ke Big Dave (Eddie Marsan), editor tabloid yang ingin sekali merusak reputasi Pearson.

Dengan cerita multiperspektif itu, Ritchie bisa saja membuat semuanya tersambung dalam satu benang merah pada akhirnya. The Gentlemen mengalir urut, mengurai sesuatu yang mengantar ke adegan lebih menarik. Namun sayangnya, ditutup dengan konklusi yang menurutku tidak memuaskan.

Tapi sebelum bicara konklusi, disepanjang jalannya pun terasa sekali kalau film ini beberapa kali menunjukkan ketidakberesan. Pertama adalah temponya yang cepat namun Ritchie malah menjejalkan adegan-adegan dengan terlalu banyak informasi sedari awal. Tentu saja ini merepotkan bagi penonton, apalagi yang benar-benar mengandalkan keberadaan subtitel. Dan ternyata beberapa detil informasinya juga tidak terlalu amat dibutuhkan untuk bisa terus mengikuti cerita filmnya.

Mungkin memang itu dampak tak terhindarkan dari keputusan Ritchie untuk menarasikan sekitar tiga-per-empat bagian filmnya dari mulut Fletcher tatkala menceritakan hampir dari semua ini kepada Raymond. Terus terang aku sedikit stress dengan cara filmnya dibawakan lewat sudut pandang orang ketiga seperti ini. Ini membuat kita yang menonton kuatir; kuatir dengan linimasa dari potongan-potongan adegan yang ada, kuatir dengan potensi kemanipulatifan si pencerita itu sendiri. Kans untuk menjadi kebingungan dalam memahami filmnya bertambah disini.

Sebenarnya ingin dibawakan dengan cara begitupun tidak apa-apa, jika saja Ritchie bisa menunjukkan bahwa itu semua memang diperlukan. Masalahnya aku tidak melihat dan justru merasa ini semua tidak efisien. Hubungan antar karakternya yang dangkal juga membuat keramaian tokoh difilm ini tidak merepresentasikan lingkungan set yang luas. Padahal, sekali lagi, Ritchie sudah payah-payah menjelaskan hampir semua latar belakang individu-individu yang ada. Tidak efisien lagi, kan?

Berbicara lainnya, etos dan ambisi Ritchie memang besar, tapi dia terbebani sendiri oleh akibat itu. Hasilnya, adegan-adegan yang bersifat ‘menjelaskan’ kesannya sepele dan kepingin praktis. Misalkan mengenai kelanjutan nasib Lord George yang gampangan dan ketika Fletcher dengan hebatnya bisa menguntit pertemuan cukup rahasia di Emirates Stadium dan dengan ajaib dia bisa membaca gerakan bibir mereka.

Hingga akhir, The Gentlemen tidak terlalu bisa memberikan kejutan yang merubah pendapatku bahwa film ini lebih cerdas daripada itu. Dan aku akan mengucapkannya lagi, bahwa endingnya tidak memuaskan. Maksudku, setelah semua itu, lantas untuk apa?. The Gentlemen bahkan belum menjawab rumusan masalah premisnya sendiri.

Ritchie terlalu menyayangi beberapa karakter difilmnya ini sehingga terlihat kalau dia mencoba bermain aman dengan karakter, dengan nasib mereka. Toh filmnya sendiri juga memberikan hint bahwa kemungkinan ini akan dibuat sekuelnya. Tapi seharusnya itu tidak bisa jadi alasan yang membolehkan filmnya tak terjawab seperti ini.

Melihat gaya penceritaan, desain karakter, pilihan playlist dan pergerakan plot seperti ini, ditambah adegan ‘babi’ diakhir itu, The Gentlemen laksana digarap untuk kepuasan pribadi sang sutradara. Tapi Guy Ritchie masih belum sepadan dengan versi dirinya dahulu, setidaknya film ini menunjukkan bahwa ia mencoba kembali.

Tematik-tematik baru dewasa ini telah mempengaruhi karir Ritchie: spionase dan fesyen, yang jujur tidak terlalu memikat untukku. Aku rindu Guy Ritchie yang lebih domestik, yang plotnya selalu menarik dalam kesemerawutan daripada sok sistematis. Yah, pada akhirnya Ritchie sendiri lah yang berhak memutuskan ia mau kearah mana lagi setelah ini. Paling tidak dia puas dengan apa yang dia kerjakan.