Review – The Expendables (2010)

 

The Expendables sangat tidak realistis dan juga diluar logika, sepertinya Sylvester Stallone tak habis pikir agar film aksinya bisa lebih mendebarkan dan heboh. Okelah..

Project The Expendables akan terdengar menyenangkan pada waktu itu, bagai jawaban dari angan-angan pecinta film aksi kelas Blockbuster. Seperti suatu dream comes true, The Expendables begitu memicu rasa penasaran, ‘bagaimana jika jagoan-jagoan pukul dikumpulkan menjadi satu film, satu aliansi untuk memberantas kejahatan ?’, belum terjawab, lahir juga pertanyaan, ‘memang siapa yang mau melawan mereka, bodoh ?’.

Sylvester Stallone bertindak sebagai sutradara disini, dan ditemani Jason Statham, ia merangkap sebagai lead-actor di film aksi yang kau tahu akan menawarkan riuh bangunan dan mobil meledak yang sangat masif dalam segi kuantitas. Tapi bukan itu saja yang membuat film ini benar-benar sebuah badass. Banyak aktor-aktor laga lain yang diundang bermain di film ini, Jet li, Dolph Lundgren, Steve Austin juga Mickey Rourke serta cameo Arnold Schwarzenegger dan Bruce Willis adalah penghias mewah. Memang terbesit perasaan, itu akan sangat keren jika mereka melakukan adegan pukul tembak dalam satu scene, menebak-nebak siapa yang meleset atau tertembak duluan jika semuanya diadu, namun jika co-star terlalu bertabur begini, justru keinginan bertambah sederhana, saya pribadi lebih tertarik untuk melihat how do they look ketika berbicara satu sama lain, itu lebih asik dan menantang, melihat siapa yang lebih bernyali dalam menasehati satu sama lain.

Ceritanya membosankan, tapi aku tidak bicara ini gagal. Mengisahkan seorang CIA yang menunjuk timnya untuk menumpas Diktator latin di sebuah pulau kecil bernama Vilena yang kebetulan ada seorang pengkhianat CIA disana. Tapi sangat tidak menggambarkan screenplay yang digarap oleh tiga orang jika plot-nya berhenti disitu, The Expendables mencoba menawarkan hal lain seperti kisah Lee (Statham) dan pacarnya, si nekad Sandra (Giselle Itié) dan cerita pedih Tool (Mickey Rourke) saat misi di Bosnia. Tapi terus terang, hampir tidak ada momen yang berarti banyak untukku, semuanya sangat dangkal. Jokesnya tidak kalah cheesy, gurauan-gurauan yang hanya ditertawakan karakter-karakter didalamnya, seperti Jason Statham dengan guyonan ‘Buda-Pest’-nya.

Rating R yang diemban film ini hanya beralasan untuk adegan gore yang porsinya betul-betul sedikit, kecewa mungkin karena opening scene-nya kataku lumayan sadis tapi ternyata setelahnya The Expendables lebih fokus bagaimana filmnya bisa aman ditonton para keluarga yang ingin bareng-bareng ke bioskop. Tapi yang mereka peroleh tidak lebih dari sekedar kejar-kejaran murah, efeknya lumayan memukau namun style editing film ini yang begitu rentan pindah kamera sungguh bikin pusing dan semakin lama menjengkelkan, seolah seperti trik agar actionnya terasa thrilling disana walaupun tanpa ada koreografi menjanjikan.

Notheless, bagaimanapun aku tidak akan menyalahkan keburukan film ini, antisipasi akan kekecewaannya sudah kupersiapkan. The Expendables bisa jadi tontonan makan siang, walaupun bisa bikin gregetan dengan ketidakmasukakalan naratifnya. The Expendables patut dipuji, bukan dari acting atau story-nya, namun keinginannya untuk menjadi sesuatu yang kompleks

2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick