Review – The Exorcist (1973)

Yang ditawarkan film ini adalah kisah pengusiran setan oleh Pastor yang mungkin paling hebat di muka bumi melawan iblis yang mungkin paling kuat di muka bumi. Terrifyingly Epic.

Dekade 1970 telah menjadi favoritku, dan setelah banyak bentuk karya seni menjadi alasan dibelakangnya, kini sebuah film klasik menguatkannya. The Exorcist tidak hanya membuatmu jantungan dan menutup mata lekat-lekat, ia digarap dengan sangat cerdas, mencoba realistis untuk berbagai aspek. The Exorcist begitu pawai dalam memberikan premis terhadap apa yang dirasakan seorang wanita yang mengalami dilema ketika anak gadis 12 tahun satu-satunya mendadak mengalami perubahan kepribadian dilengkapi dengan sikap-sikap tak masuk akal : Antara Sains dan Takhayul, masalahnya, mana yang kau percayai.

Kisahnya diawali oleh kehidupan normal Chris MacNeil (Ellen Burstyn), aktris dengan rumah besar namun berpisah dengan suami, kini hanya ada beberapa pembantu dirumah dan anak perempuannya, selebihnya hanya popularitas dan rekan kerja. Tapi filmnya tak membahas tentang itu, namun lebih pada beberapa kejadian tak umum mulai bermunculan dimana loteng selalu mengeluarkan suara atau ketika lampu rumahnya melakukan prosedur mati-nyala dengan sendirinya. Hingga akhirnya ia mendapati bahwa sang anak gadis juga berperilaku aneh, berbohong atau apapun itu, MacNeil sudah mendapat cukup alasan membawa sang anak, Regan (Linda Blair) ke rumah sakit untuk diperiksa kesehatannya.

Kau tidak akan terlalu percaya hantu, atau kekuatan gaib, tidak untuk masa-masa itu ketika perkembangan kedokteran telah menemukan ide tentang masalah kejiwaan, apalagi jika kau bukan seorang katolik. MacNeil has no clue !, segala terapi dan operasi-operasi dilakukannya kepada anaknya, anomali kepribadiannya pasti dipengaruhi oleh syaraf dan otak, pikirnya diawal. Hingga diagnosa menunjukkan tidak ada masalah, dan MacNeil melihat dengan mata kepalanya sendiri ranjang Regan melompat-lompat dengan sendirinya, perlahan ia menyadari bahwa semuanya bukan masalah kedokteran. The Exorcist dibangun dengan pelan dan pasti, ini nikmat dan memberikan kesempatan penontonnya untuk berpikir, dan mungkin jauh lebih relevan jika kau hidup dan menonton filmnya pada masa-masa yang sama.

Kejadian kematian rekan kerja MacNeil, Burke yang misterius, dengan indikasi jatuh dari jendela kamar Regan dengan kepala terpelintir memutar, memancing munculnya karakter Lt. Kinderman, seorang polisi yang tertarik dengan kejadian ini. Ia mempelajari motif kematian Burke, dan pada saat yang sama meminta tolong karakter utama kita lainnya, Pastor Karras untuk andil. MacNeil dan Karras bertemu, The Exorcist merujuk pada titelnya mulai pada titik ini. Filmnya membuka ruang bagi pendalaman akan ide spiritual, tentang teka-teki dan kebimbangan. Pastor Karras mulai mengetahui bahwa tubuh Regan sedang termasuki sesuatu yang lain, yang membuatnya semakin terganggu karena kita tahu bahwa Karras memiliki permasalahan pribadi menyangkut apa yang ia percayai.

Walaupun tak pernah disebut secara langsung dalam skrip William Peter Blatty (beliau juga penulis Novel asli yang ia adaptasi sendiri), The Exorcist erat dengan mitologi, seperti sudah kubilang bahwa konsepnya berwawasan. Tentang dimensi dunia lain yang kita tak tahu batasnya dan misteri bagaimana satu dan yang lain bisa berhubungan. Filmnya dibuka dengan adegan penggalian di Iran dan tentang bangkitnya iblis jahat, begitulah. Dan hubungannya dengan kasus di Georgetown dimana seorang gadis belia bisa tiba-tiba berjalan seperti laba-laba terbalik dengan mulut penuh darah ?, itulah yang akan kita pelajari. Kita akan belajar tentang eksistensi dan kekuatan salib, eksistensi dan akal bulus iblis, dan kisah berdampak tentang bagaimana seorang Pasor pengusir setan bersua dengan takdir yang mungkin telah ia ketahui.

The Exorcist tidak hanya berbalut horor, dilema psikologisnya jauh lebih kuat. Filmnya membuat penonton berpikir bahwa manifestasi setan bisa begitu jauh. Dan konsep ini telah merasuk sebagai inspirasi film-film horor terkini. Aku baru menyadari bagaimana The Conjuring 2 sangat menyerupai idenya, bahkan improvisasi reverse playing daripada tape recorder.

Sedikit diatas The Omen yang juga mempersembahkan kebangkitan ancient devil juga tentang orang kaya raya dengan masalah pada anaknya, The Exorcist menjadi favorit baruku dalam urusan hal tentang kesurupan atau kerasukan. Jika The Omen lebih terasa outdoor, The Exorcist lebih suka bermain di ruang kamar dengan Regan yang sedang dikendalikan oleh iblis sambil terikat diatas kasur. The Exorcist menawarkan studi lebih kompleks daripada kasus kematian misterius. Dan adegan ‘Exorcism’ sebagai babak akhir filmnya, adalah grand final yang harus kuberikan tepuk tangan berkali-kali. Luar biasa.

The Exorcist telah banyak membuat kegaduhan pula dibelakang layar, ada cerita penonton yang mati karena ketakutan, atau jantungan ketika melihatnya. Atau trivia dimana cast dan crew yang meninggal saat proses filming. Aku tidak akan mengomentarinya, apakah kita harus percaya takhayul sekarang ?. Untuk itu jawabannya bisa beragam, tapi apakah The Exorcist adalah sebuah mahakarya seni dan kisah yang mengagumkan ?. Untuk itu, jawabannya hanya iya, atau tentu saja !.

 

 

5

Summary

Adegan Grand Finale yang tersajikan dalam waktu yang lama membuat filmnya monumental, ini bukan horror, ini adalah drama, antara pendeta dan setan.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick