Review – The Darjeeling Limited (2007)

5

Ini adalah perjalanan kultural-rohani tiga bersaudara yang penuh kecelakaan. Tapi andai saja kisah mereka tak seperti itu, film ini tak akan bisa terasa se-magis ini dalam memberikan suguhan tentang spiritualisme dan brotherhood.

The Darjeeling Limited, walaupun tak begitu termahsyur direntetan list film Wes Anderson, ia akan selalu yang paling terasa menentramkanku berulang kalipun aku menontonnya. “Ekspresionis”-nya Anderson akan begitu terlihat, sang sutradara betul-betul merdeka disini. Beberapa kritik mengatakan ceritanya tak memiliki poin dan betapa hambarnya itu, dan mungkin Anderson-pun tahu itu, ia hanya tak peduli. Film ini adalah karya dengan sentimentalisme, dan kuulangi lagi, penceritaannya mengalir merdeka. Dengan India sebagai latar belakang utama dari awal hingga akhir yang akan menemanimu secara visual dan pendengaran.

Anderson-pun mengatakan hal yang sama, film ini adalah persembahan akan kecintaanya dengan unsur lokal yang ada di dalamnya: Budaya dan orang-orangnya. Representasi yang ia gunakan adalah tiga bersaudara yang sedang menjalani “Spiritual Journey” disana. Saat itu adalah awal mereka bertemu lagi setelah setahun tak pernah saling bertemu atau mengabari, setahun setelah ayah dari mereka meninggal.

Owen Wilson adalah Francis Whitman, sang kakak sulung yang mengatur pertemuan ini, dia akan sering mengadakan perjanjian dengan yang lain dengan tujuan memper-rapi keadaan, inginnya. Tapi mungkin itu tak terlalu digubris kedua adiknya, adalah Adrien Brody sebagai Peter Whitman sang kakak tengah dan sang adik paling kecil Jack Whitman (dimainkan oleh Jason Schwartzman).

Harus diakui, Wes Anderson sungguh berhasil mengarang hubungan brotherhood yang irasional namun memiliki segalanya untuk menarik diikuti. Ketika mereka bertiga duduk dan berbicara bersama, bahasan dan tindak tanduk mereka mengekspresikan hubungan love-hate yang membuatmu meringis. Mulai dari jangan memesankan makanan untukku, hingga bergiliran meminjam obat-obatan satu sama lain. Mereka akan mencoba untuk percaya satu sama lain hingga mereka menyadari bahwa mungkin itu terlalu sulit dilakukan. Mereka saudara yang kesulitan dalam memahami sesama. Situasi persaudaraan mereka akan beberapa kali berubah, terbimbing oleh waktu sepanjang kereta mereka masih terus menjadi altar kisahnya.

Apapun yang terjadi di masa lalu tentang tiga bersaudara ini, Anderson hanya fokus pada masa sekarang. Anderson menciptakan momen, bukan mendiskusikan kenangan. Pokoknya, ada yang tidak beres dengan keterbukaan antar lakon utamanya, mereka merahasiakan cerita untuk satu orang, namun tidak mengatakannya untuk yang satu lagi. Dan selanjutnya adalah debat kecil tentang hal sepele yang seperti tak akan pernah berhenti, mulai dari “Apakah itu milik ayah ?”, hingga “Kuambil kembali hadiahku padamu.”

Bagaimanapun juga ketiga Whitman kita memiliki hubungan darah, dan mereka berada pada petualangan yang sama. Francis telah menyiapkan upacara tertentu di sela-sela agenda mereka untuk dilakukan bersama-sama dan ikut berdoa di tiap kuil kuil India yang mereka singgahi. Mereka akan saling bertanya satu sama lain setelahnya. “Apakah ini bekerja, apakah kau merasakan sesuatu karena ini ?”. “Harusnya sih begitu.”

Tema komedi apes melekat pula di nasib ketiga saudara ini, seperti bagaimana karakter Gene Hackman di The Royal Tenenbaums. Tersiratnya Anderson ingin memperlihatkan kekompakan ketiganya dalam menghadapi kesulitan. Mau diapakan saja, mereka akan berdiri disamping yang lainnya.

Penuturan yang mendalam, The Darjeeling Limited memberikan kisah ‘tak direncanakan’ untuk tiga tokoh utama kita, namun mungkin semua yang pada akhirnya terjadi menjadi perjalanan paling magis, kulturistik, dan meditatif bagi ketiganya. Mereka mulai mengerti satu sama lain, dan diantara itu, Anderson memberikan sedikit kisah singkapan tentang kehidupan pribadi masing-masing dari mereka. Tentang Alice kekasih Peter, wanita di cerita pendek Jack dan asisten pribadi Francis.

Dengan sinematografi andalan, The Darjeeling Limited tampil minimalis dengan set tempat yang sesungguhnya luas. Dia mengakhiri ini semua dengan syahdu dan seperti tak mau berakhir. Humor dry-wit yang selalu mencuri perhatianku tentang betapa instingtif dan impulsifnya karakter-karakter didalamnya adalah kekuatan utama cirikhas flm Anderson terutama disini. The Darjeeling Limited adalah mengenai bertindak sesuka hati, self-indulgence; hasilnya kau tak akan mendapatkan cerita yang begitu berarti. Tapi kisah apapun itu, kau tahu orang-orang didalamnya menikmati itu semua, dan bagi penonton seperti aku, itu jauh lebih dari cukup.

Engineering student but movies way more than manufactures