Review – The Croods (2013)

The Croods menjelma sebagai film animasi yang saat ini kau pasti tidak ingat lagi, apakah DreamWorks hanya mewujudkan film ini sebagai peraup keuntungan semata ?

The Croods jatuh dimata metacritic, namun setidaknya gelontoran yang dihasilkan film ini bukan main, lifetime gross yang hampir menembus angka $200 juta dolar sudah cukup bagi pihak produser mengkategorikan The Croods adalah film yang sukses, dimana berbicara akan film terakhir DreamWorks, penguins of madagascar (yang sama-sama ambruk di metacritic) tidak mendapatkan uang lebih dari $100 juta.

Namun sangat tidak fair dan begitu sinis jika bilang The Croods sangat tidak deserved akan raihannya, sebagai penikmat film hasil downloadannya saya bisa menarik kesimpulan bahwa The Croods pasti sangat worth it untuk dinikmati di bioskop, setidaknya lewat visualnya yang warna warni dan desain yang begitu prestisnya. Tapi sekali lagi, selalu muncul keyakinan bahwa DreamWorks seperti tidak begitu berupaya dalam menggarap suatu animasi yang sekiranya menjadi animasi legendaris di benak penonton. Mereka begitu produktif membuat film dengan gelontoran sutradara yang berbeda beda, hasilnya kau tahu, Home, Turbo, dan Rise of Guardians (belum semuanya ku tonton) tidak mendapat rekapan nilai yang cukup baik.

Berbicara faktor yang membuat hal itu bisa terjadi lebih baik saya singgung kembali The Croods, tidak sulit, kualitas naskahnya tidak begitu kuat, character development yang mandeg dan stagnan, romance kecil-kecilan, konflik yang sama sekali tidak berkembang dan agak konyol ketika kau sadar permasalahan utama yang diangkat di film ini adalah perbedaan ideologi yang begitu, well, tidak penting, dan parahnya, film ini cukup sampai disana. Bahkan tidak ada evil character (sebenarnya aku tidak masalah tentang ini). Dipoles dengan character caveman yang begitu strong namun tidak terlalu memikat, The Croods sama sekali tidak mempunyai karakter ikonis dan bahkan salah satu karakternya terlihat seperti Hiccup di HTTYD.

Namun kuncinya sebenarnya hanya satu, film animasi membutuhkan suatu ‘fells’ yang akan sangat berguna untuk membuatnya lebih ‘compelling’, dan The Croods tidak mempunyai itu.

Oke, tapi film ini tidak begitu busuk, mengerti. Memang The Croods seperti kurang di berbagai aspek, tapi tidak untuk aspek fun dan bagaimana film ini begitu suitable untuk menjawab desire anak-anak, visualnya begitu kaya dan mencengangkan. The Croods adalah film tentang Trip, mengingatkan saya akan Cloudy With a Chance of Meatballs 2 untuk banyak alasan. Karakter hewan-hewan primitif yang stylish membuktikan bahwa animator DreamWorks berkembang dalam urusan desain, dan yang terpenting adalah setting tempatnya yang begitu memikat di setiap ronde-nya. Ya, itu cukup penting, tidak kehilangan perhatian penonton dengan menyuguhkan visual yang kuat adalah the only thing that matters disaat naskahmu tidak begitu menjawab.

Tapi sepertinya De Micco dan Sanders ingin menunjukkan apa yang mampu diberikan The Croods sebagai pembeda dengan memilih tema prasejarah. The Croods, tanpa sadar, membimbing penontonnya untuk mencaritahu cerita (yang tentu saja fiksi) akan nenek moyangnya, bagaimana alas kaki ditemukan, bagaimana api dapat menolongmu dari predator, how to pet animals, hingga sejarah bagaimana snapshot pertama ditemukan. The Croods mengajari bagaimana bertahan hidup dengan pemikiran inventif yang mudah masuk dan dipahami anak-anak.

Akhirnya The Croods memang tidak sanggup menyaingi Kung Fu Panda atau How To Train Your Dragon, namun sangat direkomendasikan jika kau mempunyai Blu-ray nya dan Home Theater dirumah, karena dari sana kau tahu apa dari The Croods yang mampu memuaskanmu.

3

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick