Review – The Conjuring 2 (2016)

3

Meneruskan kesan film pertamanya yang sungguh segar dengan ide horror, The Conjuring 2 hadir sebagai film yang secara mengejutan, begitu funny dan heartwarming.

Begitu banyak pertanyaan yang masih mengganjal setelah film ini selesai kutonton. Beberapanya masih membuatku ragu untuk mengatakan bahwa The Conjuring 2 benar film kualitas wahid, namun beberapanya memang aku tak mengerti, adalah tentang ‘dunia supernatural’ yang sangat membuat penasaran dan juga sangat kaya porsinya di film ini. Hal simpel tentang seberapa akurat seluruh rekaan dengan kasus asli rumah berhantu di Einfeld ?, apakah roh iblis memang bisa setangguh itu ?, apakah kunci untuk membunuh iblis hanya dengan kau tahu namanya, bahkan dalam kepercayaan tertentu ?. Berbicara lebih jauh tentang hal yang berpotensi spoiler, aku masih punya banyak pertanyaan disana, tapi akan kuhentikan disini. Mari kita bahas film ini sebagai penikmat yang tak terlalu rasional.

Aku yakin, para fan The Conjuring akan sangat terpuaskan dengan formula plot daripada sekuelnya satu ini. Masih ingat dengan kerangka cerita The Conjuring ?, pasangan Ed dan Lorraine Warren (Patrick Wilson & Vera Farmiga) yang sedang menangani kasus rumah berhantu di Rhode Island, lalu ada kisah boneka Annabelle sebagai kisah horor sampingannya. Well, The Conjuring 2 pun demikian. Kisah nyata tentang The Haunted House of Einfield jadi sajian utama bagi the Warrens disini, dan juga mimpi buruk Lorraine tentang ‘The Demonic Nun’ , menjadi kisah sampingan yang hadir berkat polesan naskah Chad dan Carey Hayes yang tidak kalah bikin merinding dan jantungan.

Kasus rumah berhantu Einfeld omong-omong, merupakan kasus nyata tahun 1977 yang merupakan salah satu case tentang aktivitas paranormal paling populer dalam sejarah dan bagi para cenayang di dunia. Mungkin kesemerbakan ceritanya yang menjadi inspirasi James Wan, sang sutradara untuk mengadaptasinya, ceritanya begitu cocok dengan unsur unik yang diemban film pertamanya, dan membuat film lanjutannya ini terasa tipikal.

Oke maksudku unsur unik adalah, The Conjuring telah berhasil menjadi film horror yang membuang embel-embel skeptisme antar karakternya. Roh jahat disini tidak hanya menghantui satu orang dan sekejap hilang ketika orang lain ada disana. The Conjuring adalah tentang terror, perseteruan dan pertarungan antara Warrens dan roh jahat sangat jelas, tidak hanya lengkap dengan scary moment, namun The Conjuring (baik satu dan dua) sempurna dalam mengantarkan atmosfer horror yang memaksa para karakternya tidak cuman ketakutan, namun juga panik dan berlarian. Film ini sarat dengan vandalisme dan juga violence yang menurutku menjadi senjata utama. The panic moments of this movie was brilliant.

Yang aku salutkan dalam film ini adalah : seluruh film bukan bulat tentang horror. Oke memang separuh babak bagiku agak keterlaluan, Wan seperti memukul adrenalin penonton berkali-kali dengan adegan anak-anak Peggy Hodgson yang terbangun malam hari, tidak ada lampu menyala, tiba-tiba terjadi sesuatu yang ganjil, dan mereka penasaran. Sungguh klasik Wan ! dan hal ini terjadi seperti 5 menit sekali !. Seluruh kekhawatiran atau justru antisipasi akan hal-hal seperti jumpscare komplit dihidangkan di setengah babak. Khususnya pada intro scene !, adegan Lorraine Warren yang memasuki alam lain untuk menyelidiki kasus Amityville nyaris membuatku pipis dicelana.

Lalu tiba-tiba semua menjadi frontal. Okay, we know it’s haunted, now how to get rid of it. The Conjuring 2, di saat yang tepat menuangkan bumbu drama untuk separuh sisa film. Setelahnya, setiap adegan begitu rasional dan cukup akurat dengan cerita aslinya. Apa yang kau lakukan ketika rumahmu berhantu, lari ke tetangga, lapor polisi, ya, akhirnya ada film hantu yang masuk akal, kekuatan gaib tidak hilang jika kau hanya mengandalkan keberanian !. The Conjuring 2, dari sana menunjukkan bahwa film horror bukan selalu tentang banyaknya ‘adegan menakutkan’ namun lebih ke resolusi, bagaimana cerita dan setiap adegan harus tetap terasa segar dan berkembang. Tanpa disadari, kita akan menemukan bahwa kasus Einfeld yang diangkat pada film terasa menarik. Kurasa semua setuju bahwa paruh kedua film ini bergenre ‘mystery’.

Keintiman chemistry antara Ed dan Lorraine juga patut jadi sorotan, yang menurutku juga merupakan keputusan bagus dari Wan untuk menegaskan bahwa franchise The Conjuring sebenarnya adalah tentang kisah pasangan ini. Dengan menanamkan sisi humanis dimana mereka menganggap cenayang lebih sebagai membantu sesama manusia daripada profesi, ini tribute yang sangat baik. Menjadi cenayang saat itu bukan tentang manajemen rasa takut lagi, jika terlalu jauh, nyawapun bisa jadi taruhan.

Kembali ke plot, sayangnya, aku kurang suka dengan ide dimana Wan meleburkan dua cabang cerita menjadi satu benang merah lewat plot twist yang menurutku juga terlihat dipaksa dan aneh, filmnya mendadak terlalu jauh bagiku, dan memang improvisasi dari cerita aslinya, entahlah. Semua telekinesis dan kekuatan inhuman yang terlalu powerful. Rasanya aku hanya tidak cocok dengan itu.

Well, sekuel The Conjuring memang tak sebaik pendahulunya, tapi ia layak disandingkan sebagai salah satu franchise terseram dan tersukses di jagat perfilman. Walaupun memang banyak yang mengatakan film ini banyak mengingatkan film horror terdahulu juga seperti The Exorcist, The Conjuring 2 bisa dikatakan fresh. Banyak hal yang membuatku merinding dan cukup traumatis, the sofa, the choir dan the sick painting daripada ikon viral yang membantu The Conjuring 2 dalam urusan marketing, Valak.

3

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick