Review – The Beatles: Eight Days A Week – The Touring Years (2016)

5

Eight Days A Week mempunyai materi yang menegaskan bahwa The Beatles memiliki: karisma yang memesona, skill musikalitas tinggi, perawakan sederhana dan keputusan karir yang sepatutnya kita hargai.

Harus kukatakan bahwa sutradara gado-gado Ron Howard (karena dia pernah menggarap film dengan bermacam genre) tak bisa lebih baik lagi dalam mengantarkan materi dokumenter bertajuk The Beatles: Eight Days A Week – The Touring Years ini yang mana, menawarkan jauh melebihi apa yang diekspektasikan orang dari judulnya. Filmnya memang tentang “touring years”-nya The Beatles, tapi awalnya kukira film ini akan fokus hanya pada “Tur” sebagai aktivitas. Namun ternyata Howard memberikan pemaparan pula mengenai segala dampak dan pengaruh segala “Tur” terhadap dunia dan kultur saat itu, bahkan juga bagaimana rangkaian “Tur” ini membentuk The Beatles setelahnya.

Howard menjelaskan histori The Beatles dengan checkpoint diskografi album secara bergiliran dan kronologis dimana ia membeberkan milestone-milestone dan materi menarik yang terjadi tiap kali The Beatles merilis album baru. Dari 12 total studio album, Howard mempreteli 8 album awal dan bercerita disana. Walaupun terdengar banyak, ini sama sekali tidak membosankan. Sama sekali.

Kecermatan film ini dalam mendapatkan dan memilah material dokumenter membuatnya selalu menggugah untuk diikuti. Dari potongan interview lama, video footage, foto tua, dan pemilihan narasumber yang tepat, dokumenter ini tidak hanya memberikan kesan nostalgis, namun sarat informasi dan edukasi mengenai sejarah dan budaya dekade 60-an.

Diawali dengan album pertama Please Please Me (1963) yang mengantarkan mereka dari band pub lokal Liverpool menjadi fenomena nasional, hingga album kedua With the Beatles (1963) yang menjadi pemicu dimulainya British Invasion ketika I Want to Hold Your Hand menjadi lagu nomor satu di Amerika. Bagian pertama film ini riuh dengan teriakan gadis-gadis muda menunjukkan kuatnya sensasi The Beatles.

Album A Hard Day’s Night (1964), Beatles for Sale (1964) dan Help! (1965) menggarisbawahi kesuksesan komersial mereka yang membuat mereka memiliki live action film mereka sendiri. Di Rubber Soul (1965), The Beatles membuat gebrakan dengan menulis lagu dengan kedalaman lirik yang berbeda dan mencoba topik yang lain selain tema “He loves her, she loves him back, then they together” yang mereka tekuni diawal. Di Revolver (1966), mereka mulai menjauh dari corak identitas sebelumnya dan mencoba bereksperimen dengan perisa avant-garde dan teknik-teknik sound mixing baru seperti pada track ‘Tomorrow Never Knows’.

Dan hingga pada akhirnya The Beatles benar-benar ingin pergi dari zona lama ketika McCartney cs memutuskan bahwa mereka mengakhiri Touring Years-nya The Beatles dan hanya akan fokus menulis lagu di dalam studio untuk seterusnya. Merekapun ingin dilihat dan dikenal secara berbeda, membelokkan setir gaya bermusik mereka ke sesuatu yang sama sekali tak sama, The Beatles merilis Sgt. Peppers Lonely Hearts Club Band di tahun 1967 yang awalnya nadanya terdengar tak lazim dan memiliki konsep album psychedelic yang aneh, namun akhirnya menjelma menjadi favorit kritikus dan dinobatkan majalah The Rolling Stone sebagai album terbaik sepanjang masa.

Eight Days A Week memiliki narasi apresiatif terhadap band Liverpool ini. Filmnya menjelaskan bahwa yang membuat The Beatles sangat berpengaruh, ialah tak hanya pesona mereka yang universal, namun dari sisi musik yang mereka telah ciptakan selama ini juga meninggalkan dampak yang kuat bagi perkembangannya.

Di Eight Days A Week, komedian Eddie Izzard mengungkapkan kekagumannya tiap kali The Beatles tampil cheeky didepan umum tanpa terkesan agresif atau mengganggu. Penulis/jurnalis ulung Malcolm Gladwell menjelaskan bagaimana The Beatles telah menciptakan kultur baru. Aktris sekaligus penggemar berat Whoopi Goldberg mengingat bagaimana The Beatles menolak sentimen segregatif ketika promotor tur mereka tidak memperbolehkan orang kulit hitam untuk hadir. Hingga komposer Howard Goodall yang menyebut banyaknya jumlah ‘great song’ yang diciptakan The Beatles menunjukkan bahwa dunia telah mendapatkan Mozart baru. Sebagaimana kau melihatnya, film ini mewancarai narasumber terkenal yang juga kebetulan penggemar The Beatles, menegaskan bahwa kekaguman yang mereka dapatkan hingga sekarang memanglah bukan tanpa alasan.

Eight Days A Week juga mewancarai Paul McCartney dan Ringo Starr disini. Melalui mereka, kita menilik nama besar yang menaungi mereka dari manajer pertama Brian Epstein yang mengetahui talenta mereka sejak awal (dia adalah sosok dibalik The Beatles dengan penampilan rambut mangkok dan setelan), hingga manajer paling kondang George Martin yang kerap kali memberikan insight mengenai teknik dan teori music pada Ringo cs mengingat dia memiliki kompetensi musik yang tinggi selain berperan sebagai manajer. Dokumenter ini mencoba mengekstrak cerita napak tilas dari sudut pandang subjek utama, yang mana kita kemudian malah menyadari dibalik popularitasnya, mereka adalah sosok yang biasa dan rendah hati.

Utamanya memang Eight Days A Week menyajikan rekam ketenaran The Beatles, merangkak dari yang awalnya dua orang (Lennon dan McCartney) yang suka menulis musik hingga tampil Live di Shea Stadium yang memecahkan rekor dengan penampilan Live pertama yang pernah dilakukan di stadium besar sepanjang sejarah, dengan 65 ribu penonton bayangkan. Namun dengan itu, filmnya juga menuturkan bahwa barangkali, segala proses ini tidak selalu mudah bagi sang band sendiri.

Selain filmnya bisa membuatmu mengagumi pesona, kemampuan musikalitas hingga kesederhanaan The Beatles, filmnya juga membuatmu betul-betul menghargai keputusan mereka dengan tidak melakukan konser lagi walaupun mereka baru sampai di setengah karir mereka.

Kupikir awalnya kok agak egois dan terlihat membuang kesempatan untuk terus jadi sorotan, mengingat fanbase yang kemungkinan besar sekarat untuk bisa melihat mereka manggung lagi. Namun, secara perlahan filmnya bisa menjelaskan dengan sangat baik, mengapa keputusan yang diambil The Beatles, mungkin adalah yang terbaik. Ternyata popularitas-lah yang egois terhadap mereka, ketenaran telah membuat letih. The Beatles merasa esensi bermusik mereka telah hilang ditengah keramaian penggemar, ketika didepan panggung, penonton hanya melihat dan berteriak, mereka tak lagi mendengarkan. Mengutip George Harrison sang gitaris, The Beatles hidup dalam ketidaknyamanan setiap kali Tur: Musik tak terdengar, penonton fanatik mencoba menerobos, dan mereka harus dikawal dengan mobil berdinding baja. Semua ini harus dihentikan.

Melihat dan mendengarkan semua ini, aku-pun berpikir bahwa siapa saja yang berada diposisi The Beatles, pasti juga akan melakukannya. Ini semua berujung menjadi pelajaran yang akan sangat kau hargai dengan menyaksikan sepak terjang karir The Beatles dimana separuhnya mereka sisihkan untuk menjawab keinginan dunia, separuh lainnya mereka sisihkan juga untuk diri mereka sendiri.