Review – The Art of Self-Defense (2019)

3.5

The Art of Self-Defense terutama adalah black comedy yang merata disetiap perjalanan filmnya. Ini adalah kisah perumpamaan surreal mengenai bisnis eksploitatif dan pernyataan tegas untuk stigma seksis yang keliru.

The Art of Self-Defense adalah medium berekspresi bagi sutradara Riley Stearns yang sepertinya begitu kesal dengan parameter maskulinitas yang judgmental dan melulu mengenai testosteron. Kejahatan berarti kekuatan dan menjadi iba berarti lemah. Di filmnya ini, dia membunuh paradigma itu, dalam arti yang sesungguhnya. Dan menunjukkan bahwa dalam hakikat membela-diri, tidak pernah ada aturan.

Ceritanya memiliki objek yang benar-benar pas untuk dijadikan bahan celaan. Jesse Eisenberg adalah Casey Davies, akuntan lemah kurus kering kerontang yang tampaknya tidak bisa apa-apa. Dan memang benar, suatu malam, sekelompok geng motor menghampirinya dan memukulinya tanpa perlawanan.

Casey tidak bisa begini terus, masa ia harus selalu takut bahkan untuk membelikan anjingnya makanan di supermarket. Tidak bisa bertahan seperti itu, ia membeli pistol untuk pertahanan diri, dan disela-sela menunggu lisensi kepemilikan, tak sengaja ia mampir di sebuah dojo karate. Atau yang akan ia anggap sebagai tempat yang mengubah hidupnya.

Casey bertemu Sensei (Alessandro Nivola), pemilik sekaligus guru yang melatih dojo itu. Ia disambut baik dan hangat, bahkan belum-belum sudah memuji keberanian Casey untuk masuk ke bangunan tersebut. Untuk pertemuan pertama gratis, katanya. Dan benar saja, Casey tertarik dan akupun tidak pernah menyangka bahwa antusiasmenya bakalan semasif itu.

The Art of Self-Defense adalah The Art of Self-Acceptance dan juga Self-Confidence dalam momen awal. Mengikuti karate merubah hidup Casey. Dan bukan, itu bukan dalam artian kemampuan berkelahi, ini bukan sajian instan seorang cupu menjadi ahli. Perubahan hidup Casey dijelaskan dalam perubahan prinsip hidup yang signifikan. Psikologis dan emosional yang berkebalikan dari sebelumnya, walaupun mungkin dia tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan dan apa yang sebetulnya terjadi. Skill Casey bisa jadi belum oke, tapi mindset-nya kini sudah terdoktrin.

Casey merasa diterima dan dimotivasi dengan baik, Sensei bahkan mempromosikannya ke sabuk kuning (sabuk kedua setelah sabuk putih). Dan ketika sedang latihan, rekan karatekanya selalu melihat sisi positif terhadap gerakan-gerakan Casey yang payah, atau cringe mampus.

Keberhasilan filmnya terletak pada hubungan-hubungan karakternya yang terjalin lewat dialog-dialog yang kaku. Eksekusi dry humor alias lelucon garingnya tepat sasaran. Orang-orang di filmnya tampak serius, tegang dan takjub justru ketika momen-momennya mengundang tawa. Filmnya dipenuhi dengan lines yang konyol secara logika, tapi diterima sebagai sesuatu yang bijaksana. Memukul dengan kaki, dan menendang dengan tangan, hingga, daripada merasa bahwa kau sedang kutendang, anggap saja tubuhmu yang menyerang kakiku. Mendengar itu, Casey menjawab, that makes perfect sense.

Dan kadang dengan lucunya orang-orang difilmnya hanyut oleh emosi akibat sesuatu yang bagi penonton biasa saja sebetulnya. Misalnya mengenai impresi berlebihan orang-orang dojo ketika Casey menghadiahi satu per satu orang dengan sabuk kasual dengan warna yang sama dengan sabuk karate masing-masing. Ini ide luar biasa yang tak pernah kupikirkan sebelumnya, kata mereka.

Perawakan dengan perisa cult dihembuskan Stearns pada karakter-karakter film ini. Khususnya pada Sensei, figur yang didambakan. Ia misterius seperti memiliki motif lain dibalik mulutnya yang memuji. Penonton merasakannya, tapi entah kenapa orang-orang justru mengagumi personanya yang bangga diri.

Hingga suatu saat Casey merasa aneh, situasi di dojo menjadi membingungkan bagi dia. Ketika dia diundang ke kelas malam, hingga curahan hati yang ia dengar dari satu-satunya peserta perempuan di dojo, Anna (Imogen Poots). Dan apalagi ketika Sensei memaksanya membalaskan dendam ke orang terduga memukulinya tempo bulan. Casey bertanya-tanya, dan perlahan menemukan bahwa kelompok yang membuatnya nyaman selama ini, ternyata melakukan praktik kampanye gelap.

The Art of Self-Defense terutama adalah black comedy yang merata disetiap perjalanan filmnya. Riley Stearns telah menuliskan naskah yang cerdas. Disamping humornya yang betul-betul bodoh (dalam konotasi baik dan efektif), ia mampu membuat filmnya tidak menyia-nyiakan sub-sub perkara yang ada, menggembleng itu semua pada presentasi ending yang brilian.

Ini adalah kisah perumpamaan surreal mengenai bisnis eksploitatif dan pernyataan tegas untuk stigma seksis yang keliru. Walaupun beberapa lines filmnya tampak dungu, Stearns juga keren dalam menciptakan kalimat-kalimat yang mewakili pesan cukup kuatnya di film ini: it is possible to be brutally tolerant, and peacefully savage.