Review – Swiss Army Man (2016)

3.5

Swiss Army Man  mengompromikan ketidak-laziman, kebodohan dan nilai-nilai humanis, dibawakan dengan cara yang kadang-kadang jorok dan seaneh mungkin.

Re swiss army

Swiss Army Man mempertemukan Paul Dano dan Daniel Radcliffe, memerankan dua tokoh utama dalam film indie milik debutan Daniel Kwan dan Daniel Scheinert atau biasa disebut Daniels, yang memiliki ide paling inventif dan unik, atau boleh kusebut tidak lazim, absurd, abnormal dan gila. Mengganddeng premis tentang survival, Swiss Army Man terhiaskan oleh momen-momen penting karakter Dano dan Radcliffe yang bergendongan di depan layar : dancing, singing and, farting.

Ini adala kisah (yang awalnya) tanpa harapan yang dihadapi Hank (Paul Dano), di tengah-tengah film akan diceritakan bagaimana ia adalah seorang pecundang melankolis, yang selalu mengalami penolakan, dan tidak percaya diri. Berangkat dari kesedihannya, ia kabur (atau entah apa yang jelas) menyendiri dan terdampar di pulau kecil. Sendirian dan hampir mati. Lagipula, adegan paling awal film ini adalah Hank ingin bunuh diri, seketika ia melihat seorang dengan setelan terdampar. Itu adalah Manny (Daniel Radcliffe), yang mana karakternya yang menjadi alasan kuat mengapa Swiss Army Man adalah salah satu film paling weird. Manny tidak terlihat seperti hidup, ia hanya pucat, badannya akan selalu lemas seperti tak bertulang hingga akhir film, namun ia sedikit bergerak, Hank memeriksanya, perut Manny berbunyi, lalu sebuah kentut panjang keluar. Swiss Army Man, dibuka dengan Hank mengendarai Manny diatas lautan dengan gaya dorong suspensi kentut milik Manny. Mereka bertualang.

Hank dan Manny mendemonstrasikan suatu hubungan karakter paling aneh, sejak Manny memiliki kemampuan ‘Swiss Army’ atau ketika Hank menyebutnya sebagai ‘Multi Purpose Tool Guy’ dan ‘Special Compass’, film ini adalah simbiosis mutualisme antara keduanya. Manny adalah alat bagi Hank untuk bertahan hidup, sedangkan Hank memberikan suatu pelajaran intensif tentang kehidupan manusia, perasaan dan kenangan yang -mungkin pernah ada, namun- telah dilupakan oleh Manny.

Daniels bisa mengembangkan sinopsisnya yang terdengar serba menyulitkan menjadi sesuatu yang menggugah, sinematografi yang elok. Swiss Army Man adalah kisah dua orang yang mencoba memulai hidup baru di hutan sambil menerka kapan saatnya mereka kembali ke luar untuk hidup bersama orang-orang, sekali lagi. Ini kesintingan yang otentik, dialog-dialog yang harus kuakui banyak yang berhasil menimbulkan tawa, Swiss Army Man memperlihatkan Hank yang mungkin tidak akan pernah diterima bagi orang-orang disekitarnya, namun menjadi alasan Manny untuk hidup dari kematiannya (“I used to be dead and he brought me back to life”, kata Manny). Mengajarinya apa itu kesedihan, hingga sesuatu yang lucu, dan mengapa kau tidak boleh buang angin semaumu, seperti didepan orang. Tak lupa bagian dimana Hank mensimulasikan bagaimana kita bisa jatuh cinta dengan pendekatan paling aneh (lagi-lagi aneh) dan luar biasa efektif, kataku.

Harus diingat bahwa material Swiss Army Man juga memiliki sisi kotor, disgusting dan sangat pervert kadang-kadang. Manny akan sering ereksi, dan ini terasa menjijikan. Tenang saja dan biasakan. Toh, Swiss Army Man juga sudah melewati batas kenormalan diluar hal-hal ini dan dari awal. Terimalah saja ini sebagai salah satu film perjalanan surreal.

Swiss Army Man, pokoknya, menawarkan lebih dan secara mengejutkan juga deep. Begitu sadar diri dan unik dengan caranya dibawakan. Paul Dano kembali menjadi orang canggung yang selalu sial, namun ini adalah hal baru bagi Harry Potter, ia adalah mayat hidup multifungsi, selalu memasang wajah bodoh karena ia tak memiliki saraf untuk menggerakkan badannya. Jelasnya, ini adalah pengalaman akting yang baru, Dano dan Radcliffe harus kotor, mencium tanah dan berguling-guling ketika jatuh dari jurang. Benar, karakter mereka adalah sampah yang dilupakan, tapi mungkin ada saatnya mereka harus tahu bahwa mereka adalah sesuatu yang indah, setidaknya bagi satu sama lain.

“If you don’t know Jurassic Park, you don’t know shit.”

35

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick