Review – Sully (2016)

4

Kini giliran Clint Eastwood yang memakai servis Tom Hanks untuk memperagakan salah satu ikon heroik dalam histori peristiwa penting.

re-sully

Sebelumnya, Tom Hanks adalah Captain Phillips dan pengacara Amerika bernama James B. Donovan (di flm Bridge of Spies). Dan kali ini -sekali lagi, Hanks, dengan pesona ‘orang baik’ yang selalu melekat  dan selalu terlihat bijak serta terlihat berpengalaman dalam konteks apapun, memerankan karakter berdasarkan tokoh nyata yang mendadak terkenal karena suatu peristiwa dramatis. Sully menempatkannya dalam role tokoh yang sama menginspirasinya, seorang pilot veteran Amerika, Chesley ‘Sully’ Sullenberger.

Untuk seterusnya, aku akan menulis ‘Sully’ untuk menujukan si film, dan ‘Sullenberger’ untuk memaksudkan pada tokohnya sendiri.

Pada 15 Januari 2009, pesawat US Airways Flight 1549 yang baru saja berangkat terbang dari bandara LaGuardia, tiba-tiba mengalami kegagalan mesin yang berujung harus mendarat darurat. Sang pilot, kapten Sullenberger bersama first officer Jeff Skiles berhasil melakukan pendaratan darurat pesawat diatas sungai Hudson kala itu, dengan 155 nyawa selamat tanpa terluka. Inilah kisah yang diangkat Clint Eastwood, namun Sully tidak hanya jadi feature yang hanya mereka ulang tragedi ‘Flight 1549’. Eastwood mengarahkan film ini justru lebih kepada bagaimana peristiwa ‘208 detik di udara’ bisa berdampak pada psikologis, keluarga dan karir Kapten Sullenberger saat itu. Pendekatannya melalui point-of-view sang kapten sendiri, mengantarkan pada cerita post-event, yang mungkin tidak diketahui banyak orang. Yakni ketika ia dipanggil secara tertutup menghadap jajaran direksi dan pihak yang berwenang dalam insiden terkait, ia diinvestigasi, mengklaim bahwa Sullenberger telah memilih keputusan yang salah dengan tidak berbalik arah untuk landing dengan aman di bandara LaGuardia namun malah membahayakan nyawa penumpang dengan melakukan pendaratan di atas sungai. Sullenberger dan ko-pilot Jeff, membantah bahwa putar balik pada kondisi dan ketinggian pesawat saat itu memungkinkan, tetapi simulasi engineering berkata lain.

Sullenberger digandrungi dilema. Didepan, orang-orang dan media menyanyikan namanya. Namun di belakang layar, kehilangan reputasi dan pekerjaan mengancamnya dengan benar-benar.

Digarap dengan cara yang tidak konvensional, Sully begitu pendek jika dibandingkan film sejenis manapun, bahkan dengan produk biographical Eastwood sendiri. Tercatat seluruhnya melebihi 120 menit, tidak semua lebih baik. Dan teknik yang digunakan juga bukan Eastwood biasanya, yang bermodal slow-paced dalam mem-build-up drama, tengok saja Unforgiven atau Million Dollar Baby. Sully memberikan wajah baru bagi Clint Eastwood dalam urusan directing. Bukan memotong  -tapi ia berhasil memadatkan adaptasi memoir Sullenberger (Highest Duty: My Search for What Really Matters) hanya menjadi sembilan-puluh-enam menit yang tidak terasa kekurangan, juga seperti tidak ada yang terlewatkan. Ditambah sajian arus non-linier yang istimewa, pencapaian istimewa penggarapan Eastwood terhadap Sully, adalah catatan tersendiri.

Besar bagi Eastwood, besar pula bagi Sullenberger. Sully dengan mudah membuat kita semua mencintai Sullenberger (lagi dan bertambah), Pendalam karakter luar biasa oleh Hanks, menggambarkan Sullenberher yang justru mendera tekanan jiwa yang luar biasa ketika ia berhasil menyelamatkan seratus lebih nyawa. Simpatisme datang, bahkan Sullenberger juga harus mengalami mimpi-mimpi buruk dan daydreaming mengerikan saat itu, penggambaran symptom sesaat –post-traumatic stress disorder (PTSD) yang mengibakan sekaligus horor.

Banyak hal positif dari film ini. Aaron Eckhart, pemeran Jeff Skiles yang hampir seluruh dialog-nya berisi support terhadap Sullenberger : “Kau sudah melakukan hal yang benar”, “Semuanya akan baik-baik saja” hingga “Aku akan selalu bersamamu”, oh sungguh partner ideal. Scene melegakan nan humanis akan proses evakuasi korban-pesawat terdampar-di sungai besar Tapi disamping semua itu, titik positif-paling beratnya ada pada sang pilot sentral. Orang yang paling terakhir meninggalkan pesawat terendam demi memastikan tidak ada yang tertinggal, melarang istrinya untuk mendatanginya dan tak perlu khawatir, bahkan ia sempat merasa bersalah dengan keputusannya, bagaimana jika memang sebenarnya ia membahayakan nyawa penumpangnya dengan terjun di air ?.Maka dari itu, tanpa ragu, Mr. Chesley Sullenberger adalah manusia yang luar biasa.

Overall, Sully hanya sebuah film yang tak terlalu panjang, tapi entitasnya mampu mengonversikan suatu tragedi masa lampau menjadi sesuatu yang berhati besar, mengikatkan kita sebagai manusia, diingat untuk diilhami dan proses pengenangan yang menghangatkan hati. Batu loncatan baru bagi Clint Eastwood, yang paling kusukai adalah ketika ia mampu mensimulasikan terambangnya pesawat Airbus sebesar itu ditengah sungai Hudson, penumpang yang berdiri dikedua sayap pesawat, menunggu helikopter dan kapal penolong datang. Tidak lupa usaha Eastwood dengan mereunikan Sullenberger (yang asli) dan seluruh penumpang selamat pada kala itu, sebagai sesembahan end credit yang heartwarming.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick