Review – Suicide Squad (2016)

2.5

Ada cukup banyak alasan untuk mengatakan Suicide Squad buruk. Tapi dibutuhkan asumsi agar tak membencinya, dengan mengabaikan kelemahannya.

re SS

Membaca konsensus, Suicide Squad secara mayoritas menurut para kritikus adalah potongan yang gagal. Tapi juga tidak sedikit yang mengatakan bahwa mengecap film ini buruk agak over-reacting, mengatakan bahwa Suicide Squad isn’t that bad. Sebelum menonton, memang agak sulit untuk masuk bioskop dengan clear mind. Dan untungnya aku bukan Marvel / DC fanboy yang berarti tidak ada benci atau prejudgment. Toh walaupun aku agak terganggu dengan promosinya, khususnya penggunaan lagu Bohemian Rhapsody yang menurutku hanya usaha yang sok. Aku membencinya, namun harus kuanggap itu tak terjadi. Ini adalah apa yang kulihat dari film David Ayer terbaru dengan pandangan se-fair mungkin.

Ada hal yang harus digarisbawahi, bagiku, butuh asumsi dalam menikmati film ini agar kita tak melulu membencinya. ‘Benci’ lantaran-harus diakui, begitu banyak adegan tak masuk akal, film yang menganut unsur suspension of disbelief. Memaksa kita untuk percaya yang tidak realistis. Terus terang, Suicide Squad memiliki banyak plotholes dan menjadi tidak koheren ditengah-tengah. Bahkan sepertinya, Suicide Squad lebih layak dinikmati sebagai fitur komik karena itu, jika memang harus, mungkin lebih baik digarap sebagai animated feature, sebagai tayangan Cinemax. Dan begitupun, ceritanya tidak terlalu worth to tell. Jadi asumsinya : nikmati film ini dengan standar komik, bayangkan kau sedang membaca panel-panel komik, dan mungkin semua keluhan tentang ceritanya bisa kau maklumi.

Suicide Squad masih memiliki enjoyment-nya sendiri, dan jangan salah, di awal-awal bahkan aku optimis, suntingan Ayer yang enerjik dan fast-paced cukup mengejutkan dalam kesan yang baik, Perkenalan satu per satu para supervillain yang komikal dengan back monologue dan snapshot yang menyertakan cameo penting seperti Batman. Gaya penyutradaraan Ayer tiba-tiba terasa sangat Zack Synder inspired (mungkin karena dia juga memproduseri film ini), menggunakan bantuan musik rock untuk melapisi fight scene-nya, hampir semuanya demikian, dan ini sudah dilakukan lebih dulu oleh Zack pada hampir setiap adegan karakter Comedian pada film Watchmen. Teknik slow motion juga sempat digunakan. Semuanya sebenarnya sangat menjanjikan hingga narasi Ayer berubah cukup memusingan.

Peringatan sekali lagi folks : Jangan mengharapkan cerita bagus.

Setiap komponen yang membentuk plot Suicide Squad tak ada yang eksperimental, adegan klasik dan formulatik hingga akhir, seperti  bermain game FPS (first person shooter), perjalanan Deadshot (Will Smith) cs mengalahkan unit-unit kecil antagonis hingga Boss Battle yang tangguh. Percayalah, jika ingin referensi film lebih baik, aku menjamin The Avengers atau Guardians of the Galaxy masih jauh diatas ini, dari segi orisinalitas ide, eksekusi bahkan guyonannya. Atau jika ingin premis yang lebih mirip, film Liam Neeson yang hampir selevel film kasta B, The A-Team, masih lebih kusukai. Bahkan kejutan-kejutan yang diberikan pada skenarionya justru menambah kesan janggal, bisa dikatakan, konsepnya pun belum matang.

Diikat seorang Nick Fury versi wanita bernama Amanda Waller, Harley Quinn dan kawan-kawannya yang notabene merupakan kriminal paling berbahaya dikumpulkan sebagai tim rahasia pemerintah dalam menjalankan misi black-ops. Because why not !?.

Yang aku sesalkan adalah, ketika film ini ternyata dirancang untuk memuaskan para DC Comic fanboy. Suicide Squad sibuk untuk memberi makan cinematic universe-nya untuk tetap hidup pasca BvS : Dawn of Justice. Keberadaan Joker dan flashback para antihero yang terlalu main durasi sementara nihil kontribusi pada pengembangan cerita utamanya. Penonton umum tidak akan membutuhkan ini, konteks yang unnecessary.

Ah, harusnya jauh lebih enak jika Suicide Squad terasingkan sendiri seperti layaknya Guardians of the Galaxy dengan dunia Marvel-nya The Avengers.  Membawa Batman didalamnya membuatku terusik sepanjang waktu, sekarang, sepertinya, Bruce Wayne adalah superhero paling lemah dan eksistensinya terasa tak lebih sebagai superhero lokal Gotham. Ini menjengkelkan lebih-lebih jika Batman hanya satu-satunya superhero yang kau sukai.  Ah, membawa Batman vs Superman menjadi live action feature sebenarnya merupakan ide buruk sejak awal. Man vs God ?. Beberapa kritik mengatakan DC Comic mencoba meniru Marvel. Tapi apakah harus seperti ini juga ?.

BvS : Dawn of Justice dan Suicide Squad menurutku adalah proses disrespek DC terhadap The Dark Knight Trilogy yang selalu berusaha semanusiawi mungkin. Sekali lagi, ini menurutku. Dan aku sudah tak peduli lagi karena terlalu memikirkan hal ini hanya akan membuatku membenci filmnya, dan merusak suasana menonton film

Oke, sekarang kita bicara tentang karakter.

Ramai dan porsi karakter yang kurang balance sebenarnya tak terlalu masalah bagiku, tapi aku tak setuju pula pada kesan yang menyatakan bahwa para cast sukses melakukan akting yang impresif dan begitu menjiwai. Untukku, aktor-aktor ini just do their work fine. Pemeran El Diablo, Killer Croc, Captain Boomerang hingga Rick Flag (sengaja tak kutulis nama pemerannya karena tak terlalu penting) hanya menjalankan tugasnya dalam berakting. Tak lebih. Yang selalu memuja penampilan Margot Robbie karena Harley Quinn, kutegaskan, ia tidak bersinar, ia hanya mendapatkan porsi yang lebih banyak !. Mengenai Joker-nya Jared Leto, satu hal, Leto adalah aktor yang kukagumi, tapi aku hanya tak peduli dengan karakternya, tanpa menghakimi ; satu, karena Joker sama sekali bukan integral di film ini, third-party peramai suasana, dan kedua, karena dari awal aku sudah tak cocok dengan Ayer dalam menampilkan Joker yang terlalu fashioned dan swaggy, lengkap dengan perhiasan berat di leher, dan tato-tato kekanakan seperti tulisan damaged di jidatnya. Bagiku, terlalu jauh.

Ah, mari bicarakan sisi baiknya kali ini. Beginipun, Suicide Squad masih syarat dengan aksi-aksi mahal, CGI-nya berlebihan tapi cocok untuk memperkuat film-nya. Para anggota Suicide Squad dengan watak beragam, yang walaupun berbau mainstream, tetap mudah disukai dengan sifat mereka masing-masing. Art production colorful yang mahal. Dan untungnya ost playlist yang match dengan tone film. Untuk Ayer, ini adalah garapan lebih baik daripada film sebelumnya yang sama-sama ambisius, Fury.

Dan manajemen karakter oleh Ayer sepertinya adalah hal yang paling susah dan patut dihargai, rasa penasaran penonton terhadap apa yang akan dilakukan seorang penjahat kelas kakap jika bertemu orang sejenisnya, ditunjukkan Ayer dengan unexpexted character-bonding yang baik dengan masih memegang jati diri setiap member Suicide Squad diselingi humor sewajarnya. Tapi tetap saja, Suicide Squad harus jatuh pada hal klise. Masih ingat bagaimana cerita dibalik bersatunya Batman dan Superman di BvS ?, ya, film ini juga memiliki momen yang sama sentimentilnya saat menjelang akhir, karena jauh di bawah, serial killer juga manusia, namun ini jauh lebih excusable.

Memang, banyak yang bilang bawa Suicide Squad is not that bad. Tapi akui saja, the film is not that good anyway. Mari kita setuju tentang itu.

re 2.5

Engineering student but movies way more than manufactures