Review – Star Wars : The Last Jedi (2017)

4

Semesta dan lini masa Star Wars bagaikan roda takdir. Story ends where it began. Akhir dari The Last Jedi, technically is A New Hope.

The Force Awakens dengan mudah dikagumi seluruh fans, yang diperlukan hanyalah re-introduksi dengan kegagahan dalam memanggil karakter-karakter lama : Princess Leia (Carrie Fisher), Han Solo (George Harrison) & Chewbacca yang menua telak dari film terakhir mereka, plus pertemuan kembali dengan interior Millenium Falcon. Ditambah highly advanced visual effect yang jelas terjanjikan oleh jarak dua episode yang terpaut 32 tahun !, coba ingat-ingat sekali lagi, The Force Awakens masih sangat generik dan formulatis, misinya masih meledakkan Death Star yang lebih besar lagi lewat one last effort oleh para pemberontak, selain itu ada isu “i’m your father” dan karakter baru yang belum terkenalkan lebih intim hingga pertanyaan-pertanyaan sengaja ia tinggalkan untuk dijawab episode selanjutnya. Seketika Luke Skywalker (Mark Hamill) muncul dibagian paling akhir dan mengetahui bahwa film berikutnya confirmed dengan judul The Last Jedi, argumen para fanboy mencoba menduga apa yang akan ditawarkan : Apakah The Last Jedi akan diantarkan sebagai suatu grand finale, atau justru menjadi suatu awalan kisah yang baru. Sebelum menjawab itu, tiba-tiba muncul pertanyaan yang harus dijawab lebih dini : Apa dan siapakah yang dimaksudkan sebagai Jedi terakhir ?.

Yang kumaksudkan, pendeknya adalah The Force Awakens untung besar akibat warisan, yakni momentum reuni yang sudah didambakan penggemarnya, dan bagaimana filmnya begitu terasa masih sama dengan pendahulunya. The Last Jedi, tentu saja memiliki tekanan dan pekerjaan rumah yang jauh-jauh lebih besar, tantangannya adalah filmnya ingin digiring ke arah mana lagi setelah semua ini. Beruntungnya Rian Johnson sang sutradara, awas terhadap hal itu, sehingga The Last Jedi memamerkan dirinya dengan konsep yang berbeda dari biasanya, dinamika plot yang berbeda dan dengan bumbu komedi. Filmnya menawarkan cerita yang lebih serius, cerita yang menyusun kerangka, alih-alih hanya mengumbar perang bintang kolosal. Tetapi tenang saja, filmnya masih mudah dikenali sebagai bagian dari film-film sebelumnya, atmosfirnya juga tetap sama, hingga titik ini, Star Wars Franchise masih terasa bagai ekstravagansa.

Princess Leia yang sejak saat itu sudah merubah pesonanya menjadi General Leia Organa kembali menjadi nahkoda Resistance untuk melakukan evakuasi bagi orang-orangnya di planet base milik mereka akibat kedatangan First Order sebagai manifestasi baru akan kejahatan yang tamak. Poe Damaron (Oscar Isaac) ditugaskan untuk memecah konsentrasi First Order ketika perintah General Hux (Domhnall Gleeson) sebagai kepala Base Starkiller First Order untuk menembakkan senjata peluluh-lantah planet sudah hampir tereksekusi. Tembak-tembakan luar angkasa klasik terjadi ketika pesawat berisi Stormtrooper berkeluaran dari kandangnya untuk membereskan Poe, namun dengan lihai Poe membuat semuanya sulit bagi para musuh ketika tembakan yang ditujukan padanya justru menghancurkan pesawat induk mereka sendiri akibat manuver tepat waktu dalam menghindari laser. General Hux marah besar dan tujuannya saat itu semakin membulat, kejar dan hancurkan Resistant.

Kukira semua itu hanyalah sajian pembuka, hingga kusadari bahwa adegan kejar-kejaran antariksa antara First Order dan Resistant tidak kelar hingga akhir. Kisahnya dibagi menjadi adegan perseteruan dan pertempuran langsung antara keduanya dan adegan parsial dimana para aliansi pemberontak melakukan diskusi strategis ketika mereka menyadari bahwa kapal First Order bisa melacak dan mengejar mereka yang mencoba kabur dengan kecepatan cahaya, dan juga pada pihak kegelapan adalah adegan adu mulut hierarchically antara Supreme Leader Snoke (impresi oleh Andy Serkis), General Hux dan Kylo Ren (Adam Driver) tentang keteledoran dan janji penebusan kesalahan (iya, ini sangat klasik). Adapun filmnya terselingi oleh kabar dimana Rey (Daisy Ridley) pergi untuk menjemput Luke Skywalker yang menarik dan menghilangkan diri dari dunia untuk bersembunyi di sebuah remote island di sebuah tempat antah berantah Achc-To dimana para filmmakers melakukan eksplorasi setting yang cukup signifikan dengan menggambarkan kreatur-kreatur aneh seperti sapi laut raksasa yang memproduksi consumble milk (Luke meminum ini) atau flying hamster yang berbunyi seperti peluit. Like student with her Guru’s, sambil terus membujuk Luke bahwa ia sedang dibutuhkan dunia, pun Rey bersikukuh untuk dilatih. Well, it’s a bit like The Empire Strikes Back with more eye-pleasuring and dazzling visual for sure.

Elemen kunci daripada penyutradaraan Rian terletak pada keberaniannya, keberanian dalam mengusung sesuatu yang baru atau bahkan kontradiktif terhadap stereotip yang selama ini melekat di franchise-nya layaknya hukum pasti. The Last Jedi jauh lebih rasional dalam menggambarkan ambisi yang menggebu tanpa mufakat, dengan kisah diam-diam Poe, Finn dan karakter pendatang baru -mekanik Rose Tico yang mencoba menyelinap ke pesawat First Order untuk mematikan tracking system yang mereka gadang merupakan biang kenapa para penjahat terus bisa mengikuti kapal aliansi, berakhir menjadi suatu malapetaka sekaligus hikmah. Adapun scene dimana kapal induk aliansi yang meledak akibat tembakan dan memicu special-scene the force of Leia” yang super keren. Kita akan mendapatkan ledakan besar sekali lagi disini, namun bukan dengan mencari vulnerability daripada kapal musuh yang biasanya diwakili oleh nukleus berupa benda inti yang jika dihancurkan -akan memicu dekstruksi total, tetapi Rian memberikan sesuatu yang lebih logis, effortful dan a way way cooler.

Kita belum bicara tentang twist yang spektakuler, kejadian yang mengejutkan dan juga pemahaman baru tentang Jedi, warisan dan isu keturunan. Ini seperti mematahkan semua yang kita percayai sebelumnya. Perbedaan signifikan antara dua Star Wars yang baru dengan sebelumnya adalah bagaimana filmnya menoleransi faktor human error atau dilema tokoh yang tergambarkan dengan bagus, baik disisi kawan atau lawan. Berbeda dengan Yoda atau Darth Vader yang super-ideal bagi pihaknya masing-masing dan maha bijaksana, tokoh-tokoh baru disini tergambarkan memiliki pendirian yang rentan dan memiliki kebimbangan. Kylo Ren masih labil, Poe dan Finn sadar bahwa mereka telah ceroboh akibat kekerasan kepala mereka, dan dimana pada satu titik Vice Admiral Holdo (Laura Dern) yang sinis memutuskan bahwa strategi pasif adalah yang terbaik bagi Resistant yang kalah jumlah. Rey belum mampu dan General Leia hampir tidak mampu lagi. Belum lagi bagaimana dilema juga terjadi kepada seorang Luke Skywalker setelah mendengar kabar semuanya dari Rey : angan-angan tentang dosa yang telah ia lakukan, dan juga kebimbangan terhadap apa yang ia yakini dan rasakan membuatnya gundah dalam mengambil keputusan.

Character-packed more than action-packed. Semua tokohnya memiliki momen krusial yang merubah (atau bahkan menguatkan) perspektif terhadap apa yang mereka percayai. The Last Jedi berhasil dalam membawakan suatu studi karakter, dan bagaimana seluruh seluk-beluk yang ada bisa menjadi pembelajaran bagi karakter-karakternya.

Menjelang babak akhir, penonton dihangatkan dengan pertemuan kakak-adik Skywalkers yang mendekapkan. Terlebih, itu juga mengindikasikan satu hal yang syahdu, The Last Jedi adalah sebuah transisi besar, pergantian generasi dari orang-orang muda yang kini telah tua untuk digantikan orang-orang muda lagi. Dengan proyek trilogi Star Wars yang masih Untitled, jaminan kisah klasik kemungkinan besar tetap ada melanjutkan apa yang diwariskan. Juga dengan Han Solo yang telah lebih dulu pergi di The Force Awakens, lalu  defining moment oleh Luke Skywalker atau pada saat itu bisa kita sebut sebagai “current greatest Jedi” di adegan terakhirnya di film ini yang membuat penonton melongo nan berkaca-kaca, serta pada satu titik semua tahu bahwa Carrie Fisher sebagai General Leia diluar panggung telah lebih dulu meninggalkan kita semua dengan film ini sebagai tapak terindah terbaiknya ; Kita semua sadar, Saga Skywalker telah berakhir.

Still, galaxy far far away masih akan menjemput kita dengan sebuah awalan baru lagi, menutup alkisah sebelumnya bagaikan frasa : story ends where it began. Akhir dari The Last Jedi, technically is A New Hope.