Review – SPY (2015)

3.5

Kuat dan kharismatik, Spy dengan luar biasa mampu membuatmu seketika mengidolai Mellisa McCarthy

Baik ‘Bridesmaid’ atau ‘The Heat’ belum kutonton semuanya, namun yang membuat Spy menggelitik untuk ditonton adalah dengan pencapaian kritiknya. Paul Feig-pun juga jarang terlihat, seperti serabutan, kadang men-direct TV series episode, namun setidaknya beberapa tahun ini mulai merangkak menahkodai film-film Box Office.

Spy memberikan gebrakan berbeda, saat masih post-produksi namanya sering luput, kuakui, spy-comedy tidak banyak membantu produser, dan ternyata ini berbeda, akan bagaimana kekuatan naskah Feig mampu membuatnya begitu progresif.

Feig memang orang Amerika, tapi Spy begitu kental dengan nuansa britishnya, aku menganggap film ini seperti suksesor jenaka James Bond milik Fleming, Melissa McCarthy seperti keponakan lucu Daniel Craig disana. Awalnya kukira Spy adalah sesuatu-seperti parodinya 007, namun harus kucabut pernyataan itu karena begitu masifnya kesan yang diberikan film ini. Oh ya, satu lagi yang membuatku melihat kemiripan Spy dengan James Bond, itu adalah opening credit-nya, ala Casino Royale, dan Ivy Levan menyanyikan ‘Who You Can Trust’ dengan nada balad khas, sedikit ingat ‘Skyfall’ milik Adele karena itu. Jika ditanyai apakah original song film ini layak dinominasikan oscar, aku bilang iya.

Mellisa McCarthy terlihat lepas, bahkan kelepasan. Seakan menjual posturnya yang meragukan sebagai agen mata-mata, McCarthy sebagai Susan Cooper juga memberi bumbu action yang lumayan berkelas walaupun kesan slapstick lebih sering disana. Tokoh yang ia perankan hanyalah seorang asisten dari spy professional, Bradley Fine (Jude Law) CIA spesialis mata-mata sudah beraksi dalam banyak tugas dengan bantuan asistennya, Susan Cooper lewat komunikasi jarak jauh. Namun karena sesuatu hal, Susan Cooper harus turun kelapangan untuk menjadi seorang Spy layaknya Fine. Dibantu dengan tokoh lain seperti Rick Ford (Jason Statham) yang kadang justru terasa merepotkan misinya, Nancy (Miranda Hart) dengan karateristik ala nerd seperti Susan, Feig menegaskan bahwa karakter McCarthy memang gila, namun ia masih memegang kewarasannya sebagai protagonis.

Berbicara tentang aksinya, yah, memang benar jika Spy tidak memberikan aksi kejar-kejaran atau fight scene dalam jumlah gelontoran, jika adapun itu tidak seheroik Daniel Craig saat berduel diatas kereta api dalam Skyfall. Namun dengan kesempatan yang ada, Spy dengan ciamik dapat merebut perhatian dengan combat-scene yang begitu penting, dan dengan teknik slow-motion kadang-kadang, Feig menunjukkan Spy juga tidak segan memberikan scene fatality untukmu yang mencari sisi aksi film ini. Spy benar-benar diluar kendali.

Akhirnya Spy mampu menampar para doubters disana, cukup keras. Memang belum bisa dibilang sebagai masterpiece, tapi semuanya setuju bahwa Spy memuaskan. Alasannya jelas, Paul Feig mampu mengembangkan potensi premisnya ke level paling tinggi.

Feig, kau boleh membuat sekuelnya.

 35

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick