Review – Spotlight (2015)

5

Spotlight  adalah praktik etos kerja dan kisah nyata yang greget. Tapi akan jauh lebih cocok jika menyebut ini sebagai sesuatu yang humanis.

Spotlight memberikan contoh urgensi penceritaan kisah nyata kepada publik. Ia adalah reka ulang peristiwa genting alih-alih tokoh, menjual kasus riil alih-alih sejarah yang didramatisasi. Sebelum kita mengulas semuanya, satu kata yang paling menggambarkan Spotlight: Substansial.

Filmnya mengikuti perjuangan rekan-rekan jurnalis dan reporter sebuah koran lokal The Boston Globe yang lewat tim rubrik “Spotlight”-nya mendapatkan aklamasi Pullitzer Award for Public Service di tahun 2002 setelah berhasil meliput kasus besar tentang pelecehan terhadap anak kecil oleh pendeta-pendeta Gereja Katolik Roma dalam berita yang komprehensif dan menyentakkan.

Spotlight butuh kasus baru untuk diceritakan pada waktu itu, dan mereka sedang menggodok kisah mengenai kasus kepolisian Boson sebenarnya. Tapi kemudian, Editor baru The Boston Globe, Marty Baron (Liev Schreiber) datang ke pertama kali kantor, dan tiba-tiba tersemat oleh ide tentang apa yang Spotlight harus beritakan. Ia menemui editor-nya Spotlight, Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton) dan menyarankan untuk menunda apa yang sedang mereka kerjakan untuk melakukan investigasi lebih mendalam tentang berita-berita mengenai child sex abuse yang sebenarnya sudah beberapa kali dimuat, namun tidak di follow up secara baik oleh The Globe.

Ini adalah makanan yang pas bagi tim Spotlight, kasus-kasus yang butuh pengkajian hingga berbulan-bulan. Robby melakukan kasak-kusuk bersama timnya : Mike Razendes (Mark Rufallo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Matt Caroll (Brian D’Arcy James) dan Ben Bradlee (John Slattery). Setiap orang dengan tugas masing-masing, berpencar untuk informasi-informasi; mencari korban dan mewawancarai mereka, membedah dokumen-dokumen lama, mempelajari pola kasusnya. Semakin hari, mereka semakin mendapat gambaran. Bukti bahwa kasus ini memang nyata terjadi, dan tidak terlalu tergubris.

Kesan investigatif filmnya terlampau menarik untuk diikuti. Sutradara Tom McCarthy memberikan narasi yang tidak terburu-buru dan menyampaikan ini sebertahap mungkin. Kita diajak memproses setiap temuan yang didapatkan reporter-reporter ini. McCarthy ciamik dalam mengurai kebobrokan sistem dengan penyampaian yang sitematis pula. Ia bagus dalam menegaskan bahwa instansinya-lah yang rusak, bukan agamanya.

Dari satu pendeta, ternyata mungkin ada 90!. Bagaimana tokoh-tokoh di film ini yang semakin lama semakin menyadari bahwa kasus yang mereka selidiki lebih besar dari praduga mereka sebelumnya, memberikan perasaan miris nan mengejutkan namun di satu sisi juga memberikan suatu dorongan dan optimisme yang semakin beralasan bahwa kasus ini harus segera diusut.

Selain substansial, Spotlight lewat emosi-emosi karakternya adalah film tentang subjek yang sensitif. Tentu saja jurnalis kita mengalami tekanan yang tidak mudah. Karena bagi sebagian orang, mereka seperti mengusik air yang tenang. Secara tidak langsung mencoba menuntut gereja, yang secara umum merupakan simbol ketuhanan yang lurus. Bagi beberapa orang, Robby dan timnya justru mencoba mengganggu orang-orang baik.

Momen-momen wawancara korban oleh Mike dan Sasha memberikan kesan unsettling namun ini adalah hal yang harus dilakukan. Menurut Spotlight, semua orang harus mulai menyadari ini semua, bahwa ada sesuatu yang salah tentang sistem keuskupan yang telah disembunyikan, bahkan sepertinya Kardinal setempat juga selama ini mengetahui kebusukan sebagian pendetanya.

Profesional, dedikatif, namun yang paling menggambarkan jerih payah Robby cs adalah betapa mereka perduli dengan apa yang terjadi, khususnya di tempat mereka tinggal. Menjadi wartawan adalah tentang menanggung beban moril masyarakat. Mereka adalah suara bagi yang tak bisa bersuara. Representasi media yang independen, dan memang bersikukuh untuk bermain tanpa pengaruh pihak lain.

Mengetahui bahwa Baron sang editor tertinggi bukan merupakan orang asli Boston adalah permasalahan tersendiri bagi Robby. Semua warga yang mengendus investigasi yang sedang dilakukan Spotlight tahu ide peliputan ini datang dari Baron, dan mereka tidak suka karena itu. Pergolakan semakin menjadi ketika nada-nada mengancam mulai datang. Nama baik Robinson dan teman-temannya Spotlight diambang terlabeli sebagai pengkhianat justru ketika mereka mencoba mencari keadilan.

Spotlight adalah praktik etos kerja dan kisah nyata yang greget. Tapi akan jauh lebih cocok jika menyebutnya humanis, jurnalis kita bekerja dengan berlandaskan empati. Ketelatenan mereka berangkat dari narasi “bagaimana jika anak-anak kecil itu adalah kita?”.

Mengejar pengakuan-pengakuan yang diperlukan untuk diungkapkan. Perjalanan perjuangan mencari bukti Spotlight menaikkan derajat eksistensi media sebagai pencari keadilan. Academy Awards mengganjarnya dengan Best Picture tahun 2015 lalu. Dan untuk prestasi filmnya serta dedikasi aktor-aktor nyata dibalik kisah besar ini, mereka pantas berbangga dengan pencapaian-pencapaian itu.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick