Review – Spirited Away (2001)

5

Aku harus angkat tangan, Spirited Away  mungkin adalah anime  terbaik sepanjang masa.

re spirited away

Studio Ghibli, mulai April tahun ini hingga September nanti, menjalin kerja sama dengan pihak XXI Cinema di Indonesia untuk screening khusus di 17 kota di Indonesia. Film-film most well-known Ghibli dipilih sebagai hidangannya selama itu. Ada Ponyo hingga Howl’s Moving Castle, namun tidak lupa satu film -atau mungkin yang terbaik diantara semuanya, Spirited Away menjadi sajian paling awal dalam timeline movie-list program ini, memberikan kesempatan para fanatik untuk menontonnya lagi dalam sebuah layar lebar. Ini sungguh menakjubkan.

Spirited Away atau dalam judul aslinya ‘Sen to Chihiro no Kamikakushi’ adalah film klasik milik Hayao Miyazaki yang tak perlu kuperkenalkan lebih dalam, semua sudah mengenal Miyazaki dan film ini. Menontonnya lagi adalah reuni terbaik, mengingatkanku betapa sedihnya mendengar kabar ketika Miyazaki memutuskan untuk pensiun berkarya sejak The Wind Rises (2012) menjadi potongan terakhirnya. Sedangkan Spirited Away adalah satu-satunya kartun Jepang yang pernah memenangkan piala Oscar sebagai best animated feature, ia telah diketahui dan diaklamasi secara global, sepertinya sangat adil untuk mengatakan bahwa ini adalah satu anime terbaik yang pernah ada.

Spirited Away menawarkan alkisah seorang bocah perempuan kecil bernama Chihiro yang terjebak bersama kedua orang tuanya di dunia gaib dimana dewa-dewa dan makhluk halus tinggal, spirit world dimana sihir itu nyata dan dipenuhi kreatur berbentuk seaneh mungkin. Karena penasaran, Chihiro dan kedua orang tuanya tidak sengaja tertelan kedalam dunia ini setelah memasuki suatu bangunan tua ditengah hutan ketika mereka hendak menuju ke rumah baru yang akan mereka tempati, usut-diusut, bangunan tua tersebut adalah portal dua dunia. Di dunia arwah ini, siang adalah waktu beristirahat dan malam hari adalah fase dimana semuanya menjadi hidup, satu lagi bahwa disini kutukan berlaku. Dan tentu saja Chihiro tak akan pernah menyangka bahwa orang tuanya bakal begitu saja berubah menjadi dua ekor babi gemuk, dan tiba-tiba hadir makhluk-makhluk transparan muncul dari kedai-kedai yang tadinya sepi saat petang menjelang.

Butuh waktu untuk meyakinkan Chihiro bahwa semuanya bukan mimpi, beruntungnya ia bertemu Haku, seorang bocah laki-laki dari alam sana untuk membantu Chihiro, mengatakan bahwa keberadaan manusia tidak pernah dikehendaki disini, namun berjanji untuk melindunginya. Tetapi Haku tidak bisa terus menerus menyembunyikan Chihiro, bau manusia menyengat, ia memberi tahu bahwa Chihiro harus mencari pekerjaan di dunia gaib itu, agar terikat suatu kontrak kerja yang berguna untuk melindungi eksistensinya sebagai manusia. Chihiro diarahkan untuk bertemu Kamaji, seorang kakek tua bertangan delapan yang bekerja di perapian di rumah pemandian air panas sebagai boiler pemasok air panas. Kamaji mengelak tapi Chihiro terus meminta pekerjaan. Usahanya berujung pada pertemuannya dengan Yubaba, penyihir wanita dengan kepala besar yang merupakan pemilik pemandian air panas juga seorang yang menurut Haku, adalah penguasa dunia gaib.

Chihiro terjebak dan tak bisa keluar begitu saja, kisah di dunia yang berbeda ini adalah petualangan baru yang tak akan pernah menyangkanya. Bekerja di pemandian air panas sebagai pelayan dan tukang bersih-bersih untuk para jin-jin yang ingin menghilangkan penat di dalam bak mandi. Chihiro tak punya pilihan, hanya ini yang bisa ia lakukan sambil berharap kedua orang tuanya bisa kembali menjadi manusia, namanya telah diambil dan hampir saja terlupakan. Di dunia ini, Chihiro adalah Sen, mungkin ia tak tahu sampai kapan ia berada di dalam dunia mistis itu, dunia dimana katak bisa berbicara. Sen hanya bisa menangis, dan kadang menjadi satu-satunya hal yang mampu dilakukan, duduk dan melipat kakinya untuk menumpahkan kesedihannya dibalik kedua lutut.

Ekspresif dan inventif, Spirited Away menawarkan kisah dan visual animasi tak biasa dalam pendeskripsian perisa fantasi. Karakter monster-like yang lebih terlihat menjijikkan daripada menakutkan, orang tua Sen yang dikutuk menjadi babi baru awalnya, selebihnya adalah katak-katak besar, wanita pemakan kadal dengan proporsi wajah tak simetris, jelaga yang hidup (untuk yang ini, mereka lucu), dan juga tamu-tamu bertopeng, atau jika tidak, adalah hewan-hewan aneh dengan mata besar bertatapan kosong. Di Spirited Away, jika hujan maka terbentuklah laut, dan kereta api akan bergerak diatasnya, mengelilingi dunia yang nyatanya jauh lebih luas. Yubaba bisa berubah menjadi burung dan Haku bisa berubah menjadi naga, Sen tak habis pikir kenapa ada tiga buah kepala yang bisa berlompatan sendiri atau ketika sebuah makhluk tanpa wajah terus mengikutinya.

Hayao Miyazaki memberikan usaha terbaiknya dalam mengembangkan karakter, ia memperdulikan setiap karakter yang ada disana, bahkan bagi mereka yang tak berandil banyak pada benang merahnya, sebetulnya. Bayi besar Bo hingga No-Face, Lin juga Kamaji, semuanya ada dan memberikan esensi kekal, Miyazaki mengukuhkan bahwa setiap orang (atau makhluk) mempunyai perasaan untuk diacuhkan dan memiliki hak sepenuhnya, untuk menyayangi dan disayangi, memperdulikan dan diperdulikan. Keberadaan Sen adalah perubahan watak, semangatnya memberikan empati. Spirited Away berisi package karakter yang akan kau cintai seluruhnya pada akhir film, terutama sang karakter utama yang awalnya kikuk tapi berubah menjadi gadis yang berani dan bertekad. Kemurnian hatinya memberikan kepositifan kekal bagi yang lain.

Cepat atau lambat, kau akan mencintai Spirited Away. Ini cerita tentang kesedihan dan perjuangan, tetapi yang paling utama adalah tentang perjalinan persahabatan dan cinta. Disintesa oleh Hayao Miyazaki, sang master of storytelling, dibantu oleh background music ‘One Summer’s Day’ milik Joe Hisashi yang sensitif dan luar biasa membantu, aku tak bisa mengungkapkan filmnya lebih dari ini, atau agar bagaimana kau juga harus segera menontonnya. Aku hanya bisa menjaminkan satu hal, ini adalah kali ketiga aku menontonnya, dan Spirited Away masih terasa begitu indah dimana ketika ia berakhir, justru kau akan sedih, sedih karena tahu bahwa butuh waktu yang lama untukmu bisa merasakan suatu kesan yang sama. Dan pada akhirnya aku tersadar bahwa kesan itu hanya bisa muncul jika kau menonton film ini lagi. Bertemu kembali dan menyaksikan Spirited Away sekali lagi adalah penawar rindu, atau kadang pelipur lara. Andai kau sedang memiliki suasana hati yang buruk atau mengalami hari yang berat, aku sarankan kau menonton film ini, aku pastikan sebuah senyum akan muncul dan membuatmu melupakan semuanya.

Itulah bagaimana Spirited Away bekerja, bagi sebagian orang ceritanya tak akan pernah berakhir, mungkin karena keindahannya terlalu abadi, Menontonnya lagi kemarin, di depan layar lebar adalah salah satu yang paling menakjubkan, kesannya lebih luar biasa dan aku sudah merinding bahkan ketika frame pertamanya, titel card biru bertuliskan Studio Ghibli dengan Totoro disana. Oke, terima kasih Ghibli, yang telah membuat pengalaman ini mungkin dan terjadi.

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick