Review – Spiderman: Into The Spider-Verse (2019)

4.5

Kita sampai pada edisi dimana kritik untuk film Spiderman tak lagi bias. Into the Spider-Verse begitu berbeda, jauh lebih seru dan memuaskan.

Aku suka bagaimana temanku menjelaskan kesannya terhadap film ini, dia bilang, Spiderman: Into the Spider-Verse memanfaatkan dengan maksimal apa yang hanya bisa ditawarkan oleh film animasi, atau apa yang tidak bisa kau antarkan lewat live-action. Into the Verse sungguh berhasil dalam memancing gandrung penikmat film walaupun notabene adalah animated superhero movie yang selama ini, yah kau tahu, prestasinya tak akan lebih sebagai TV Movie yang tayang di TV kabel.

Film ini telak kuat di tampilan dan cerita. Walaupun dikemudikan oleh banyak kepala (ya, Spiderman: Into Spider-Verse di-direct setidaknya tiga orang: Bob Pershicetti, Peter Ramsey, dan Rodney Rothman. Dengan penulis naskah: Phil Lord dan Rodney Rothman). Namun yang kuyakini dan sejauh yang kutahu tentang kinerja balik layar, Phil Lord adalah kunci dari semua ini.

‘Semua ini’, yang kumaksud adalah ide nyeleneh filmnya, konsep cerita yang terasa random dan ramai karakter yang nggak umum. Itulah Phil Lord. Kreatifitasnya seperti selalu membaik dan tambah mengagumkan. Phil adalah kepala dari ide awal film ini, walaupun tanpa Christopher Miller sebagai tandemnya di film-film garapannya sebelumnya, bagaimana ia menggodok konsep selalu eksentrik.

Setelah cukup sukses dengan seri Cloudy with a Chance of Meatballs, Phil dan Miller berhasil dengan proyek The Lego Movie dimana dengan semaunya mereka membaurkan seluruh karakter pop-culture dari Gandalf hingga Darth Vader. Di The Batman Lego Movie, mereka memunculkan hampir seluruh karakter yang ada di Batman Universe.

Di film ini, Phil tak mau mubazir, alih-alih mereka ulang kehidupan muasal Peter Parker yang sudah terdengar menjamur itu, Phil mencoba menceritakan hal yang berbeda. Jadi ini semua mungkin kurang cocok jika dibilang adaptasi cerita komik, karena Phil sejatinya hanya meminjam karakter-karakter yang telah diciptakan di komik Marvel, dan dengan itu dia menggagas ide cerita tentang Multi-Verse, Alternate Universe, Spider-Verse !.

Talking about this Spider-Verse, disini Gwen Stacy adalah Spider-Woman dan barangkali semua yang tak mengikuti komiknya juga baru tahu bahwa sebenarnya, setelah era Peter Parker, sosok Spiderman memiliki suksesor, bocah remaja kulit hitam bernama Miles Morales. Disini, dia bertemu Peter Parker, melihatnya gugur, lalu bertemu dengan Peter Parker ‘lainnya’ lagi. Biang keroknya adalah, Kingpin, villain utama di-film ini yang mengedepankan egonya dan menaruh keberlangsungan semesta dalam bahaya demi keinginannya. Dengan alat gigantisnya, ia mencoba membuat suatu portal ke semesta alternatif. Spiderman mencoba mencegahnya, namun ia gagal dan nasib membuat Spiderman dari ‘dunia lain’ terseret ke semesta yang sedang diceritakan sekarang.

Pemanjaan visual juga tak ragu-ragu, 140 animator disewa dan menjadi rekor Sony sendiri dalam penggarapan film animasi. Kau akan merasakan pengalaman menonton gambar-gambar bergerak dengan teknik gambaran tangan khas ala komik dengan pewarnaan realistis itu. Dan para animator ini seperti membuat semuanya runyam dengan mengangkut display yang kontras dengan keberadaan Peni Parker yang menghidupkan imej anime, SpiderMan Noir kian memberikan unsur gambar pensil tak bewarna, hingga Spider-Ham yang meramaikan lewat visual flat 2D layaknya kartun Looney Tunes. Semuanya terselingi didepan animasi yang terlihat seperti hidup andai saja para pembuat film tidak menambahkan efek kabur dan tak fokus pada latarbelakang-latarbelakang. Sekali lagi, semuanya adalah pengalaman baru, dan eksentrik. Ini semua seperti membaca komik karena kadang kadang akan muncul panel-panel bernarasi atau ketika para karakter baru dikenalkan lewat monolog flashback dan eksistensi komik.

Spiderman: Into the Spider-Verse is lovable for every ages, specially, teens. Menggandeng komposer Daniel Pemberton dan musisi seperti Lil Wayne hingga XXXTentacion, lagu lagu hip-hop, trap dan rap menjadi selingan suara utama dalam usaha menunjukkan sekumpulan musik yang “paling mungkin didengar anak muda seusia Miles”.

Mengenang sang pencipta tokoh utama, film ini membayar tribut yang cukup untuk mendiang Stan Lee dan ko-kreator Steve Ditko. Phil Lord dan tim tidak hanya berhasil secara komersil, cara mereka benar-benar jitu untuk menunjukkan bahwa karakter si manusia laba-laba memang mudah untuk dicintai. Dan lebih jauh lagi untuk mempresentasikan betapa kayanya materi yang terkandung dalam komiknya.

Catatan terakhir, berbicara tentang industri film, kadang-kadang kau heran dan tak mengerti bagaimana mereka bisa berkembang melebihi batas yang bisa terbayangkan. Orang-orang ini, maksudku para filmmakers ini, wow, they really, are, that, capable !.

 

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick