Review – Southpaw (2015)

2

Unoriginal. Southpaw meninju wajahnya sendiri dengan sarung tangan bernama ‘Cliché’.

Jake Gyllenhaal membuas dengan cara yang berbeda-beda, jika membicarakan film populernya belakangan. Ada Nightcrawler dimana ia memerankan seorang insomnian-freak dengan masalah psikis, lalu di Southpaw, Jake Gyllenhaal adalah karakter petinju fiksi kelas ringan. Ada beberapa persamaan diantara peran Gyllenhaal di kedua film ini, yakni ketika karakternya sama-sama mengalami  stress berat, mengamuk dan merusak barang-barang. Namun jika Louis Bloom (Gyllenhaal di Nightcrawler) sering melotot, disini Billy Hope (Gyllenhaal di Southpaw) memiliki mata yang sering terlihat lebam sebelah.

Seperti yang sudah kusebutkan, kita akan menemui Billy Hope disini. Petinju yang sedang berada di puncak karirnya. Ia sudah lengkap, istri yang selalu berada di dekatnya, anak gadisnya yang selalu dirumah untuk menunggunya pulang, Tinggal di rumah elit besar, kaya dan tak bisa dikalahkan. Tak lama kemudian, konflik mulai muncul, yang mana tak perlu kuceritakan (karena akan sangat merusak mood dan akan begitu spoil bagi yang belum menonton ). Mengapa aku katakan demikian, sudah jelas akibat naskah Kurt Sutter yang memiliki alur cerita formulatik dan begitu mudah ditebak. Karena itu pula, aku melarangmu untuk menonton trailer-nya, karena disana kau akan melihat, probably, the whole movie. Hanya satu clue mungkin dariku, Sutter mencoba memberikan konflik bertubi hingga Southpaw terlihat bagai psychological movie. Dan sayangnya sama sekali tidak bekerja, begitu klise, A BIG Cliché !.

Kau tidak menonton Southpaw untuk mencari pengalaman baru dalam narasi suatu film, ini begitu mengingatkan film-film sejenisnya jika berbicara tentang tinju. Million Dollar Baby, The Fighter, Raging Bull bahkan Rocky, dan aku tidak sudi untuk berkata bahwa film ini terinspirasi dari sana karena keseluruhan film ini terasa uninspired dan bukan bahan komparasi film-film tersebut. Wow, aku begitu membenci film ini.

Aku tidak pernah mengarapkan film ini akan menjadi bagus, arsitektur karakternya sendiri sangat lemah, begitu lemah, tidak ada karakter yang memiliki peran ataupun ego yang nyeleneh untuk setidaknya menambal cerita yang datar. Dan ketika kau melihat Southpaw lebih luas daripada keberadaan Jake Gylenhall, terlihat bahwa pemilihan cast nya begitu cheap. Dan Miguel Gomez disana untuk memerankan tokoh unrealistic-antagonist disana benar-benar suatu masalah, bahkan borok besar bagi keseluruhan film. Karakter Miguel ‘Magic’ Escobar mungkin adalah karakter fiksi paling dangkal dan nol besar sepanjang sejarah film yang pernah aku tonton. Lalu ketika aku membaca trivia kecil tentang isu bahwa Eminem lah sebenarnya yang direncanakan sebagai pemeran utama, aku menyesal menonton film Antoine Fuqua ini.

Southpaw mungkin solid, namun dimataku film ini sangat tidak fokus. Beberapa bagiannya tiba-tiba meluncur kedalam atmosfir crime, namun mengatakan bahwa film ini adalah sport sangat meragukan karena begitu minim dialog yang membahas teknik olahraga tinju atau tentang alur kompetis, semacamnya. Dan dengan cerita murah dengan menggambarkan konflik Fame to Fall, dibarengi penggambaran lakon yang hyper-aggresive, maka ini bulat merupakan drama fiksi.

Positif daripada film ini hanya satu. Babak akhir pertandingan tinju di bagian akhir yang seperti didesain khusus dengan memakan waktu sekitar 15 menit daripada keseluruhan durasi film, cukup memukau, menghibur, koreografi yang rapi dan directing yang bersih dari Fuqua. Syukurlah itu dibuat agak ekslusif.

Beberapa orang mengatakan bahwa Southpaw adalah Rocky edisi masa kini, aku setuju, tapi tidak dengan unsur classic-nya.

2

Engineering student but movies way more than manufactures