Review – Sing Street (2016)

3

Unsur musikal daripada Sing Street  melampaui apa yang coba ditawarkan ceritanya. Tentu saja musiknya jauh lebih baik dan menarik, dua atau tiga kali lipat daripada kisah dibelakangnya.

Atau mungkin musikalnya adalah penyelamat kesan bagi ceritanya yang menurutku plain dan agak klise jika bicara alur. Sing Street memiliki potensi yang sama baiknya dalam penjualan CD Original Soundtrack karena kepingan-kepingan lagu yang dilantunkan di dalamnya bukan produksi main-main. That’s for sure !. 

John Carney adalah sutradara experienced yang pernah mebawa Once dan Begin Again sebagai film musikal modern berhasil. Lain hal, latar belakang ide cerita Sing Street yang membawa kita kurang lebih 30 tahun yang lalu, memfiksikan kisah ber-setting kampung kelahiran Carney di Dublin, Irlandia. Menegaskan bawa Carney adalah orang yang grateful dengan tribute kecil ini dan juga bahwa ia adalah sutradara film musikal yang mahir dalam segala background (kebetulan ia juga menulis beberapa lagu-lagu soundtrack original film ini bersama kawan-kawannya !). 

Oke, yang pasti sekarang kau tahu ini film Irish, dan Dublin pada tahun 1985 menggambarkan bahwa beberapa hal “is a thing” pada saat itu. Video klip adalah hal, musik piringan adalah hal, pembulian di sekolah adalah hal, dan juga berita naiknya angka migrasi remaja nekat Irlandia ke London menjadi sorotan utama film ini (bahkan diantar Carney melalui footage khusus di scene paling awal). Mengkisahkan Conor (Ferdia Walsh-Peelo) tersangkut pada keadaan keluarganya yang brokenhome secara ekonomi dan terpaksa harus mentransfer Conor ke sekolah bebas biaya bernama Synge Street (well it’s a clue !). Dan hari-harinya tak terlalu berkesan karena ia harus merasakan kekerasan murid sebaya yang tak ia harapkan. Barry (Ian Keny) adalah penganggu abadi Conor, yang lalu menuntunnya untuk berkenalan dengan Darren (Ben Carolan) yang beberapa menit kemudian keduanya memutuskan menjadi sahabat.

Sing Street sendiri adalah band cover amatir (dengan kartu nama tanpa nomor telepon) yang didirikan Conor dan Darren yang pada akhirnya merekrut beberapa personel penting satu sekolah seperti Eamon dan Ngig, yang sebenarnya lahir karena Conor ingin mengajak gadis bernama Raphina (Lucy Boynton) untuk berkenalan dan terpaksa juga secara sekonyong-konyong harus melantur bahwa ia membutuhkan seorang model untuk video klipnya. Terbentuklah band futuris (seperti kata Conor) yang perjalanannya dibawa John Carney ala coming-of-age movie yang fresh dan asik, terasa nostalgis dengan adegan-adegan dimana keenam personel Sing Street yang rutin latihan di rumah Eamon, atau adegan-adegan mereka harus syuting video klip yang so old-fashioned, juga termasuk adegan cool  duo Conor dan Eamon yang saling melengkapi ketika mereka tengah menulis dan menggubah lagu-lagu baru bernada Rock n’ Roll. Dipadu dengan balutan make up dan kostum mereka yang stylish tergantung mood lagu-lagu yang mereka garap. Conor dan kawan-kawan terlihat selalu merubah gaya rambut mereka dalam tiap periode pada scene di sekolah, termasuk style Conor ala David Bowie atau yang disebut Brother Baxter sebagai Ziggy Stardust (Brother Baxter adalah karakter di sekolahan yang juga benci dengan Conor).

Dengan basis durasi yang tidak terlalu panjang, John Carney tak mau mengambil resiko dengan tetap mempertahankan cerita episodik tentang karir Sing Street, Carney memutarnya, menawarkan romance sebagai embel-embel cerita sampingan pendukung. Hasilnya lumayan, kisah cinta monyet Conor dan Raphina harus mengalami naik turun (sebenarnya agak klise). Sayangnya, menurutku Carney terlalu melankolis untuk bagian ini, dan membuatnya menjadi pahit-manis yang cengeng. Jika saja tidak ada musik-musik di belakang adegan-adegan romansa ini, kujamin Sing Street adalah film romance yang sangat biasa dan hambar. Atau bahkan kadang bisa terasa sangat lama, membosankan dan berputar-putar. Film ini terlalu terpusat pada kisah cinta Conor, terlalu. Dan itu sebuah masalah menurutku. Contoh akibatnya adalah ketika lagu ‘Brown Shoes’ yang dinyanyikan Sing Street untuk menyindir kelakuan Brother Baxter yang semena-mena terhadap Conor kurang mengena karena background liriknya tidak terlalu terinspirasi dari adegan-adegan yang kuat sebelumnya.

Itu hanya kataku, dan kekecewaan film ini bukanlah hal mayor. Sing Street patut dibanggakan sebagai jebolan Sundance Film Festival dan toh kritik sangat mencintainya. 96% di Rottentomatoes dan melabelinya sebagai film dengan “hati yang besar” dan penuh optimisme. Aku setuju, Sing Street bergerak cepat dan kadang enerjik. Beberapa OST lagu film ini kujamin harus kau putar lagi, ada “The Riddle of The Model”, “Up” dan “Drive it like you stole it”  yang jadi favoritku. Entah mengapa Sing Street bisa menggelitik penontonnya untuk secara spontan membentuk band pula !.

Dengan tokoh-tokoh yang charming seperti kakak Conor, Brendan (Jack Reynor) dan si gila Barry yang juga memiliki character-twist yang menceriakan, komposisi Sing Street memuaskan. Tepuk tangan bagi John Carney sekali lagi, hal lain karena ia juga lebih memilih mengajak beberapa aktor lokal irish dalam memperkaya cast film ini.

3

Engineering student but movies way more than manufactures