Review – Sebelum Iblis Menjemput (2018)

2

Sebelum Iblis Menjemput semakin lama semakin memburuk. Bagaimana naasnya film ini mampu menghilangkan semangat menonton ketika filmnya bahkan belum selesai.

Sudah sangat-sangat lama bagiku untuk mencicipi film lokal lagi, apalagi jika karcis bioskop adalah bargain yang harus ditebus. Pesimis dan skeptis adalah kata-kata yang mungkin paling pantas untuk melumatkan film-film Indonesia dalam satu kesimpulan. Apalagi ketika itu adalah genre Horor.

Timo Tjahjanto punya reputasi, dia adalah sutradara yang telah bereksperimen lintas negara :  Di Killers (2014) ia mencoba melakukan infiltrasi dengan materi tentang Jepang. Ia juga berkontribusi sebagai penulis dan sutradara dalam salah satu segmen cerita dalam dua film horor populer V/H/S/ 2 dan The ABC’s of Death. Demikianpun, satu-satunya karya miliknya yang pernah aku cicipi adalah Macabre (2009), alias Rumah Dara.

Rumah Dara bukanlah film yang terlalu aku kagumi, namun karena sedang ada kesempatan untuk menjajalnya dalam layar lebar dan karena semua reputasinya itu, Sebelum Iblis Menjemput akhirnya menjadi pilihan.

Timo sepertinya sangat menyukai ciri khasnya, horor yang kurang bersih tak karuan atau boleh kusebut “Berani kotor itu baik”. Ada adegan muncratan darah dari mulut, hingga adegan-adegan yang mengharuskan bermandikan lumpur oleh Chelsea Islan dan Pevita Pearce yang sebenarnya memunculkan pertanyaan juga, apakah semua itu perlu ?.

Sebelum Iblis Menjemput menceritakan sebuah skema klasik film horor dengan budaya Indonesia. Pesugihan dan tumbal. Karena, apa lagi ?. Namun awalnya sungguh menjanjikan, prolog yang rapih dan menggugah. Tubuh seorang dukun yang terbang keatas, ritual yang berhasil dan menghasilkan lembar-lembar uang melayang sambil karakter Ray Sahetapy berbahagia dirinya kini menjadi kaya. Memberikan petunjuk bagi penontonnya bahwa itu adalah tanda yang tak baik.

Dan memang seluruhnya memiliki konsekuensi. Timo memberikan kisah timeskip lewat kliping-kliping berita, Lesmana (Ray Sahetapy), mendadak kaya raya, masuk dalam bisnis properti, lalu tiba-tiba bangkrut. Dan kita tahu, kisah tentang penebusan, telah dimulai.

Di pihak kita ada Alfie (Chelsea Islan), anak Lesmana. Namun kita tahu ia tak akur dengan sang ayah yang sekarang sedang sekarat dengan gejala tak lazim di rumah sakit. Alasannya mungkin klise, bahwa ia telah meninggalkan dirinya dan Ibunya, untuk wanita lain setelah ia kaya. Diperankan oleh Pevita Pearce, Samo Rafael, Hadijah Shahab dan aktris kawakan Karina Suwandhi, adalah keluarga tiri dari Alfie dengan Laksmi sebagai Ibu, Maya sebagai anak sulung, Ruben sebagai satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga dan Nara sebagai anak terakhir yang belum remaja. Mereka tak dekat, bahkan Alfie benar-benar tak menyukai mereka, baginya Laksmi dan anak-anaknya adalah pengrusak keutuhan keluarganya.

Seperti yang telah kubilang sebelumnya, Sebelum Iblis Menjemput tampak menjanjikan diawal. Secara teknis keseluruhan itu luar biasa. Hubungan antar karakter yang tak jelas sehingga memaksa pemirsa untuk mencari tahu sendiri, hingga unjuk gigi pertama tentang sisi horor filmnya yang harus kuapresiasi saat adegan di rumah sakit itu.

Namun entah mengapa filmnya semakin mengalami kemunduran demi kemunduran ketika seluruh setting berpindah ke vila diatas bukit. Dimana Alfie iseng kesana untuk bernostalgia dan kebetulan bertemu lagi dengan Laksmi dan anak-anaknya untuk mencari harta dan surat-surat yang mungkin masih tersimpan tertinggal. Di rumah ini dulunya adalah tempat ritual pesugihan itu berlangsung, dan kini ruangan yang bersangkutan itu telah dikunci rapat dan digembok. Dan mungkin, orang-orang kita ini telah membuat kesalahan besar dengan tidak menyikapinya secara bijak.

Salah satu alasan Rumah Dara tidak sebagus itu bagiku adalah betapa naifnya para karakternya. Dan Sebelum Iblis Menjemput juga memberikan itu, kau tau, ini kadang permasalahan film horor Indonesia, ketika suasana memburuk, common sense karakter-karakternya hilang. Penonton akan seringkali geregetan belum lagi kondisi luar biasa tak wajar ketika para tokoh kita ini akan begitu saja diam di tempat ketika ancaman datang atau membeku begitu saja ketika karakter lain sedang dalam bahaya.

Kita akan melihat banyak jump-scare yang awalnya efektif dan menakutkan, namun kelamaan membosankan (bahkan bisa jadi terkesan menggelikan). Lama kelamaan kita tahu apa yang akan terjadi. Make-up yang membentuk kreatur gaib difilm ini sebenarnya cukup membuat bergidik, tetapi akan berbeda cerita jika ia terlalu over-exposedSound mixing hingga sinematografi klasik yang mencoba mempermainkan gerakan kamera pelan-pelan untuk memunculkan setan yang sebelumnya tak ada disana. Tertebak.

Yang disayangkan lagi adalah pendalaman hubungan antar karakter yang nyatanya dangkal. Kukira hubungan tiri ini, atau asal usul kedengkian terhadap Lesmana akan diuraikan lebih jauh. Namun alih-alih Timo menyodorkan dialog-dialog intim yang tak berarti dan tak berguna. Ungkapan Alfie kepada Maya di rumah sakit, “Setelah semua yang terjadi, gue gak pernah anggep lo musuh”, hingga celetukan Maya di hutan, “Hidup gue gak seenak yang lo bayangin”. What do they speak that for ?, itu gak membangun apa apa.

Rasanya seperti, mau Alfie dengan orang-orang ini sodara tiri-an atau tidak, tak terlalu ada bedanya untuk pengembangan filmnya.

Aspek supranatural yang juga terlalu rumit, seperti tak jelas tentang apakah ini. Simbolik yang direngkuh terlalu banyak : ada rambut, kambing, petunjuk mengenai ‘menjadi hamba iblis’ hingga secara mengejutkan filmnya juga bermain dengan voodoo. Rasanya Lesmana tidak hanya telah melakukan kesalahan atas ini semua karena ia telah melanggar sesuatu. Aku kadang merasa kasihan betapa roh-roh jahat ini meminta terlalu banyak. Sebelum Iblis Menjemput sepertinya bukanlah tentang penebusan, perjanjian dengan iblis ini, jika mau ditelaah secara jangka panjang, tidak menjanjikan prospek yang bagus. Bung, kau tidak bisa disebut kaya dengan instan jika penyedia jasamu serakus itu. It’s a bad bad bargain at the very first place tho’.

Mencoba mengantarkan teka-teki penuh misteri, namun justru seluruhnya dikuak dengan cara yang tidak masuk akal. Pada akhirnya Alfie mengetahui tentang apa ini semua, bukan karena ia dengan teliti mencari tahu tentang bukti-bukti yang ada, namun dengan gampangnya ‘diperlihatkan’.

Sebagai penutup, aku akan membeberkan sedikit tentang filmnya yang cukup menggelikan. Berbeda dengan Rumah Dara yang memiliki banyak karakter, tak butuh untuk menyia-nyiakan durasi waktu untuk membunuh satu per satu tokoh yang ada karena memang banyak mangsa disana. Berbeda dengan Sebelum Iblis Menjemput yang memiliki karakter minim, sang iblis tentu saja tak boleh dengan cepat menuntaskan mereka semua. Gantinya, pada salah satu adegan dimana si iblis ini sebenarnya bisa mengakhiri hidup seluruh karakter yang ada, tiba-tiba ia berbelok dan terbang ke menuju hutan, tanpa penjelasan apapun. Haha.

 

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick