Review – Searching for Bobby Fischer (1993)

Heartwarming dan melampaui ekspektasi, Searching for Bobby Fischer seperti menelanjangi film-film semacamnya, menegaskan bahwa hidup tidak sebatas meraih mimpi, namun juga tidak tenggelam dalam kebanggaannya.

Searching for Bobby Fischer, meluncur pada 1993 dengan menghasilkan sesuatu yang tidak banyak (secara profit), produksinya memang terlihat sederhana, adaptasi buku biografi tulisan Fred Waitzkin yang menceritakan tentang kisah anaknya, Josh Waitzkin serta segala kehidupan caturnya, awal sang ayah mengetahui bakat Josh hingga sadar bahwa potensi Josh lebih jauh dari yang ia bayangkan. Nama Searching for Bobby Fischer sendiri diambil karena tidak lama sebelum saat itu, Amerika berbangga karena seorang bernama Bobby Fischer baru menjadi juara dunia catur, sesuatu yang tidak sering dan merupakan berita besar disana, beberapa waktu kemudian, Bobby Fischer menghilang dari publik entah kemana. Sejak saat itu setiap ahli catur selalu dijuluki Bobby Fischer baru, setidaknya demikian.

Tapi perlu digarisbawahi sekali lagi, film ini adalah suatu biographical movie, cerita Josh Waitzkin nyata sama halnya dengan footage-footage dari Bobby Fischer.

Membuat film tentang olahraga dan anak kecil disana bukan hal yang mudah, karena jelas, tidak ada dialog dewasa, dan seolah film-film macam ini mempunyai template akan sinopsisnya : ‘perjalanan dan perjuangan menjadi sang juara’, yang kau pasti sudah bisa menebak isinya, kehilangan kepercayaan diri dan datang motivasi, bangkit lagi dan menjadi juara, itulah yang kukatan membuat film seperti ini tidak mudah, tidak mudah jika ingin film-mu menjadi sesuatu yang benar-benar bernilai.

Tapi Steven Zaillian tidak senaif itu, ia sanggup menemukan kekuatan kisah adaptasinya, yang mana selain ceritanya, pesan esensialnya tepat sasaran, dibalut dengan cast yang sangat suit sebagai tontonan keluarga, tidak masalah bahwa Searching for Bobby Fischer mungkin terkesan seperti TV Movie. Joe Mantegna adalah antagonis di Baby’s Day Out namun ia bertindak sebagai Fred Waitzkin disini, ada Laurence Fishburne dan Ben Kingsley yang mampu memegang kendali film disaat Max Pomeranc memberikan performa yang sangat promising, kataku. Ia mampu menjiwai karakter Josh Waitzkin yang penuh kebimbangan, tidak lewat dialog, namun lebih banyak lewat ekspresi raut wajah.

Josh Waitzkin dilahirkan dengan anugrah yang megah, kemampuannya diluar batas melihat kebeliaannya. Orang-orang menyadarinya, ibunya membiarkannya mengasah kemampuannya dengan bermain bersama orang-orang jalanan ditaman kota, bertemu dengan kawan baru, jauh lebih tua, baik hati dan mengagumi bakat Josh, Vinnie (Fishburne) memberikan kedamaian diri sebagai seorang pemain catur. Tapi itu tidak cukup, ayah Josh mencarikan seorang pelatih untuknya, Bruce Pandolfini (Kingsley), mengajarkan Josh banyak tentang teori dan permainan mental, bagaimana ia harus bersikap kepada musuh-musuh caturnya, namun Pandolfini melarang Josh untuk bermain dengan orang-orang di taman kota, diri Josh yang dipersiapkan untuk berbagai kompetisi tidak akan cocok dengan permainan strategi milik Vinnie.

Darisanalah terlihat bagaimana plot Searching for Bobby Fischer tidak garing, sempat khawatir karena tidak ada sesuatu yang baru di film ini pada setengah babaknya hingga muncul seorang bocah satu tahun dibawah Josh, Jonathan Poe (Michael Nirenberg) dengan kemampuan catur yang sama hebatnya. Selanjutnya terlihat kapabilitas cerita film ini dalam menggaet emosimu, ini bukan tentang Josh yang harus berlatih lebih keras agar bisa mengalahkan Joe, lebih kompleks daripada itu, ingatlah bahwa ambition isn’t that greedy. Searching for Bobby Fischer jauh lebih bijak dari film-film macam seperti ini mampu tawarkan.

Bobby Fischer menghantui kita, mengapa ia hilang begitu saja setelah perjuangannya yang sekian lama itu. Dan Josh mengajari kita anugrah Tuhan tidak selalu harus dimanfaatkan dalam bentuk peraihan juara yang berturut-turut, bagaimana jika justru anugrah itulah yang akan membebanimu untuk menjadi orang yang sama sekali tidak menyakiti orang lain. Apakah ia bisa memenangkan suatu pertandingan tanpa mengalahkan orang lain, dan aku akan selalu mengingat ucapan Josh dikamarnya saat itu “Maybe it’s better not to be the best. Then you can lose and it’s OK”. 

Entah seberapa besar cobaan psikologis yang dialami Josh saat itu, bimbang namun tidak bisa berkehendak lebih, dan kau bisa merasakan itu.

Searching for Bobby Fischer adalah pelajaran dan juga tontonan berharga, mengingatkanku akan kutipan yang pernah kubaca entah darimana. ‘Kita berusaha menjadi protagonis dalam hidup kita, namun bagaimana jika itu menjadikan kita antagonis dari hidup orang lain’,

4

Engineering student but movies way more than manufactures