Review – Roma (2018)

3

Jika dimisalkan, Roma seperti bentuk cinta seorang pengembara yang pulang ke kampung halamannya. Dan Alfonso Cuarón menyampaikan cinta itu dengan sangat baik.

Alfonso Cuarón mahsyur lewat film-film yang menunjukan sisi kemanusiaan yang dibawakan melalui pengalam teatrikal yang baru. Sebut saja Gravity dan Children of Men. Keduanya film favoritku. Dan keduanya menunjukkan esensi “kehidupan” secara krusial dan membuatku terngiang setelahnya.

Kedua filmnya sebelumnya itu fiksi, dan semua tak bisa mengelak bahwa keduanya berhasil. Cuarón kini butuh peralihan bagi dirinya. Hasilnya, ia pulang untuk bercerita tentang kampung halamannya di Mexico City. Dan lagi-lagi suatu kisah humanis diantarkan.

Alfonso Cuarón bernostalgia dengan masa lalunya dan menanggalkannya pada kisah kehidupan yang sederhana seorang perempuan pembantu rumah tangga dan keluarga majikannya yang saling mengasihi. Darisana
Cuarón mengenang seluruhnya tentang masa kecil, gambaran hierarki sosial dan suasana politik kala itu.

Kehidupan tampaknya sangat sederhana dan seperti mengalir begitu saja bagi Cleo (Yalitza Aparicio). Ia pendiam dan ia adalah pembantu yang baik. Ia dicintai anak-anak majikannya dan akur akrab dengan Ibu majikannya. Tak terlalu merencanakan sesuatu kedepan, ia menikmati hari liburnya dengan menerima ajakan pria yang menyukai dirinya.

Roma berjalan lambat hingga satu jam kedepan, dan setelah itu, setelah kita telah cukup menginvestasikan perasaan kita pada karakter-karakter yang ada, Cuarón mulai memberikan drama yang cukup dahsyat lewat peristiwa monumental, lebih dari satu kali.

Keputusan menggarap ini dalam tona monokrom memberikan imaji yang jujur terhadap karakternya dan bisa membuat kita betul-betul fokus pada momen. Ya, Roma tidak menghibur dan filmnya jelas-jelas membosankan.
Cuarón hanya ingin menunjukkan, bahwa inilah potret kehidupan. Kau bisa mengharapkan banyak konflik atau penyelesaian yang cerdas dan skenario dramatis ketika kau mengikuti jalannya film; namun bagaimana jika itu ‘hanya’ kisah keseharian kehidupan seorang wanita dengan kemungkinan besar memiliki kehidupan yang tak menarik ?. Apa yang bisa kau harapkan ?.

Kau tak mendapatkan apa-apa, jawabannya, kecuali jika kau tak enggan mencoba menekuni dan mempelajari melihat dunia sebagaimana karakter karakter kita. Bilamana kau berhasil, aku yakin Roma akan terlihat seperti puisi yang syahdu dan mendalam secara personal.

Sinematografi simpel yang juga dieksekusi Cuarón menegaskan kesan realistis. Long-takes dengan perlahan memutar kepala kamera 180 derajat untuk menangkap momen sekitar; dari adegan perayaan Natal di ruang keluarga hingga adegan di pantai. Melalui itu, Cuarón berhasil mendapatkan keintiman yang hakiki.

Berbicara peluang, Roma yang telah menyabet penghargaan internasional itu, memiliki peluang terbuka untuk menggaet Best Picture. Namun satu pertanyaanku: walaupun tak bisa dipungkiri Roma adalah foreign movie yang bagus, apakah ia akan memiliki perhatian dan aklamasi yang sama andai saja bukan Alfonso Cuarón yang menggarapnya ?.

Or if I could say, was it because of the movie ? or because it was Cuarón that made the movie?

Engineering student but movies way more than manufactures