Review – Raw (2016)

Suguhan super-nasty yang terlalu banyak akan membuatmu terbiasa dengan film ini. Konsekuensinya justru kau bakal merasa bahwa itu adalah bumbu yang sedap, it is always fresh and deliciously gross.

Writer/Director perempuan asal Perancis, Julia Ducournau, lewat Petit Studio mempersembahkan long-feature pertamanya, Raw atau dalam bahasa Perancis ‘Grave’. Beberapa portal mendefinisikannya sebagai Horror ber-rating R dengan spesfikasi : containing aberrant behavior, bloody and grisly images, strong sexuality, nudity, language and drug use/partying dimana semuanya memang kental di film ini dan kebetulan, menjadi bumbu paling sedap terhadap apa yang ingin ditunjukkan oleh filmnya sebagai maksud utama. Raw bagaikan judulnya sendiri, ia mentah dan jika kau menontonnya, berarti kau pula akan memakannya. Mentah-mentah.

Krusial dalam studi, Ducournau menggagas cerita tentang eksperimen, suatu kelainan ekstrim yang sebelumnya mungkin, belum ada. Memerankan Garance Marillier, pemudi Perancis -yang sebelumnya pernah digandeng orang yang sama di film pendek bertajuk Junior), sebagai lakon utama kita, Justine, gadis yang mengalami kecanduan tak wajar terhadap daging ketika sang vegetarian dipaksa makan daging untuk pertama kali.

Justine dan sang kakak, Alexia (diperankan oleh Ella Rumpf) berhasil membawakan karakter yang bold dan daring. Masa orientasi mahasiswa yang menjijikkan dan tanpa sopan santun, diproyeksikan Ducournau lewat gambar vivid dan nuansa kampus nan surrealistic dan menghipnotis lewat permainan warna pucat, cahaya redup dan close-up hewan-hewan uji coba tergambarkan bagai mimpi buruk. Alexia tidak disana untuk membantu Justine menghindari itu semua, atau jujur saja, Alexia tak terlalu peduli bagaimana pendapat Justine, “kau harus menjalaninya”. Secara sinematik dan skala, Raw mungkin lebih pantas untuk berdiri di ranah arthouse, tapi tetap, jika saja ia memiliki kesempatan untuk lebih baik dalam urusan publikasi. Raw adalah bukti bahwa Ducournau mungkin adalah David Cronenberg atau David Lynch baru.

Dan walau filmnya akan memicu rasa mual diperut dan rasa kaget atas kelakuan-kelakuan tak lazim para karakternya, kualitas skenario Ducournau membuatnya menarik dinikmati, menimbulkan rasa penasaran untuk adegan selanjutnya, “apakah filmnya masih bisa lebih berdarah atau memualkan lagi ?.”, kau akan mengetahuinya sendiri, yang jelas, tiap sekuens adegannya memberikan kepekikan baru, selalu fresh and deliciously gross.

Sajian gory tahun lalu adalah salah satu highlight yang mungkin belum kita temukan lawannya pada tahun ini. Disgusting dan Disturbing, tetapi sang sutradara tak lupa untuk mengerucutkan semuanya pada satu poin, gagasan utama cerita yang ingin dikemukakan. Dieksekusi dengan sempurna dan betul-betul rapi, Raw dikonklusikan oleh satu final scene yang brutal dan membungkamkan.

Engineering student but movies way more than manufactures

4