Review – A Quiet Place (2018)

Movie title: A Quiet Place

Movie description: Sebuah keluarga dipaksa untuk hidup dalam kesunyian ketika sebuah kreatur memburu mereka lewat suara

Date published: 2018-04-03

Director(s): John Krasinski

Actor(s): John Krasinski, Emily Blunt,

Genre: Drama, Horror, Thriller

4.5

Dengan durasi 90 menitan, ini seperti menonton salah satu episode tengah The Walking Dead dengan serta merta : Kau tidak tahu tentang latar belakang ceritanya, konteksnya adalah apakah dengan segala ancaman-ancaman monster itu para lakon kita akan ‘make it’ hingga akhir ?.

Pergerakan film dengan tema apokalips mengantarkan suatu narasi imajinasi dengan set masa depan yang tak jauh-jauh. Di tahun 2020, kehidupan terancam punah akibat ketidaktahuan yang meluas, orang-orang hilang, atau memang diketahui mati dengan sangat cepat. Penyebabnya akan segera kau ketahui setelah diawal-awal, para karakter yang tersisa dan nampak bagai sole survivor di film ini mencoba bergerak-gerik, berpindah tempat, mengambil barang begitu pelan dan serba hati-hati dalam konteks apapun. Benar sekali, karena timbulnya suara adalah biang keroknya.

Kau harus tetap diam dan tak mengeluarkan suara apapun, seluruh alas kaki harus tertanggal, just make it as quite as possible. Itulah teknik dasar yang dilakukan oleh keluarga Abbott yang terdiri dari seorang ayah (John Krasinski), Ibu (Emily Blunt) dan ketiga anak yang mana seluruhnya belum bisa dikatakan sudah benar-benar dewasa. Mereka bertahan dengan mempelajari keadaan dan hidup sesuai prosedur. Bahasa isyarat jarak jauh mereka pelajari untuk berkomunikasi satu sama lain, hingga kantong berisikan pasir yang selalu sedia untuk mereka tumpahkan di setapak jalan baru yang akan mereka lalui, guna meredam suara. Selama yang mereka tahu, sebuah kreatur mengerikan bisa datang tiba-tiba akibat pancingan suara yang memicu. Dengan fisiologi yang dua kali lebih besar, mereka kadang terbentuk seperti laba-laba atau kalanjengking, dengan fisik atas seperti alien dalam franchise alien. Bedanya mereka buta, tapi tidak dengar pendengaran mereka yang super-tajam. Seperti apa yang coba dikampanyekan di trailer-nya : Mereka memburu lewat suara, dan mereka mampu bergerak hampir secepat kedipan. Sekali saja suara ternyaring akut, 10-15 kemudian kau mungkin tak ada lagi.

Kesunyian adalah kunci daripada film ini, dan suara adalah pemecahnya yang bisa datang secara tiba-tiba, mengejutkanmu seperti melarangmu terkantuk bagi audiens yang memang tak terlalu fanatik dengan film yang hampir tanpa dialog verbal. Efek kejut suara adalah perisa yang efektif, datang seperti jumpscare, menahan kita pada gelombang thrill yang dibawakan secara disiplin. Dan kedatangannya menandakan kecerobohan yang tak sengaja terjadi, awal dari malapetaka dan kecemasan baru bagi penonton yang berharap baik bagi tokoh-tokoh yang ada. Apakah mereka bisa bertahan ?.

Dishoot dalam tiga-puluh-enam-hari, A Quiet Place mengemban semesta yang misterius, tidak terlalu ada clue tentang ini itu, daerah pemukiman tiba-tiba saja sudah tergambarkan penuh debu dan tanpa penghuni. Mayoritas orang telah raib. Melihatnya cukup menggugah, mengingatkan banyak seri-seri berbasis apocalypse terdahulu yang mengatasnamakan zombi, atau makhluk menggigit lain yang berkedok menyebarkan virus menular. A Quiet Place berbeda, inventif dan pada satu sisi, lebih menarik daripada itu. Bagaimana set filmnya terasa sangat kecil, terfokus pada plafon karakter yang minim, dan segalanya tentang apa yang sesungguhnya sedang terjadi begitu tampak misterius. Bagi sebagian orang, mungkin film ini terlalu terkesan seperti kotak hitam, tapi bagiku, pengantaran kisahnya yang mendadak dan tanpa aba-aba menunjukkan kepercayaan diri para penggarap filmnya. A Quiet Place begitu meyakinkan tanpa hadir terlalu ambisius. Dengan durasi 90 menitan, ini seperti menonton salah satu episode tengah The Walking Dead dengan serta merta : Kau tidak tahu cerita sebelumnya yang membangun ini semua, konteksnya adalah apakah dengan segala ancaman-ancaman monster itu para lakon kita akan ‘make it’ hingga akhir ?.

John Krasinski akan menjadi sorotan dibelakang layar. Secara filmografi, sang istri, Emily Blunt memiliki kualitas yang lebih baik dan lebih laku untuk film-film lebih mahal (Sicario, Mary Poppins, Edge of Tomorrow). Disini mereka bergabung, menjadi seorang suami-istri pula (Blunt mengatakan ini bagaikan bermain role-play di rumah). Tapi kali ini sang suami mencoba berkehendak lebih (ia seperti “Untuk kali ini, akulah bintangnya Blunt !”.). Dan ini bukanlah Krasinski yang biasanya, yang terkenal dengan film daily casual drama atau sebagaimana ia lebih umum dikenal lewat sitcom-mockumentary The Office. Melihat napak tilasnya dan mengingat ini adalah momentum awalnya sebagai sutradara, tentu saja aku teringat Jordan Peele sang aktor comedy central yang tiba-tiba menggarap film thriller yang memenangkan naskah terbaik di Academy Awards, Get Out. Fenomena perpindahan haluan yang kontras, namun ayalnya seperti Peele yang masih bisa memasukkan unsur comedy di filmnya, Krasinksi di A Quiet Place juga mampu menumbuhkan senjata lain, yakni drama yang surprisingly emotional.

Usaha yang bagus dengan menggandeng Paramount. A Quiet Place rapih, sound mixing dan sound editing seluruhnya terasa, hadir dan menonjol untuk menguatkan tema narasinya. Sebuah horor berkelas dengan tema yang berani : strategi bertahan hidup, pregnansi, ladang jagung, dini hari dan naifnya anak kecil. Jangan lupakan adekan bathtub yang menegaskan semuanya. A Quiet Place mungkin selama sebagian besar waktu akan terbawakan sunyi, namun itu adalah racikan konsep dan plot yang akan membuat suasana hatimu terus bergejolak ramai, hingga akhir.

 

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick