Review – Portrait of a Lady on Fire (2019)

4.5

Potret wajah dalam seni lukis memiliki esensi krusial sebagai medium penyimpan kenangan di Portrait of a Lady on Fire

Bagi sebagian besar penggemar, film-film drama dengan kedalaman hubungan karakter yang terjelaskan secara implisit namun kuat bisa meninggalkan perasaan yang lebih mendalam saat pertama kali kita menontonnya. Mereka bilang karena kau akan mendapatkan pengalaman yang baru dan mentah, indera kita terkagum oleh ketidaktahuan akan itu sebelumnya.

Namun menurutku, justru hal itu akan bekerja jika sebaliknya, walaupun tidak selalu. Ketika kau memberikan film kesempatan kedua, atau lebih, kau kini tidak hanya menontonnya, atau dengan lugu menunggu terbawa jalan ceritanya. Namun kau kini lebih memperhatikan detilnya, memperhatikan bagaimana karakternya bertingkah, menganalisa emosi mereka. Bisa saja film yang ketika pertama kali kita tonton begitu bagus, tiba-tiba menjadi biasa saja kalau dipikir-pikir saat ditonton ulang. Namun bisa saja film yang ketika ditonton pertama kali tidak terlalu meninggalkan kesan, tiba-tiba memberikan gambaran lebih jelas, menunjukkan keindahannya, setelah ia ditonton ulang. Portrait of a Lady on Fire, adalah contoh untuk kasus kedua.

Karangan penulis-sutradara Céline Sciamma tentang romansa ini berkecimpung di teritori yang tak mudah sebenarnya, menggandeng tematik period drama dan terisolir oleh set yang sepi. Namun darisanalah idenya muncul, sebagai prolog yang kian mekar. Ketika Marianne (Noémie Merlant) datang ke sebuah pulau kecil di Britanny, Perancis, yang ia tahu ia hanya sedang bekerja. Ia ditugasi untuk melukis seorang putri bangsawan bernama Héloïse (Adèle Haenel), yang nantinya lukisan itu akan dikirimkan ke calon suami yang mempertimbangkan meminangnya di Milan, Italia.

Sekali lagi, ini adalah tematik yang tidak mudah. Namun sepertinya memang situasi inilah yang didambakan Sciamma sehingga cerita yang ia tulis bisa se-mujarab ini. Eksistensi lukisan, gaun mantua dengan warna kontras itu, dan pendaran lilin-lilin ketika petang justru menunjukkan kekuatan film ini.

Marianne disambut oleh pembantu tunggal rumah bangsawan itu, yang besar dan sunyi. Esoknya ia bertemu sang ibu bangsawan, bercerita, melakukan briefing. Pekerjaan yang akan ia lakoni dalam enam hari kedepan tidak akan mudah karena Héloïse sesungguhnya tidak ingin menikah. Situasinya semakin tak stabil karena sang kakak baru saja meninggal dalam kecelakaan dan menyebabkan Héloïse tidak diijinkan berjalan keluar rumah sendirian.

Dalam narasi sang Ibu, Marianne seolah merupakan orang yang dibayar untuk menemani, mengawasi Héloïse kala mencari udara luar ruangan, di pesisir dan tebing-tebing bibir pantai itu. Dan secara diam-diam, Marianne harus terus memperhatikan wajahnya, mengingatnya dan sedikit-sedikit menuangkannya dalam kanvas setelah sore hari mereka rehat pulang.

Melukis orang adalah pekerjaan sederhana bagi Marianne, namun metode seperti ini jelas tidak membuatnya jadi mudah lagi. Marianne harus mengingat, pandangan mereka tak jarang berpapasan akibatnya. Belum lagi Marianne juga harus membuat Héloïse tersenyum untuk membantu imajinasinya, menerapkan pose demikian dalam gambar. Ujung-ujungnya malah rasa empati yang ia dapat. Perlahan mengerti amarah tak tersuarakan Héloïse, Marianne benar-benar gelisah ketika ia mempelajari bahwa apa yang dia lakukan diam-diam hanya akan memperlancar hal yang tidak diinginkan Héloïse untuk terjadi.

Kembimbangan Marianne meletup, mengantarkan kita pada babak kedua dimana emosi dua tokoh sentral disini mulai bertaut. Tampak Sciamma mulai menseriusi perkembangan karakter disini dengan menuturkan sub-cerita. Yakni ketika sang pembantu, Sophie (Luàna Bajrami) mengaku bahwa ia hamil dan tak menginginkannya, Marianne dan Héloïse seksama membantunya, mumpung sang Ibu sedang melancong beberapa hari ke luar pulai. Ini nantinya mengantarkan kita pada adegan paling ikonik yang menginspirasi lukisan ‘Lukisan Perempuan yang Terbakar’ yang muncul di adegan paling awal filmnya.

Setelah adegan api unggun itu, filmnya memasuki babak baru lagi. Perjalanan pergolakan perasaan telah hampir sampai ujungnya. Kini emosinya tidak hanya meletup, namun meledak-ledak. Yang sebelumnya tak terutarakan kini terutarakan. Babak ini sangat indah hingga ia menjadi pahit ketika Marianne menyadari bahwa perasaannya telah mengambil alih, mengantarkannya pada suatu keinginan yang bertolak belakang dari tujuan awalnya ketika sebelumnya ia menghibur Héloïse dengan mengatakan bahwa Milan akan sangat baik bagi dirinya dan suaminya kelak.

Portrait of a Lady on Fire adalah salah satu film tentang cinta yang indah. Tidak digambarkan melalui dialog-dialog thoughtful yang menegaskan, namun melalui wajah-wajah yang mereka tatap satu sama lain, yang mereka lukis didalam halaman buku masing-masing sambil berucap, dengan begini aku bisa mengingatmu.

Satu hal lagi, permisalan hubungan mereka melalui cerita buku mitologi tentang Orpheus dan Eurydice yang mereka baca senja itu adalah simbolis yang masif pula. Di ceritanya, Orpheus pergi ke dunia bawah untuk menjemput arwah kekasihnya Eurydice. Dan arwah Eurydice telah diijinkan kembali, namun dengan satu syarat, dalam perjalanan Eurydice kembali, Orpheus tak boleh menengok kebelakang melihatnya. Namun ketika Eurydice hampir sampai, Orpheus tak bisa menahan rindunya, ia menengok kebelakang dan karena itu, Eurydice tertarik kembali ke alam bawah selamanya.

Sophie jengkel ketika ia mendengar ceritanya harus berakhir seperti itu, egois sekali Orpheus ini. Tapi Marianne menimpali, memberikan pandangannya, bahwa barangkali menengok kebelakang tidak mencerminkan keegoisan hasrat, barangkali itu sebuah keputusan, dan barangkali itulah yang diinginkan Eurydice pula. Dengan menengok kebelakang, Orpheus menatap Eurydice untuk terakhir kali, menyematkannya dalam memori untuk selamanya. Dia tahu ini semua salahnya untuk mencintai Eurydice sejak awal, namun dia tidak akan menyesali itu, dia akan terus mengingatnya.