Review – Perempuan Tanah Jahanam (2019)

1

Joko Anwar seperti kesusahan membimbing film ini. Bagus diawal, tapi kebingungan diakhir. Hingga ia harus mengakhirinya, dengan cara dipaksa.

Rasanya aneh untuk mengakui hal ini, tapi aku memiliki perasaan yang sangat asli. Adalah ketika aku merasa film Gundala sangat spesial namun kontradiktif ketika menonton film Perempuan Tanah Jahanam. Padahal keduanya adalah film Joko Anwar yang setelah ditelaah, mungkin keduanya pula dipresentasikan dengan sentuhan yang sama.

Coba kita bandingkan, keduanya dijejali dengan karakter-karakter yang disatu titik terlampau banyak tanpa eksplorasi kuat. Kedua filmnya kurang memiliki pendalaman yang diperlukan untuk masing-masing karakter utamanya. Dan keduanya disampaikan dengan cerita yang memadat dan agak berantakan menjelang akhir.

Namun aku masih pada pendapatku yang melihat Gundala sebagai sesuatu yang besar. Dan untuk menjegal standar ganda yang mungkin ada karena itu, aku ingin menyatakan bahwa setelah menonton Perempuan Tanah Jahanam, aku yakin bahwa kesukaanku pada film Gundala barangkali dipengaruhi subjektifitas yang kuat akan kebanggaan karya Superhero Indonesia yang baru nan berbeda, dan toleransiku untuk kualitas cerita pas-pas an yang dibawakannya.

Oke kita pinggirkan dulu Gundala, kemudian membahas tentang Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) dan bagaimana film ini jatuh mengecewakan bagiku.

Ya, filmnya jatuh mengecewakan. Kenapa jatuh?, karena awalnya sudah gemilang sebenarnya. Build-up awalnya keren, adegan Pintu Masuk Tol ketika karakter Tara Basro jantungan dihampiri orang nggak dikenal, dimana kondisinya sepi. Men, suspense ala Joko Anwar mengena banget disitu. Dan belum lagi adegan ketika karakter Tara Basro dan Marissa Anita ngobrol di WC pasar dengan pose bengal. Ada kalimat ‘njing’ sampai adegan Tara Basro melorotin celana. Gila. Lewat karakter mereka berdua di adegan ini, Joko Anwar mencoba memberikan karakter yang mendefinisikan ulang arti feminism menurut dia sendiri. Dan secara keseluruhan juga, filmnya hadir sebagai sesuatu yang nggak takut untuk tampil begitu.

Tara Basro sendiri memperankan Maya, seorang cewek yang hidup sendiri dan mandiri. Dia dengan sahabatnya, Dini (Marissa Anita) mencoba merintis bisnis kecil dengan jualan pakaian di pasar-pasar, setelah kehidupan menjadi petugas jalan tol nyatanya memuakkan. Ternyata tidak semulus itu, bisnis mereka justru terlihat tak menjanjikan. Kondisi ekonomi melilit mereka, dan pada suatu saat, karater yang didesain Joko Anwar sebagai wanita-wanita gak kenal takut ini mencoba peruntungan mereka dengan menelusuri potensi kekayaan yang dimiliki Maya, yakni rumah gede yang kemungkinan besar milik keluarganya di masa lalu.

Sialnya, rumahnya ada di desa yang benar-benar terpencil.

Tapi Maya dan Dini tidak takut, mereka berbekal kondisi yang sulit yang memaksa. Menjamah perjalanan yang panjang, dan harus menemukan delman yang tepat untuk bisa sampai ke desa yang tampaknya minim akses itu. Sesampainya disana, mereka menemui warga desa yang tampak betul-betul penuh misteri. Seperti menyembunyikan sesuatu. Walaupun sebetulnya mereka tahu ada yang tidak beres, mereka tetap pantang untuk pulang tanpa hasil.

Sejak ceritanya mulai mengalir ke bagian kedatangan Maya dan Dini di desa Harjosari, disitulah PTJ mengalami degradasi kualitas. Tiba-tiba materinya terasa challenging untuk Joko, momen yang ada dibawakan secara repetitif, tanda kehilangan kreatifitas di cerita bagaimana karakternya mencoba menemukan jawaban yang mereka cari; tentang rumah itu, dan tentang identitas asli Maya.

Dan apa yang terjadi dan yang dilakukan oleh orang-orang di filmnya, terasa nggak beralasan. Kelakuan-kelakuan yang membawa malapetaka di filmnya tidak didasari logika survival yang lebih masuk akal.

Ketika Maya dan Dini memutuskan langsung menginap di rumah kosong itu alih-alih ketemu warga sekitar dulu nggak beralasan. Adegan Dini yang justru teriak-teriak dikasihani alih-alih ngaku kalau dia bukan Rahayu (cewek yang sedang dicari-cari warga), nggak beralasan. Adegan final karakter Christine Hakim dan Ario Bayu diakhir film, apa lagi.

Unsur klenik Jawa yang dibawakan filmnya menandakan bahwa perfilman Indonesia sudah berani tampil di ranah cult dengan sentuhan lokal. Namun eksplorasi, praktek dan literatur yang dikembangkan di PTJ terhadap itu kadang masih ragu-ragu. Misalkan tentang jimat bertuliskan Jawa kuno yang dijelaskan oleh cameo Arswendi Bening Swara dengan seadanya. Terlepas itu, komitmen dan niat baik Joko Anwar dalam menghidupkan nuansa kultural yang tematik ini masih pantas disanjung. Semua orang di Harjosari menggunakan Bahasa Jawa, itu komitmen penting. Khususnya Asmara Abigail yang aktingnya mempesonakan lewat aksen medok.

Tapi ternyata memang Joko Anwar lebih membawa PTJ sebagai sebuah thriller, bukan horror hantu ala Pengabdi Setan. Kesannya jadi gak terlalu menyeramkan (walaupun beberapa orang bilang ini serem). PTJ dipenuhi fake jump-scare yang kalau dipikir-pikir oke juga. Dan tetap, permainan kamera dan pencahayaan merah merona ditambah asap-asap yang bikin pandangan samar bisa dibilang cukup sukses untuk bikin was-was.

Cukup dengan suasana. Kembali lagi ke cerita, filmnya seakan sempoyongan dalam menuturkan situasi dimana Maya tahu bahwa dia harus lari, dan ketika PTJ mencapai deadlock dalam fase ini, Joko Anwar memberikan kejutan dengan menyuguhkan resolusi yang nggak banget. Joko Anwar memberikan flashback yang cukup banyak untuk ngasih tahu, gini lo ceritanya. Dan flashback itu muncul bagaikan suatu ilham yang merasuk begitu saja ke alam bawah sadar Maya. What!?

Padahal infonya, Joko Anwar sudah merencanakan dan mengembangkan film ini bertahun-tahun (9 tahun kalo tidak salah). Tapi penyelesaian filmnya justru mengingatkanku dengan film-film hantu cetek Indonesia ala Danur atau apalah sebagainya, yang seperti diproduksi dengan skrip yang mendadak. Intinya konklusinya malas, dan asal-asalan. Dari sana langsung ill-feel, dan punya perasaan yang persis ketika menonton Sebelum Iblis Menjemput tahun lalu, ingin filmnya segera berakhir saja.

Di flashback itu, Joko Anwar memberi kisah tentang hubungan terlarang keluarga yang disampaikan buru-buru. Sampai-sampai orang yang barusan menonton film ini akan perlu waktu untuk memproses ulang apa yang coba disampaikan film ini. Bisa dibilang materi kilas balik tentang ‘ternyata begini begitu’ terasa brainy, tapi kalau menurutku, ribet.

Joko Anwar seperti kesusahan membimbing film ini. Bagus diawal, tapi kebingungan diakhir. Hingga ia harus mengakhirinya, dengan cara dipaksa.

Ide dengan keyword ‘kutukan’ sepertinya sudah melekat kuat dan disenangi Joko Anwar rasanya. Tapi mungkin akan lebih baik, bila dikesempatan mendatang, Joko Anwar coba sesuatu yang lain, deh.