Review – Pawn Sacrifice (2015)

3

Jika Searching for Bobby Fischer adalah drama keluarga tentang apa arti sesungguhnya seorang juara. Pawn Sacrifice, yang notabene mengangkat tokoh yang sama, sama sekali puluhan tingkat diatas itu. Film drama psikologi ini mungkin adalah versi mature-nya.

Garapan Edward Zwick tentang biographical docudrama seorang Grandmaster Chess, Bobby Fischer sudah tidak diragukan lagi , memiliki segalanya untuk terlihat menarik dan akan begitu menggugah untuk ditonton. Akan ada alternatif pendekatan cerita yang begitu banyak bagi Zwick ketika berbicara tentang hidup si tokoh berpengaruh pada tahun 60-an. Bagiku, film ini terasa lebih memuaskan lantaran ada sesuatu hal yang hilang ketika menonton Searching for Bobby Fischer dulu, yang ternyata bercerita bukan tentang Bobby Fischer, namun menunjukkan beberapa footage tentang Fischer si grandmaster catur termuda dan bagaimana ia tiba-tiba menghilang dari publik sebagai inspirasi sang tokoh utama, John Waitzkin. Dan di Pawn Sacrifice, aku mendapatkan jawabannya, seperti suatu bigger picture, kisah apa sebenarnya yang terjadi dibelakang sana, dan cukup menguntungkan jika kau tidak terlalu memahami sejarahnya lewat membaca artikel-artikel wikipedia.

Dan aku bisa menjamin, akan terasa jauh lebih bagus pula jika menonton keduanya (Pawn Sacrifice dan Searching for Bobby Fischer). Menemukan kemiripan antar tokoh utama dalam dua film ini, seperti hobi bermain catur dengan orang-orang jalanan di taman kota, mengejutkan orang-orang dengan kemampuan diatas rata-rata, menjadi sensasi, mengalahkan pelatihnya sendiri, dan terkenal. Ini membuatmu semakin menghargai kedua film ini, dan tidak langsung membantu sisi biografikal-nya sendiri. Mungkin John Waitzkin dari Searching for Bobby Fischer (SfBF) memang reinkarnasi dai Bobby Fischer sendiri.

Membahas Pawn Sacrifice, tidak seperti SfBF yang menceritakan kisah ajaib Waitzkin yang memukau semua orang yang begitu bertahap dan memakan waktu, Pawn Sacrifice tidak se-menginspirasi itu. Bahkan hanya butuh beberapa menit saja untuk film ini mengungkapkan Bobby Fischer sebagai Grandmaster termuda, lewat sintog bersih dengan frame-frame old school cepat, time-lapsing, menegaskan bahwa film ini tidak ingin terlalu berkutat disana, setelah itu kita tahu bahwa film Zwick bukanlah biografi bertemakan Sport.

Pawn Sacrifice sibuk membahas soal rivalitas Bobby Fischer (Tobby Maguire) dengan Boris Spassky (Liev Schreiber), dan begitu sering mengungkapkan bagaimana arogan, sombong dan besar kepalanya Bobby Fischer di usia 20-an nya saat itu dan ketidaksukaannya terhadap Rusia, komunis dan yahudi. Membangkitkan semangatnya untuk menghumilasi Rusia lewat adu catur. Namun tidak seperti yang Fischer harapkan, ia merasa dicurangi oleh federasi Rusia pada suatu turnamen dan mengatakan ia tidak akan bermain catur lagi karena tidak sudi dikalahkan dengan cara seperti itu. Waktu berlalu, Fischer bertemu seorang lawyer Paul Marshall (Michael Stuhlbarg) yang mampu menjaminnya jika ia mau kembali ke dunia catur, Fischer didampingi mentornya Bill Lombardy (Peter Saarsgaad), sekali lagi maju melawan Soviet, dan bertemu Spassky.

Kekelaman film ini juga ditunjukkan lewat pendekatan mental Fischer, yang sudah umum bahwa ia diketahui tidak terlalu waras di masa-masa tuanya. Tobey Maguire dengan cermat menggambarkan sifat keanehan psikis Fischer mulai dari mudah terganggu konsentasinya, dan menjadi emosional jika ia mendengar suara bising ketika bermain catur. Lalu sifat paranoidnya yang kadang-kadang tak masuk akal, membongkari telepon disetiap kamar hotel yang ia tiduri, khawatir telah disadap. Yah, mungkin keanehan Fischer-lah yang lebih berbicara akan jawaban mengapa ia sering ‘menghilang’. Hingga suatu saat Lombardy menyatakan bahwa ia sedang ketakutan dan kewalahan, ketika terus-menerus meminta persyaratan bertanding yang hari demi hari semakin konyol.

Dan ketika Paul mengatakan, “I think he’s afraid of what’s gonna happen if he loses.”, dan Lombardy menjawabnya “No, he’s afraid of what’s gonna happen if he wins.”, akupun berpikir, film ini benar-benar serius, luar biasa.

Sayangnya, seperti aku mengagumi film ini, kekurangannya pun terlihat tidak kalah jelas. Edward Zwick tidak mampu masuk ke konflik utama lebih dalam, seperti tema ‘chess’ yang dibawa apa adanya. Hal in mungkin bisa dimaafkan, namun agak keterlaluan ketika adegan ‘Grand Finale’ di akhir film yang menggambarkan pertandingan Fischer vs Spassky tidak dikupas Zwick lebih dalam lewat analisis pertandingan atau semacamnya, tiba-tiba berahir begitu saja. Begitu disayangkan karena pertandingan tersebut diketahui begitu bersejarah. Memang walaupun non-penggemar catur tidak mampu memahaminya, setidaknya aura intense lebih mampu dirasakan jika saja Zwick mau mengusahakan lebih, dan judul film ini sendiri mungkin akan lebih beralasan.

Maguire mungkin bisa mendalami kemarahan yang direpresentasikan Fischer, tapi sepertinya Zwick sudah miscast sejak awal. Maguire jauh dari gambaran fisik seorang Bobby Fischer asli, menurutku. Tobey, bukanlah seorang pecatur.

Apapun kekurangan yang ada, Pawn Sacrifice masih begitu bagus untuk dinikmati. Worth to watch, still. Garapan apik dengan begitu banyak footage tentang berita-berita tentang Fischer, hingga segala trending tahun 60-an. Begitu menarik jika membandingkan John Waitzkin dari Searching for Bobby Fischer dengan Bobby Fischer disini. Selain arogan dan sombong, Fischer tidak pernah menawarkan hasil seri.

3

Engineering student but movies way more than manufactures