Review – Paths of Glory (1957)

5

Stanley Kubrick  membedah kebobrokan perang, dimana internal kadang lebih mengerikan daripada medan perang itu sendiri. Bagaimana kesia-siaan perang tidak hanya digambarkan lewat banyaknya korban jiwa akan diingat sebagai narasi film ini, sepanjang masa.

Stanley Kubrick, sutradara kondang dengan sejarah filmografi yang eksentrik dan bersifat mengubah, tak pernah kusangka lebih luar biasa dari itu. Aku hanya ingat dirinya sebagai direktur film yang bisa memukaukan penonton lewat narasi visual-visual yang tajam seperti di 2001 : A Space Oddysey, A Clockwork Orange hingga Eyes Wides Shut. Tapi di Paths of Glory, berbeda, atau lebih dari itu.

Studi tentang karakter yang dikemas dalam nuansa perang, ini adalah kisah tentang melaksanakan perintah atau ragu-ragu tentang itu. Perspektif karakter yang disajikan Kubrick melapis menyesuaikan jabatan: Jenderal, Kolonel, Letnan hingga salah satu tentara dari resimen. Satu orang akan memberikan perintah yang tak akan mudah kebawahannya, dan ia harus mengestafetkan itu. Dan ternyata praktiknya tak pernah semudah itu.

Ini adalah tahun 1916, ketika Perancis menerus ditekan oleh Jerman pada Perang Dunia Pertama. Di kubu Perancis, Kolonel Dax (Kirk Douglas), diberikan mandat yang seperti tak mungkin ditolak dari Jendral Paul Mireau (George Macready) tentang mengambil alih Anthill, salah satu titik yang menurutnya krusial untuk direbut dari para Jerman. Realistis, Kolonel Dax mengatakan bahwa kemungkinan keberhasilannya akan sangat kecil dan korban jiwa massal tak akan bisa dihindari jika harus mengambil langkah demikian. Singkat kata, Dax harus tetap melakukan itu demi kepercayaan para Jenderal dan demi tentara-tentaranya.

Berjalan sesuai prediksi, Perancis mundur setelah turun tak terlalu lama di medan. Alasannya jelas, banyak korban yang berjatuhan akibat serangan telak dan progresnya tak menjanjikan. Tapi para Jenderal mungkin berpikiran lain, Dax dipanggil dan memberikannya tuduhan bahwa sebagian tentaranya telah menunjukkan sikap kepengecutan dan harus diberikan hukuman.

Kembali lagi tentang Kubrick, satu yang baru aku sadari adalah kemampuannya dalam menulis dialog, menciptakan konflik argumen dari dialog-dialog itu dan bagaimana tiap karakternya dibekali dialog-dialog penutup sebagai resolusi yang begitu khas dalam menggambarkan karakter dari tokoh-tokoh yang ada. Aku tidak terlalu ingat, tapi dialog yang ada di film ini seperti langsung terikat padaku, ia selalu menarik, selalu ada sub-permasalahan baru yang disuguhkan dan semuanya terlalu keren untuk menjadi kenyataan. Ini mungkin bodoh, tapi aku bersumpah Paths of Glory masih tetap bisa dinikmati walau hanya dari radio.

Berjudi dengan kepercayaan dan nyawa, Paths of Glory memiliki standar yang berbeda dalam menggambarkan situasi perang. Bukan tentang membunuh tentara musuh atau tentang ‘temani diriku ketika aku tertembak dan sekarat’. Ini sama sekali bukan film heroik atau horror yang digambarkan lewat ledakan yang mengocar-kacirkan tubuh. Paths of Glory masih terlalu dini dari tahap-tahap itu, alih-alih ia menyajikan permasalahan internal, apakah perang memang selalu disertai kerelaan para tentaranya, untuk mati berjuang ?. Rasanya tidak akan pernah bisa se-ideal itu.

Darah, atau rasa sakit akibat peluru bukanlah perwakilan dari ketakutan di film ini, itu adalah tekanan. Dan aku baru saja mempelajarinya bahwa ia bisa setega itu.

Filmnya melulu tawar menawar tentang nasib hingga titik kulminasi pada adegan court-martial yang ditutup dengan permohonan getir Kolonel Dax yang patut dilabeli sebagai one of greatest speech in movie history; fungsi jabatan betul-betul bisa beringas, ego satu orang saja bisa membutuhkan penebusan yang menyangkut orang banyak dan tak main-main.

Yang kita ketahui, paska perang hanya meninggalkan sejarah fisik, namun Paths of Glory (walaupun dia fiksi), seperti mengungkapkan banyak sesuatu yang tak terlihat dan mungkin benar adanya. Ada yang sampai hati, ada yang terpaksa, ada yang tak berkutik, ada yang menyimpan dendam, ada yang betul-betul pengecut, namun filmnya tetap pada harapan ketika nurani tak temaram masih ada disana bersama karakter Kirk Douglas.

Well, Paths of Glory entah bagaimana mengingatkanku pada kemubaziran perang. Merangkak diantara lubang-lubang medan hanya untuk menunggu giliran terbidik. Dan pesan berantai filmnya jauh lebih mengerikan lagi: Bagi para tentara, selama perang belum dimenangkan, entah kau nyaman di dalam parit atau sekarat di tengah medan, kau tidak benar-benar berhak untuk merasa aman.

 

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick