Review – Passengers (2016)

1.5

Alih-alih mengatakan bahwa Passengers  memiliki banyak hal untuk diperbaiki, film ini harusnya tidak direalisasikan dari awal.

re-passengers

Passengers, or : lets make Jennifer Lawrence and Chris Pratt kissing frequently as a real deal here, bagiku adalah kesalahan. Premisnya mengecewakan. Film ini memiliki banyak lubang, yang cukup banyak dan perlu diperbaiki. Tapi daripada menyebutnya begitu, aku menyesali keputusan produser untuk menggelontorkan dana hingga 110 juta dolar (sumber IMdB) dan entah apakah itu termasuk gaji Chris Pratt dan Jennifer Lawrence yang mencapai sekitar 32 juta dolar secara total (ini angka yang terlampui besar !), untuk menjadikan film ini. Passengers adalah produksi ill-conceived, seperti naskahnya tidak dikaji ulang, seperti tidak tahu bahwa ia memiliki cerita yang tidak perlu diceritakan.

Sinopsisnya terdengar intelek, adalah masa depan dimana bisnis travelling-spacecraft bukanlah hal yang sangat baru, tidak semua manusia tinggal di bumi lagi. Bagaikan migrasi kelas galaktik, planet-planet layak huni diluar sana adalah hal nyata, bagi manusia yang berduit, kau bisa meninggalkan bumi yang sudah kepadatan penduduk. Jim Preston (Chris Pratt) adalah salah satu pelanggan Spaceship Avalon, satu dari 5000 orang yang siap dipindahkan ke planet baru bernama Homestad II. Perjalanannya panjang, begitu pula konsekuesinya juga besar. 120 tahun perjalanan dibutuhkan, akibatnya, seluruh penumpang harus dihibernasi, hingga 4 bulan sebelum sampai tujuan mereka dibangunkan. Jadi, selama itu, penumpang dan awak, mereka tidur seluruhnya. Dan Jim tidak beruntung, ia tiba-tiba terjaga dan mengetahui bahwa ia bangun lebih cepat, tepatnya 90 tahun lebih awal. Ia tak bisa kembali berhibernasi, dan AI (Artificial Intelligence) yang terinstal di sepanjang fasilitas kapal tidak bisa membantunya sedikitpun. “Mengapa aku tak bisa hibernasi kembali”, tanya Jim, “tidak pernah terjadi malfungsi tabung hibernasi sebelumnya”, jawabnya. Oke bung, itu konyol dan tidak menjawab !.

Ada beberapa poin mengapa Passengers tidak keruan, kumulai dari sini.

Pertama adalah tawaran ceritanya. Mungkin memang ditujukan untuk mempersembahkan romance, dan eksekusinya bisa kukatakan cocok. Namun jika kau tahu bagaimana cerita Jim bisa bertemu dengan Aurora Lane (Jennifer Lawrence), Passengers bagiku berangkat dari suatu nafsu, desire, daripada cinta. Ini jelas hal berbeda. Dan bagiku pula, ini sangat mengiritasi. Setengah film lebih hanya berkutat pada chemistry keduanya. Mengulang scene-scene sebelumnya tentang ‘mengeksplorasi fasilitas kapal’ yang super Deja vu, termasuk adegan memukuli pintu ruang khusus yang terkunci dengan palu besar. Latar belakang film ini tidak menantang dan memang rentan stuck untuk urusan mengembangkan romance. Satu laki-laki dan satu perempuan terjebak berdua dalam suatu set besar yang serba lengkap termasuk lapangan basket, arena game virtual dan ruang makan malam megah, kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi, dan itu persis dengan apa yang diberikan oleh film ini nantinya. Tidak ada kejutan tentang kisah cintanya, bahkan ada satu turning point akan plot yang sudah tertebak (clue : ‘rahasia’).

Kedua adalah produksi yang tidak inventif, atau justru kemungkinan sedikit mencontek. Jim Preston awalnya hanya memiliki satu teman, sebuah android bartender bernama Arthur (Michael Sheen) di ruang – yang begitu persis dengan set ball-room Stanley Kubrick pada film The Shining. Kedua bartender ini sama-sama tidak nyata, dan melayani orang yang kesepian !. Apakah memang suatu parodi ?. Konsep ceritanya sendiri pasti juga tidak baru, tentang hunian baru, ah sangat tertebak. Desain set geladak yang mirip dengan 2001 : A Space Oddysey (lagi-lagi film Kubrick !), dan juga ada satu adegan similiar dengan film Gravity. Dan jika berbicara tentang sendirian di luar angkasa, aku jauh lebih menyarankan kau menonton film Moon. Passengers kurang cock jika ingin dibilang terinspirasi, filmnya diproduksi seperti tak mau ambil pusing saja.

Ketiga, plotholes. Lubang dimana-mana, tertinggal dengan tidak dijelaskan. Dan kikuknya, film ini seperti menunjukkan lubang itu sendiri lewat dialog-dialog serba penasaran karakter-karakternya. Maksudku, bagaimana bisa pesawat dibiarkan automobile selama hampir 120 tahun, tanpa pengawas !. Bagaimana mungkin tidak ada manual dalam men-set dirimu untuk hibernasi lagi. Bagaimana mungkin tidak ada antisipasi sama sekali terhadap suatu kegagalan sistem kapal ?.

Beberapa kejanggalan lain tidak akan kujelaskan karena terlalu berpotensi membocorkan ceritanya. Sampai disini dulu.

Lalu konfliknya baru datang pada sepertiga akhir film. Konflik apa ?, kapal Avalon mengalami kerusakan yang menyebabkan salah satu dari keduanya harus mempertaruhkan nyawa. Lihat kan, begitu murah dan cheesy. Dan naasnya, resolusi-resolusi film ini tambah membuatku semakin jengkel. Suatu kesimpulan yang sangat merefleksikan bahwa naskah Jon Spaihts begitu takut dan lebih memilih mencari permainan aman dengan cara kelewatan. Film ini terlalu banyak berkompromi untuk bagian-bagian akhir, bahkan ada adegan yang melanggar logika karena itu. Sekali lagi, kekecewaan.

Dengan kualitas dialog level stage play, Passengers tidak bisa berbuat lebih. Aku tak akan menyalahkan sang sutradara, Morten Tyldum (sebelumnya pernah menyutradarai The Imitation Game), karena dia hanya berkewajiban menyunting. Dan aku tidak terlalu kecewa terhadap Chris Pratt atau Jennifer Lawrance, akui saja, justru mereka yang memberi pesona, dan kupikir karakter mereka sudah menunjukkan tindakan yang realistis. Koneksi mereka berdua diselingi gaungan score Thomas Newman membuat beberapa momen Passengers berhasil. Yah katakanlah satu atau dua kali. Jika kau tak terlalu berharap, well, mungkin film dengan CGI kelas Ender’s Game ini tak akan masalah bagimu.

1-5

Engineering student but movies way more than manufactures