Review – Paddington (2014)

3.5

Aku sangat setuju dengan satu kalimat dari The Playlist untuk film ini : “Paddington is totally delightful.”

Paddington RE

Lewat karakter kreasi Michael Bond yang muncul pertama kali pada 1958, Paddington Bear sudah jadi langganan yang hadir dalam buku cerita dari masa ke masa, aku lebih suka mengenalnya sebagai The Living British Teddy Bear. 2014 kemarin, Paul King, dibantu dengan peran CGI, merealisasikan versi live-action nya ke layar kaca. Hasilnya, kini Paddington Bear tak hanya lagi terspesifikasi sebagai english folk-tales saja, ikon fiksi ini kurasa sudah menjadi favorit segala umur di seluruh dunia (tentu saja hanya bagi yang menontonnya) dalam urusan menghibur. Like the Japanese Godzilla, film Inggris ini mampu membantu Paddington Bear untuk mulai Go Internasional, yah katakanlah seperti itu.

Ceritanya adalah tentang seorang penjelajah asal London (yang tak ditunjukkan namanya diawal) yang melakukan ekspedisi nekat ke ‘Darkest Peru’ yang belum pernah terjamah. Di dalam hutan pedalaman Peru, ia bertemu dua beruang jenis spectacled, atau lebih mudah kusebut Peruvian Bear. Penjelajah ini memutuskan untuk berteman dan menghabiskan waktu ekspedisinya untuk melatih kedua beruang untuk berbicara bahasa inggris, mengajari beberapa keterampilan, dan membuat mereka jatuh cinta dengan marmalade (selai jeruk). Setelah tinggal beberapa lama, sang penjelajah pamit dan memberikan topi merah ekspedisinya kepada Pastuzo dan Lucy, dua beruang yang akhirnya ia namai sendiri.

Puluhan waktu berlalu, kita ditunjukkan visual pedalaman Peru yang sekarang, kini tempat tinggal Lucy dan Pastuzo tampak begitu sophisticated, so human-like, Lucy dan Pastuzo tua sedang merajut dan membaca koran !. Keponakan mereka, yang saat itu hanya punya nama dalam ‘bahasa beruang’ datang dan mengatakan pada paman Pastuzo bahwa sudah saatnya panen jeruk. Itu artinya musim produksi selai jeruk, satu-satunya hal yang mereka bertiga gilai. Awalan film dipenuhi dengan nada kegembiraan dan cukup enerjik, sampai akhirnya sesuatu yang tidak baik terjadi. Gempa bumi memaksa beruang ini kehilangan tempat tinggal, paman Pastuzo tewas, dan kini tinggal bibi Lucy dan keponakannya. Bibi Lucy memutuskan untuk mengantarkan keponakannya ke dermaga dan menaiki kapal untuk mencari ‘tempat tinggal’ dan ‘keluarga’ baru, sedangkan ia sendiri akan pergi ke panti jompo untuk beruang. Saat itu juga petualangan dimulai, sang keponakan, si beruang muda, melakukan perjalanan ke London, dimana ia sering dijanjikan akan disambut hangat disana.

Tidak seperti yang ia bayangkan, ia tidak disaabut satu orangpun dan orang-orang juga tidak memberi salam, berbeda dari yang ia tahu. Seharian ia hanya duduk dan menunggu di peron stasiun menunggu ada orang yang mau berbaik hati memberikannya tempat tinggal, sampai akhirnya keluarga Brown (suami istri dengan satu anak laki laki dan perempuan) mau untuk memberinya tempat tinggal untuk sementara waktu. Karena tak punya nama, Mary Brown (Sally Hawkins) sang istri memberikannya nama Paddington, sesuai nama stasiun dimana mereka bertemu.

Dari kerangka cerita, awal sampai akhir, perumusan dan permodelan ceritanya mengingatkan akan film-film Pixar. Mungkin memang sengaja begitu, membuat film ini tidak terlalu serius, ceritanya ringan dan predictable. Memang Paddington tidak terlihat sebagai film yang story-driven, karena jika saja naskahnya meracik konflik yang terlalu berbelit, Paddington bisa jatuh menjadi film yang tak bisa disukai segala umur lagi. Tetapi Paddington, yang kurasa selalu tampak sweet dan humorous mampu mengantar penontonnya ke ending yang kalian semua harapkan dengan cara yang menurutku begitu mengesankan dan membekas.

Paddington memiliki premis yang sungguh sederhana, semuanya hanyalah tentang mendapat keluarga baru, dan sang beruang harus berusaha agar dapat diterima dalam keluarga Brown. Perjalanan harian sang beruang di kota London selalu naik turun, kadang ia membuat bencana, kadang ia secara mengejutkan menjadi pahlawan. Keluarga Brown bingung, apakah Paddington harus diserahkan ke pihak berwajib, atau justru menerimanya untuk tinggal selamanya sebagai bagian dari keluarga. Sesimpel itu sebenarnya. But there’s always that villain. Yah menurutku, keberadaan Nicole Kidman sebagai Millicient yang berusaha menculik Paddington untuk menjadikannya koleksi hewat awetan hanya guna memperkaya unsur cerita saja dan formalitas dalam memenuhi kebutuhan antagonis sebuah film.

Yang paling memorable dan menjadi kunci kemanisan film ini terletak pada character building keluarga Brown sepanjang jalannya film. Khususnya untuk Henry Brown (Hugh Boneville) sang ayah, yang lewat banyak peristiwa mulai belajar menyukai dan simpatis terhadap Paddington berhubung dialah yang awalnya paling ogah untuk mengijinkan Paddington tinggal sementara di rumahnya dan melabelinya sebagai ‘hal yang membuat segalanya tidak aman’. Keberadaan keluarga Brown-lah yang membuat film ini hidup, Lewat suntingan artistik ala Wes Anderson, kita diperkenalkan dengan anggota keluarga Brown satu per satu, yang menurutku penting pula untuk urusan karakterisasi dan membuat semuanya lebih hidup.

Aku tak ragu untuk menyebut Paddington sebagai complete family movie. Maksudku, inilah film yang akan sangat suit, proper, accepted dan appreciated untuk ditonton diruang keluarga bersama seluruh isi rumah dengan teh dan biskuit. Satu film yang timeless, dan entahlah, sangat ‘pas’ dalam hal komposisi. Paddington tak mengusung film yang terlalu over-sentimental, namun tetap mempunyai momen-momen yang warm, dibalut dengan komedi, tingkah-tingkah yang silly baik sang antagonis maupun protagonis, dan british jokes dan scene referencing yang menurutku cerdas dan menggelitik, seperti ketika Paddington mencoba mereka ulang aksi Tom Cruise merayap di dinding gedung Burj Dubai pada Mission Impossible : Ghost Protocol. Paddington adalah introduksi tepat untuk membangun antisipasi film keduanya yang akan terbang 2017 nanti.

 

35

Engineering student but movies way more than manufactures