Review – Orphan (2009)

2

Orphan lebih cocok hadir sebagai film 70-an dalam mempromosikan slasher-themed movie dengan kemasan horrornya.

re orpan

Orphan cukup terkenal karena rasa klasiknya, atau justru mungkin ikonis karena menggadang formulasi klise yang merepresentasikan film-film dengan tone dan tense yang sama. Penuh darah, dan keji karena Orphan adalah panggung pertunjukan bagi sosok sosio-psikopatik, bedanya, film ini dibalut dengan aura horror yang lumayan rapi.

Subjek film ini adalah set keluarga tentram suami istri dengan dua anak, diperankan oleh Araya Engineer dan Jimmy Bennet sebagai kakak adik acuh tak acuh. Peter Sarsgaard memerankan ayah (John) yang skeptis dan cenderung kurang open-minded. Sementara Vera Farmiga adalah ibu (Kate) sekaligus main woman kita disini. Berawal dari insiden kematian anak ketiga mereka yang masih berada dalam kandungan, Sejak itu, Kate dan John berinisiatif mencari pengganti anggota keluarga baru lewat mengadopsi anak yatim piatu dari panti asuhan. Praktis, mereka bertemu dengan anak sembilan tahun bernama Esther (Isabelle Fuhrman), sangat amat cerdas dan talented, lebih utamanya, ia adalah anak yang tahu sopan santun. Tidak ambil pusing, Kate-John yang merasa cocok dan merasa bahwa Esther begitu terbuka pada mereka, mengadopsinya sebagai anak.

Dan Spoiler Alert !, Esther is the villain !. Well, lagipula kau pasti tahu dan sudah menduganya lewat tatapan kosong karakter ini di poster. Dan dengan mempertimbangkan semua elemen film ini, rasanya Orphan lebih cocok disebut sebagai adult horror, karena sepanjang alur cerita, isu-isu terbentuk dari keberadaan karakter Farmiga dan Sarsgaard dan tak jarang menyinggung permasalahan marriage mereka. Peran anak-anak mereka juga sangat minim, tidak terlalu memberi pengaruh, tentu saja mereka adalah hiasan bagi cerita, hiasan yang terancam, terancam oleh siapa, kau pasti juga tahu.

Harus diakui, Orphan mungkin ambisius, dan atmosfir thriller nya juga lumayan efektif, horor psikologinya adam, namun jatuh membosankan, karena polanya ketahuan. Pun Orphan tidak memberikan sensasi atau tantangan bagi penontonnya, mereka hanya dipaksa untuk kuatir bahwa keadaan akan memburuk, dan memang setiap scene selalu menawarkan kemerindingan baru, dimana semuanya memang tidak bertambak baik. Situasi yang tidak mungkin dan karakterisasi dangkalnya terlalu kentara, Sang ibu, Kate adalah korban. Pasalnya, tidak ada yang percaya bahwa Esther-lah biang kerok seluruh kecelakaan dan insiden yang terus terjadi diseluruh film. Alih-alih merasa empatis dan emosional, ini justru membuat penonton frustrasi, semuanya makin tidak masuk akal.

Ketika tidak ada karakter yang mengambil langkah rasional seperti setidaknya memasang kamera tersembunyi atau perekam suara untuk menangkap basah atau apapun itu, maka aku tahu bahwa Orphan adalah bloody killing-spree movie.

Mencapai klimaks, yah mungkin sentuhan twist plot-nya cukup brainy. Pengungkapan kebenaran yang cukup mengejutkan, walaupun sebenarnya juga sangat telat dan tidak membantu sama sekali. Tidak, bahkan pengungkapan ‘rahasia Esther’ yang akhirnya terungkap-pun juga sudah ketahuan olehku, Sutradara Jaume Collet-Serra terlalu memberikan clue lewat sikap dan sifat karakternya. Semuanya kentara. Seperti deja vu setelah melihat film ini, mungkin karena sudah umum, satu-satunya spoiler yang bisa ditanyakan dari film ini adalah : Apakah semuanya akan mati, atau masih ada yang hidup ?, sedangkal itu,

Oke-oke, toh memang film ini tidak memiliki cerita yang pure, begitupun Orphan sempat menakutiku lewat adegan paling awal tentang mimpi buruk Kate yang gila dan cukup disturbing. Dan mari beri tepuk tangan untuk Isabelle Fuhrman yang menyempatkan mempelajari karakter Hannibal Lecter di Silence of the Lambs. Dan hasilnya cukup memukau, Esther adalah karakter berdarah dingin yang bermuka dua, pura-pura polos dan mengancam di belakang. Namun Isabelle, karaktermu tidak akan bisa diingat seperti Hannibal, bahkan filmmu tidak sebesar itu.

2

Loves movie of Christopher Nolan, Wes Anderson, Alexander Payne, Quentin Tarantino, and Spike Jonze, also Stanley Kubrick