Review – Nomadland (2020)

5

Nomadland adalah film sederhana yang telah berbuat banyak. Ini adalah tribute, memorabilia dan surat dukungan bagi siapa saja yang sedang berjuang sendiri dan butuh kata-kata semangat bahwa semuanya baik-baik saja.

Sudah cukup lama sejak aku menulis sebuah resensi film, dan walaupun sebenarnya cukup banyak film yang telah kutonton sejak itu, dan cukup banyak pula yang mungkin sayang jika tidak diulas, ada satu film yang benar-benar akan terasa tidak adil jika kau tak menapakkan kesan tulisan kepadanya. Dan film itu adalah Nomadland.

Nomadland menceritakan sebuah wanita pekerja yang sudah di awal hari tuanya bernama Fern (Frances McDormand) yang pada musim dingin 2011 harus meninggalkan rumahnya di kawasan relatif terisolir di Empire, Nevada, setelah jantung ekonomi wilayah itu, sebuah pabrik manufaktur material besar gulung tikar. Saking besarnya dampak penutupan itu, kode ZIP wilayah Empire tidak diteruskan. Secara teknis, daerah ini sudah mati sejak saat itu, dan warga kecilnya ikut pergi meninggalkan rumah-rumah mereka terbengkalai berjejer seakan seperti kota hantu.

Fern mempersiapkan diri dengan membawa apa-apa yang ia miliki kedalam Van, pekerjaan yang telah lama memberinya makan sudah pergi, dan ia baru saja ditinggal suaminya mati. Dengan demikian, Fern kini sudah bukan seorang Empire lagi, ia adalah milik jalanan, dan sebaliknya.

Dan dengan demikian pula, Fern memutuskan menjadi satu dari pengembara modern. Mereka adalah para Nomad, atau dalam bahasa Indonesia lebih familiar apabila kau memahaminya dari kata Nomaden, alias tidak memiliki tempat tinggal yang tetap. Fern menjemput lapangan pekerjaan musiman sementara baru di pabrik Amazon, dan ketika pekerjaannya sudah tak membutuhkannya lagi, ia mengembara lagi, menjemput apa yang bisa ia kerjakan dan mendapat uang dari sana. Aku butuh kerja, aku suka kerja, katanya ketika disarankan sebaiknya ia pensiun dini saja.

Frances McDormand infonya, demi penggarapan film ini, rela beradaptasi hidup di dalam Van, dan menyatu diluar sana, untuk 3-4 bulan. Ditambah pemeran-pemeran pendukung di dalam film ini adalah Nomad asli dalam dunia nyata, yang diceritakan bertemu dengan Fern di tengah jalan dan berkawan, menggambarkan esensi yang sejati seorang Nomad. Swankie, Linda May, Gay DeForest adalah beberapa Nomad veteran yang merupakan karakter di film ini, mereka menggunakan nama asli mereka pula.

Ditambah dengan kemunculan Bob Wells, seorang Nomad dan juga influencer penting bagi kalangan orang berumah kendaraan ini, Nomadland terasa spesial bagi komunitas ini. Selain membuat filmnya akurat dalam menggambarkan keadaannya, film ini juga terasa nyata. Beberapa momen tampak seperti footage dokumenter mungkin.

Selalu saja film yang mencoba mengungkapkan sisi humanis dari kelompok marginal memiliki caranya sendiri untuk terasa mengena. Dan pesan yang diantarkan Nomadland menyatakan beberapa poin yang bisa mewakili kelompok marjinal dalam konteks lebih universal. Pesannya tidak sesempit khusus untuk pengembara-pengembara ini saja.

Pertama adalah, mereka tidak membutuhkan belas kasihan. Itu terlihat sekali ketika Fern menegaskan bahwa dia bukan seorang homeless tapi hanya sekedar houseless, dan itu tidak membuat keadaan lebih buruk bagi dirinya ketimbang orang-orang berumah pada umumnya. Terlihat juga ketika Fern bersikeras bahwa ia akan tetap membayar hutangnya walaupun sang adik sudah mengatakan bahwa itu tak perlu.

Kedua adalah, mereka menjadi diri mereka adalah pilihan mereka sendiri. Melihat seseorang yang berbeda dengan kita, kadang kita selalu berpikir cara terbaik adalah dengan mencoba merubah mereka menjadi seperti kita, dan tak berbeda lagi. Padahal umumnya itu bukanlah solusi, sebagian dari kita masih tak paham bahwa some people just can’t change. Setelah mendapatkan dua kesempatan besar untuk dapat tinggal dirumah yang layak dan dengan jaminan kehidupan yang layak kembali, Fern memutuskan untuk meninggalkan itu, dan kembali ke jalanan.

Ketiga adalah, mereka selalu berusaha dan menunjukkan bahwa mereka adalah masing-masing individu yang mandiri, dan menguat dengan mencintai golongannya. Fern memilih untuk tidur di dalam Van ketika dingin menusuk, bekerja shift malam di site pertambangan dan mungkin, mungkin ia tak mengeluh karena paham betul ia tak sendirian. Dan kupikir, itu adalah kurang lebih mindset yang dibutuhkan dan telah ditanamkan oleh orang-orang yang merasa ia berbeda sehingga mereka bisa bertahan hingga kini.

Tidak hanya mendalam dalam menceritakan tematik Nomad, film ini juga apik dengan mencoba personal dengan karakter Fern, dan cara ia mengemasnya. Debut yang brilian dari sutradara wanita Asia Chloé Zhao, tidak bisa dipungkiri ini adalah salah satu debut terbaik dari seorang sutradara di dalam industri ini. Arahan suntingannya, sinematografi yang dia realisasikan, dan editing yang ia bubuhkan disini tidak menunjukkan sebuah eksperimen seorang amatir yang sukses dengan suatu teknik/rasa/gaya baru, namun lebih terasa seperti ia sudah sangat berpengalaman dalam hal-hal ini. Kompetensi Chloé seakan menunjukkan bahwa ia bukan orang baru di film.

Tracking Shot yang diberikan Chloé, dan memadukannya dengan monolog ketika Fern mengingat puisi hari pernikahannya sekejap mengingatkan nuansa Terrence Malick yang kental dan efektif. Sangat indah dan menyentuh.

Walaupun Fern mendapatkan sebuah pesan dari karakter Bob Wells mengenai optimisme pada hal kedepan di satu bagian menjelang akhir di film ini, Nomadland keseluruhan lebih tampak bagaimana Fern merangkul apa yang ada pada dirinya di belakang, di masa lalu.

Dengan merangkul, maksudnya lebih kearah mensyukuri apa yang telah berlalu. Berada di kenyataan serabutan sekarang, Fern tahu bahwa masa-masa hidup indahnya sudah terlewati. Kini dia tidak lebih dari seorang biasa yang mencoba bertahan. Ketika ia sedih, ia hanya akan mengingat. Seperti katanya, hidupnya mungkin terlalu banyak untuk mengingat.

Nomadland adalah film sederhana yang telah berbuat banyak. Ini adalah tribute, memorabilia dan surat dukungan bagi siapa saja yang sedang berjuang sendiri dan butuh kata-kata semangat bahwa semuanya baik-baik saja. Lewat Fern, kita tahu semua itu tidak mudah, kita tahu bahwa dia masih berjuang memproses duka yang tak pernah dia ucapkan itu. Kita tahu bahwa Fern telah melalui kehilangan, ditinggal pergi atau mati, namun ia tak masalah, ia akan menghibur diri, kembali ke sesuatu yang telah ia kuasai: melihat kebelakang dan mengingat. Seperti apa yang pernah ayahnya katakan padanya dulu: Karena apa yang masih kau ingat dipikiran, akan tetap hidup.